Tim Macan Kalsel Gerebek Wanita Buronan Kasus Penggelapan Kapal Indef: Setahun Jokowi-Ma’ruf Amin ULN Melonjak, Setiap Penduduk Warisi Utang Rp 20,5 juta Demo di Pelaihari Berbuntut Laporan Polisi, Sekda Tala Minta Maaf Harga Tiket Bioskop XXI Duta Mall Banjarmasin Turun, Simak Daftar Lengkapnya Kedai Terapung, Unggulan Wisata Baru di Barito Kuala

Ketua MUI Tapin: Jangan Lupakan Esensi Idul Fitri

- Apahabar.com Sabtu, 25 Mei 2019 - 21:07 WIB

Ketua MUI Tapin: Jangan Lupakan Esensi Idul Fitri

Ketua MUI Tapin KH Hamdani. Foto – apahabar.com/Muhammad Fauzi Fadilah

apahabar.com, RANTAU – Hari Raya Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi umat Islam yang telah melaksanakan puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan suci dan menjadikan diri kembali fitrah seperti bayi yang baru dilahirkan, demikian dikatakan KH Hamdani Ketua Majelis Ulama Islam (MUI) Kabupaten Tapin.

“Tentang bagaimana kita sebagai umat muslim memperingati Idul Fitri. Dimana puasa ini merupakan latihan bagi umat islam untuk menjaga hatinya, lisannya, pikirannya dan seluruh anggota tubuhnya,” katanya.

Menurutnya, pada malam dalam rangka menyambut Idul Fitri itu adalah malam yang mustajabah (istimewa), malam hari raya itu malam yang paling baik digunakan untuk beribadah kepada Allah SWT untuk menyampaikan doa dan segala hajat.

“Malam hari raya itu malam yang sangat baik untuk beribadah, jangan kita nodai dengan hura-hura yang merugikan dan mubazir,” ujarnya kepada apahabar.com saat bertandang ke rumahnya, belum lama ini.

Menanggapi fenomena yang terjadi di sebagian kalangan masyarakat yang memperingati malam hari raya dengan hiburan. Hura-hura misalnya pesta kembang api atau petasan dan hal yang bersifat mubazir yang tidak mengarah pada ajaran kebaikan dalam Islam.

“Jangan lah kita lupakan esinsi (Hakikat) malam hari raya dengan melakukan kegiatan yang tidak sepatutnya dikerjakan umat muslim,” ucapnya.

Seharusnya, kata KH Hamdani, malam yang diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk berdoa menyampaikan hajat.

“Harusnya kita pada malam itu mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan malah sebaliknya,” katanya.

Menurutnya, setelah puasa insan menjadi bersih dalam artian hati menjadi qalbun salim (Kalbu yang bersih) dan nafsu menjadi nafsu mutmainnah (Jiwa yang telah mendapatkan ketenangan).

“Maka dengan dua itulah kita kembali kepada fitrahnya,” tutupnya.

Baca Juga: Siapakah Muslim yang Boleh tidak Berpuasa Ramadan?

Baca Juga: 5 Hal yang Dianjurkan ketika Berpuasa 

Reporter: AHC05
Editor: Aprianoor

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Religi

Inilah Dua Waktu Mustajab Doa di Hari Jumat

Habar

Selain Sanna Khan, Ini 7 ‘Artis Bollywood’ yang Masuk Islam
apahabar.com

Kalsel

Kabar Duka, Ulama Sepuh HSS Guru Pahampangan Tutup Usia
apahabar.com

Habar

Ied Adha Tanpa Sebaran Covid-19, Patuhi Protokol Kesehatan
Rest Area Jemaah Haul ke 15 Guru Sekumpul di Tanbu, Isi Bensin R2 Gratis

Habar

Rest Area Jemaah Haul ke 15 Guru Sekumpul di Tanbu, Isi Bensin R2 Gratis
apahabar.com

Hikmah

Imam Al Ghazali Sebut 7 Anggota Badan yang Harus Dijaga
Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan pada 24 April, Lebaran 24 Mei 2020

Habar

Simak Fatwa Muhammadiyah Soal Salat Tenaga Medis Covid-19
apahabar.com

Habar

Live Streaming Perdana Pengajian Guru Bakhiet via YouTube
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com