Puluhan Personel Polda Kalsel Amankan Distribusi Vaksin ke Setiap Daerah Kadinkes Banjarmasin Covid-19, Sekretaris Gantikan Lurah Pemurus BREAKING NEWS! Calon Wakil Wali Kota Balikpapan Terpilih Meninggal Terpapar Covid-19 Akhirnya, 2BHD Beber Pelanggaran TSM Pilbup Kotabaru dalam Sidang MK Di Tengah Kondisi Banjir, Pemprov Kalsel Tak Tunda Vaksinasi Tahap 2

Keinginan Pemkab HST Bongkar Jamban Terbentur Budaya Warga

- Apahabar.com Kamis, 2 Mei 2019 - 22:14 WIB

Keinginan Pemkab HST Bongkar Jamban Terbentur Budaya Warga

Salah satu jamban yang ada di sungai Hulu Sungai Tengah. Foto-apahabar.com/Ahc11.

apahabar.com, BARABAI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Hulu Sungai Tengah (HST) siap membongkar jamban (tempat buang air besar/kecil, red) yang berada di aliran sungai Hantakan dan Batang Alai. Sekali pun pada pelaksanaannya ada yang mengkritik.

Rencananya pembongkaran tersebut dilakukan Jumat (03/05/2019) pagi. “Tahap pertama dari Jalan Perintis Kemerdekaan (belakang rumah dinas bupati) sampai Jembatan Sulaha.

Hanya jambannya yang kita bersihkan, lantingnya tidak,” kata Bupati HST, Drs Chairansyah saat ditemui di Pendopo selepas pelantikan pejabat eselon II, Kamis (2/5) sore.

Ia mengakui kendala dihadapi yakni budaya warga yang terbiasa menggunakan jamban, karena selama ini dianggap lebih praktis. “Kita sosialisasikan, agar budaya dan kebiasaan masyarakat hidup sehat. Kita berikan solusi, kita buatkan fasilitas umum di atas wc,” papar Chairansyah.

Baca Juga: Elpiji 3 Kg Langka Lagi di Banjarbaru !

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan, Muhammad Yani mengatakan, tujuan sterilisasi jamban dari sungai untuk mencegah penyakit kolera, disentris dan hal lainnya.

Ia mengasumsikan berapa bakteri yang terendap di bawah jika di pakai setiap hari.
“Jika ada 1000 jamban dipakai oleh 10 orang se hari, maka 10.000 orang yang memakai jamban. (Padahal) 1 gram kotoran itu ada sekitar 2000 e coli (bakteri). Jadi 1 orang menghasilkan 200 gram e coli, maka hampir 1 miliar e coli masuk ke sungai,” urai Yani.

Namun, kata Yani, jika debit air tinggi itu tidak masalah. Namun jika sebaliknya, maka dampaknya yang dikhawatirkan. “Tapi kalau sudah di atas 2000-3000 ppm maka itu penyakit,” sebut Yani.

Lantas bagaimana tanggapan warga? Utuh misalnya. Ia tida ada masalah dengan pembongkaran jamban dekat kediamannya. Namun menurutnya, kalau ingin melakukan pemberishan harus dari daerah atas.

“Lebih baiknya dari atas lah, di hulu sungai itu kan banyak jambannya. Mengapa tidak dari sana,” saran Utuh saat ditemui apahabar.com.

Baca Juga: Pergeseran Pejabat Eselon II di HST, Begini Kata Bupati

Reporter: Ahc 11
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Editor: Amrullah - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

2020 Jalan Bebas Hambatan Banjarbaru-Batulicin Bisa Dilewati, Dewan Pesimistis Gunakan APBN
apahabar.com

Kalsel

Hari Santri Nasional: Lapas Amuntai Bakal Jadi Percontohan
apahabar.com

Kalsel

Kalsel Hujan Lagi, 4 Kabupaten/kota Disertai Petir
apahabar.com

Kalsel

Penghapusan Bukan Pepesan Kosong, Banjarbaru Juga Sulit Angkat Honorer
apahabar.com

Kalsel

Pendaftar Terakhir, Berry Maju Pilkada HST 2020
Banjir Kalsel

Kalsel

Mahasiswa Hindu Kalsel: Kerusakan Ekologi Perparah Banjir
apahabar.com

Kalsel

Kodim 1004 Kotabaru-Tim Gabungan Gerak Cepat Bantu Korban Kebakaran di Patmaraga
apahabar.com

Kalsel

BPJS Cover Pasien Covid-19 di Banjarmasin
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com