Live Streaming SCTV PSG vs Man United Liga Champions Malam Ini, Link Siaran Langsung Vidio.com Demo Setahun Jokowi di Banjarmasin: 5 Remaja Diamankan, Mahasiswa Respons Santuy Refleksi Setahun Jokowi-Ma’ruf, BEM Kalsel Ancam Demo Tiap Pekan Terduga Penyusup Diamankan, Kapolda Kalsel Angkat Bicara Ingat Setahun Jokowi tapi Mahasiswa di Banjarmasin Lupa Prokes

OTT di Kantor Imigrasi NTB, KPK Tetapkan 3 Tersangka Suap Izin Tinggal

- Apahabar.com Selasa, 28 Mei 2019 - 22:09 WIB

OTT di Kantor Imigrasi NTB, KPK Tetapkan 3 Tersangka Suap Izin Tinggal

Petugas KPK memperlihatkan barang bukti dugaan suap izin tinggal. Foto – Bisnis.com

apahabar.com, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya menetapkan 3 tersangka dari 8 orang terduga pelaku pada operasi tangkap tangan (OTT) di Kantor Imigrasi daerah Nusa Tenggara Barat (NTB).

Penetapan 3 tersangka itu terkait tindak pidana korupsi suap dalam kasus penanganan perkara penyalahgunaan izin tinggal di lingkungan Kantor Imigrasi Nusa Tenggara Barat (NTB) Tahun 2019.

Baca Juga: KPK Tangkap Pejabat Imigrasi di NTB

Dikutip apahabar.com dari Antara, Wakil Ketua KPK Alexander Marwata saat jumpa pers di gedung KPK, Jakarta, menyatakan, setelah KPK melakukan pemeriksaan dan sebelum batas waktu 24 jam sebagaimana diatur dalam KUHAP, dilanjutkan dengan gelar perkara maka disimpulkan adanya dugaan tindak pidana korupsi.

“Memberikan atau menerima hadiah atau janji terkait penanganan perkara penyalahgunaan izin tinggal di lingkungan Kantor lmigrasi Nusa Tenggara Barat Tahun 2019,” ujar Alex, Selasa (28/5/2019).

KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan dan menetapkan tiga orang sebagai tersangka, yakni sebagai penerima Kepala Kantor Imigrasi Klas I Mataram Kurniadie (KUR) dan Kepala Seksi Intelijen dan Penindakan Kantor Imigrasi Klas I Mataram Yusriansyah Fazrin (YRI).

Sedangkan sebagai pemberi, yaitu Direkur PT Wisata Bahagia atau pengelola Wyndham Sundancer Lombok Liliana Hidayat (LIL).

Baca Juga: Bobol Rekening Hingga Ratusan Juta, Sindikat ‘Lampu Aladin’ Diciduk Polisi

Sebagai pihak yang diduga penerima, Kurniadie dan Yusriansyah disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sebagai pihak yang diduga pemberi Liliana disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Dalam konstruksi perkara kasus itu, dijelaskan bahwa Penyidik PNS (PPNS) di Kantor Imigrasi Klas I Mataram mengamankan dua WNA dengan inisial BGW dan MK yang diduga menyalahgunakan izin tinggal.

“Mereka diduga masuk menggunakan visa sebagai turis biasa tetapi ternyata diduga bekerja di Wyndham Sundancer Lombok. PPNS lmigrasi setempat menduga dua WNA ini melanggar Pasal 122 huruf a Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian,” ungkap Alex.

Baca Juga: Ingat Imbauan KPK, Ketua Dewan Sarankan Tak Bawa Mobil Dinas

Merespons penangkapan tersebut, lanjut Alex, Liliana perwakilan Manajemen Wyndham Sundancer Lombok diduga mencoba mencari cara melakukan negosiasi dengan PPNS Kantor lmigrasi Klas I Mataram agar proses hukum dua WNA tersebut tidak berlanjut.

“Kantor Imigrasi Klas I Mataram telah menerbitkan Surat Perintah Dimulainya Penyidikan untuk dua WNA tersebut tanggal 22 Mei 2019. YRI kemudian menghubungi LIL untuk mengambil SPDP tersebut,” ujar Alex.

Permintaan pengambilan SPDP itu diduga sebagai kode untuk menaikan harga untuk menghentikan kasus.

“LIL kemudian menawarkan uang sebesar Rp300 juta untuk menghentikan kasus tarsebut, namun YRI menolak karena jumlahnya sedikit. Dalam proses komunikasi terkait biaya mengurus perkara tersebut YIR berkoordinasi dengan atasannya KUR. Selanjutnya, diduga terjadi pertemuan antara YRI dan LIL untuk kembali membahas negosiasi harga,” tuturnya.

Baca Juga: Sebarkan Hoaks Aksi 22 Mei, Dokter di Bandung Jadi Tersangka

Dalam OTT itu, KPK mengungkap modus baru yang digunakan Yusriansyah, Liliana, dan Kurniadie dalam negosiasi uang suap, yaitu menuliskan tawaran Liliana di atas kertas dengan kode tertentu tanpa berbicara dan kemudian Yusriansyah melaporkan pada Kurniadie untuk mendapat arahan atau persetujuan.

“Akhirnya disepakati jummlah uang untuk mengurus perkara dua WNA tersebut adalah Rp1,2 miliar,” ungkap Alex.

Editor: Aprianoor

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Hukum

Simsalabim! Test Drive Motor Yamaha Aerox Berubah Jadi Yamaha Mio
apahabar.com

Hukum

Tidak Ada Barang Bukti Sabu, Polisi: Andi Arief Bisa Direhab Bahkan Tak Dilanjutkan Kasusnya
apahabar.com

Hukum

Penangkapan Pengemudi Camry di Tala Paling Menonjol

Hukum

Pengakuan Pria Penyimpan Ratusan Liter Solar Ilegal di Kuin Utara
apahabar.com

Hukum

Keburu Disergap Personel Polres HSU, Pemuda Amuntai Gagal COD Sabu
apahabar.com

Hukum

Organisasi Masyarakat Desak Pemerintah Akui Hutan Adat di Pegunungan Meratus
apahabar.com

Hukum

Simpan Dua Paket, Polisi Tangkap Terduga Pengedar di Tapin
apahabar.com

Hukum

Jumlah Kekayaan Ismunandar, Bupati Kutim yang Di-OTT KPK
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com