Blak-blakan Walhi Soal Biang Kerok Banjir Kalsel BREAKING NEWS: Usai Pasukan Katak, Giliran Paskhas Mendarat di Kalsel Meletus! Gunung Semeru Luncurkan Awan Panas Sejauh 4,5 Kilometer Edan! 2 Pria Pembawa Sabu 11 Kg Tertangkap di Duta Mall Licin, Bos Travelindo Terduga Penipu Jemaah DPO Sejak Tahun Lalu

Masjid Sabilal Muhtadin, Bertahan Menjadi Masjid Percontohan

- Apahabar.com Rabu, 15 Mei 2019 - 10:00 WIB

Masjid Sabilal Muhtadin, Bertahan Menjadi Masjid Percontohan

Masjid Raya Sabilal Muhtadin dari ketinggian. Foto-pinterest

apahabar.com, BANJARMASIN – Menjadi masjid terbesar di Banjarmasin, Mesjid Raya Sabilal Muhtadin awalnya didesain menjadi Mesjid provinsi, sehingga menjadi contoh atau acuan bagi Mesjid-mesjid lain.

Kepada apahabar.com, Ketua Badan Pengelola Mesjid Raya Sabilal Muhtadin, H Darul Qutni memberikan penjelasan mengenai sejarah singkat Masjid tersebut.

Baca Juga: Inilah Masjid Terkecil di Kalimantan Selatan

Bangunan yang berdiri sejak tahun 1981 ini, dilengkapi dengan infrastruktur yang lengkap, luas tanah lebih dari 10 hektare, serta didukung dengan banyaknya aktifitas.

“Visi kita menjadikan Mesjid ini sebagai pusat kegiatan umat,” terangnya

Menjadi Masjid percontohan, pusat kegiatan dakwah, pendidikan dan kegiatan peribadatan lainnya. Semua aspek yang berkaitan dengan ibadah dilaksanakan di tempat ini, seperti Masjid taklim dan peringatan hari-hari besar Islam. Itu semua bertujuan untuk menunjang kegiatan-kegiatan syiar agama khususnya di Kalimantan Selatan.

Selain sebagai pusat pembinaan umat, di Masjid Raya Sabilal Muhtadin juga menjadi pusat pengembangan ekonomi syariah yang semuanya berwawasan nusantara.

“Berwawasan nusantara, berwawasan kebangsaan. Hal itu tidak boleh terlepas dari NKRI dan Pancasila,” kata dia.

Berbasis Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, di mana menurutnya adalah sebuah paham yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh agama sejak sebelum kemerdekaan.

“Salah satu contohnya yaitu para wali songo. Di Banjar sendiri tokoh besarnya adalah Syekh (Muhammad) Arsyad Al Banjari dengan karya yang paling terkenal yaitu Kitab Sabilal Muhtadin,” sebutnya

Dia sendiri mengatakan, Islam yang baik adalah Islam yang damai, toleran, tidak radikal, seimbang, dan harmonis di mana semua hal itu dikenal dengan Islam Rahmatan Lil Alamin yang dikembangkan sampai hari ini.

“Kita mengapresiasi apa yang sudah terjadi di masa lalu, kemudian tinggal mengembangkan dan memperkuatnya kembali,” jelasnya.

Di Indonesia sendiri, pengembangan Islam jauh berbeda dari masa-masa terdahulu. Tanpa perang, pertumpahan darah atau kekerasan. Islam secara persuasif datang ke Indonesia sebagai agama yang damai dan santun. Dalam Islam ada beberapa istilah yaitu Tawassuth, Tawazun I’tidal dan Tasamuh, atau dikenal dengan Aswaja.

Tawassuth adalah sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Tawazun atau seimbang dalam segala hal. I’tidal atau tegak lurus. Tasamuh atau toleransi. Istilah tersebut termasuk dalam Ahlussunnah Waljamaah.

Baca Juga: Masjid Jami Sungai Jingah (2),‘Saksi’ Warga Banjar Tak Sudi Dibantu Penjajah

Reporter: AHC09
Editor: Muhammad Bulkini

Editor: aji - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Religi

Ateis Bertanya Tentang Tuhan, Imam Abu Hanifah Membungkamnya
apahabar.com

Sirah

Begini Nasehat Abah Guru Sekumpul pada Soeharto
apahabar.com

Sirah

Masjid Al Jihad (2), Ramai dengan Peribadatan dan Muamalah

Sirah

Menengok Sejarah Pendulangan Intan Cempaka, Ulama Ini Ternyata yang Menunjukkan Lokasinya
apahabar.com

Religi

Sayidina Husain Sempat Berpidato Sebelum Dibantai di Karbala
apahabar.com

Sirah

Muallim Syukur, Bakul Kosong, dan Prilaku ‘Ganjil’ Para Pedagang
apahabar.com

Sirah

Nabi Muhammad Mendengar Suara Langkah Bilal di Surga
apahabar.com

Sirah

Dua Kampung di Martapura Tak Bisa Dimasuki Penjajah, Dua Ulama Ini Ternyata Penyebabnya
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com