Tim Paman Birin Blunder Ancam Polisikan Warga Soal Banjir Terima Kasih Warga Banjarmasin, Korban Banjir Batola Terima Bantuan dari Posko apahabar.com Operasi SAR SJ-182 Dihentikan, KNKT Tetap Lanjutkan Pencarian CVR Gempa Magnitudo 7,1 Guncang Talaud Sulut, Tidak Berpotensi Tsunami Potret Seribu Sungai, Serunya Memancing di Jembatan Sudimampir Banjarmasin

Tak Ingin Kesepian, Andi Dewangga Ajak Keluarga ke South Australia

- Apahabar.com Sabtu, 18 Mei 2019 - 06:40 WIB

Tak Ingin Kesepian, Andi Dewangga Ajak Keluarga ke South Australia

South Australia . Foto-The Conversation

Kesepian kerap menyerang para perantau ketika berada di negeri orang, terlebih saat tibanya Ramadan. Seolah tak ingin merasakan hal itu, Andi Dewangga pun memboyong keluarga kecilnya untuk ikut ke Australia Selatan bersamanya.

Nita, BANJARMASIN

Anak perantauan selalu identik dengan hidup sendiri jauh dari sanak saudara. Tapi tidak dengan Andi Dewangga Permana Putra (30), ia beruntung dapat memboyong keluarga kecilnya hidup merantau di Negara Australia.

“Saat ini saya berada di Adelaide, South Australia. Saya tiba di Australia pada tanggal 31 Mei 2018, sekitar pertengahan Ramadan tahun lalu,” kata Andi kepada apahabar.com.

Baca Juga: Bayar Zakat Fitrah Bisa dengan Uang, Begini Penjelasan Kemenag Banjarmasin

Pria lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar ini melanjutkan jenjang pendidikannya dengan berbekal beasiswa yang ia dapatkan dari pemerintah Australia.

“Saat ini saya menempuh pendidikan untuk tingkat S2 tepatnya Master of Education (Special Education),” ungkap pria asal Makassar ini.

Tahun ini adalah Ramadan kedua bagi Andi dan keluarga selama di Australia. Mereka menyewa sebuah Unit (apartement sederhana) untuk ditinggali.

apahabar.com

Dewangga bersama keluarga kecilnya. Foto-Istimewa

Di Australia, dia mengaku tidak khawatir untuk urusan makanan, karena sang istri masih setia menghidangkan masakan nusantara untuknya.

“Kalau soal masakan, ya tetap prefer ke masakan indo meski sesekali istri coba masak pizza, tapi bakso tetap di hati. Nah, khusus Ramadan, walaupun tidak wajib untuk terus ada, yah sesekali Es Pisang Ijo sedikit mengobati kerinduan akan nuansa Ramadan di tanah air,” akunya.

Andi menambahkan, saat ini di Australia sudah ada kesadaran tentang adanya istilah Halal. Sehingga mempermudahnya untuk membeli makanan yang berbahan halal.

“Untuk makanan halal cukup mudah untuk mendapatkannya. Ada beberapa tempat penjualan daging halal (Halal Butcher) dan di beberapa super market ada rak khusus Halal Corner,” jelasnya

Saat ini, sambung Andi, Australia memasuki musim dingin, durasi berpuasa menjadi lebih singkat, sekitar 12 jam saja. Meski diuntungkan dengan durasi waktu, puasa di Australia terasa kurang semarak jika dibandingkan dengan di Indonesia. Sebab, di Negeri Kangguru ini tidak ada tradisi khusus dalam menyambut bulan Ramadhan.

Andi mengungkapkan, menjelang tibanya Ramadan kemarin, sempat terjadi perdebatan mengenai penetapan 1 Ramadhan.

“Untuk Ramadhan tahun ini ada 2 versi. Ada yang mulai di tanggal 6 dan ada yang di tanggal 7. Di sini pemerintah tidak berperan dalam penetapannya, jadi yang menetapkan semacam majelis ulama yang sepertinya terbagi ke dua kubu, kurang lebih mirip dengan keadaan di Indonesia. Tapi untuk keputusan akhir bergantung pada individu mau ikut yang mana. Nah, kebanyakan ikut saja keputusan dewan masjid terdekat dengan lokasi tempat tinggal. Setidaknya itu yang saya alami, untuk state lain saya kurang tahu,” jelasnya

Andi mengaku cukup terbantu karena tinggal di area kampus yang mempunyai tempat khusus untuk umat muslim beribadah.

“Lokasi Mesjid agak jauh dari tempat tinggal kami, untungnya di kampus ada ruangan yang disediakan untuk para kaum muslim berbuka puasa bersama hingga salat tarawih berjemaah,” ucapnya

Sejauh ini menurutnya, tidak ada kendala berat yang ia hadapi selama tinggal di luar negeri. Toleransi terhadap umat Islam di Australia Selatan sudah cukup baik.

“Secara umum saya rasa penduduk di sini sudah tahu tentang Ramadan dan ibadah puasa bagi umat Islam. Walaupun, tentunya masih ada yang tidak tahu. Hampir tidak ada kesulitan untuk beribadah di sini. Saya pernah sekali terpaksa salat di sebuah sudut di stasiun kereta karena tentunya musalla tidak tersedia, tapi itu tidak menjadi masalah,” terangnya.

Lebaran tahun ini, Andi dan keluarga harus menunda kepulangannya ke Indonesia karena terkendala jadwal kuliah. Untuk urusan zakat, ia menyalurkan pada lembaga terkait yang tersedia di sana.

“Lebaran tahun ini kami rayakan di Australia saja karena jadwal kuliah masih sampai tanggal 21 Juni. Untuk salat Ied, warga Indonesia biasanya dipusatkan di gedung olahraga universitas. Sedangkan penyaluran zakat bisa melalui lembaga LAZ MIIAS (Lembaga Amil Zakat Masyarakat Islam Indonesia Australia Selatan),” pungkasnya

Baca Juga: Ramadan di Eropa: Dari Samarinda, Nurul Kasyfita Jadikan New Zealand Rumah Kedua

Editor: Muhammad Bulkini

Editor: aji - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Habar

Riwayat Masjid Al Jihad (1), “Rebutan” Membangun Tempat Ibadah
apahabar.com

Habar

Arab Saudi Rekrut 531 Pengawas Ibadah Umrah
apahabar.com

Habar

Polisi Bagikan Nasi Gratis untuk Jemaah Haul KH Anang Sya’rani Arif ke 51
apahabar.com

Habar

Ramadan di Negeri Tirai Bambu, Munif Semula Diragukan Bisa Puasa
apahabar.com

Habar

Ribuan Jemaah Gelar Baca Burdah Keliling di Martapura
apahabar.com

Habar

Jauh dari Batola, Wanser Ini Berharap Berkah di Banjar Bersholawat
apahabar.com

Habar

Termasuk Sepuluh Murid Pertama Guru Sekumpul, Ulama Ini Menyimpan Hadiah Berharga
apahabar.com

Habar

Pengajian Ramadan Bersama Guru Zuhdi, Cara Masuk Surga Lebih Cepat dari Bidadari
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com