Perhatian! PT KPP Rantau Ngutang Pajak Alat Berat Rp 1,8 M Warung Jablay di HSS Meresahkan, MUI Ngadu ke DPRD Jelang Pencoblosan, Warga Kalsel Diimbau Jangan Telan Mentah-Mentah Berita Medsos Disbudpar Banjarmasin Rilis Dua Wisata Baru, Cek Lokasinya Otsus Jilid Dua, Semangat Baru Pembangunan Papua

Ternyata Tradisi “Bagarakan Sahur” Sudah Ada di Zaman Rasulullah SAW

- Apahabar.com Kamis, 23 Mei 2019 - 09:50 WIB

Ternyata Tradisi “Bagarakan Sahur” Sudah Ada di Zaman Rasulullah SAW

“Bagarakan sahur” di Mesir. Foto-republika.com

apahabar.com, JAKARTA – Membangunkan umat Islam untuk melaksanakan ibadah sahur ternyata sudah terjadi di masa lalu, yakni di zaman Rasulullah SAW.

Prof Hindun Badari dalam makalahnya yang berjudul “Al-Mushirati min Duqqat at-Thabul ila al-Insyad wa al-Aghani” mengemukakan seluk-beluk dan asal-muasal tradisi tersebut. Aktivitas yang pada mulanya dilakukan secara sukarela tersebut dikenal dengan berbagai sebutan.

Baca Juga: Bolehkah Donor Darah saat Puasa?

Di Arab Saudi, pelakunya dijuluki az-zamzami, di Kuwait disebut Abu Thubailah, dan di Mesir akrab dikenal dengan al-mushirati. Mereka memiliki gaya, media, dan yel-yel yang berbeda-beda sesuai dengan tabiat tiap-tiap negara.

Ada yang membawa anak mereka ikut serta. Sebagiannya dibekali daftar nama masing-masing penduduk. Mereka berkeliling dan mengetuk tiap pintu. Ada pula yang sekadar membawa alat musik seperti gendang. Mereka memainkannya disertai dengan lagu-lagu bernada sederhana. Liriknya, berisikan ajakan dan seruan bangun sahur.

Kapankan tradisi ini muncul? Hindun menjelaskan, cikal bakal aktivitas membangunkan sahur itu telah ada sejak zaman Rasulullah. Ketika itu, azan yang di kumandangkan oleh Bilal bin Rabah menjadi penanda waktu berbuka. Sedangkan waktu sahur, patokannya ialah azan Abdullah bin Ummi Maktum. Ini yang melatarbelakangi hadis Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Bilal azan menjelang malam, maka makan dan minumlah hingga mendengar azan Ibn Umm Maktum.”

Dengan perkembangan wilayah Islam, kebutuhan akan penanggung jawab untuk membangunkan sahur pun mendesak. Di Mesir misalnya, Gubernur Mesir, Atabah bin Ishaq di era pemerintahan Khalifah Dinasti Abbasiyah, Al-Munthashir Billah (861-862 M), disebut-sebut sebagai almushirati pertama.

Baca Juga: Seperti Apa Keseharian Rasulullah Selama Ramadan?

Ini karena pada 238 H, ia merasa terpanggil untuk berkeliling di Kota Kairo (Fustat lama) dan membangunkan penduduk untuk sahur. Dia melakukannya dengan berjalan kaki. Tempat permulaannya berada di Kota Militer, dan berakhir di Masjid Amar bin Ash yang berlokasi di Kairo Lama, Fustat.

Dia meneriakkan ungkapan, “Wahai hamba Allah, sahurlah. Karena sesungguhnya, dalam sahur terdapat berkah.” Sejak itulah, profesi almushirati, sangat dihormati. Hal ini lantaran gubernurnya langsung yang mengawali untuk turun tangan.

Yel-yel yang diteriakkan pun kian bervariatif. Apalagi, di masa Abbasiyah yang terkenal dengan kemajuan di bidang syair. Sebagian liriknya telah menggunakan tata bahasa dan bernilai sastra tinggi. Misalnya, “Ya niyyaman quman,quman lis sahuri quman (wahai orang yang lelap tidur bangunlah untuk sahur).”

Tokoh almushirati yang paling tersohor dengan penggunaan kalimat itu ialah Ibnu Nuqthah di Baghdad. Khalifah an-Nashir Billah mengagumi kefasihannya dan mengganjarnya dengan upah. Jumlahnya berlipat ganda melebihi upah yang diterima mendiang ayah Ibn Nuqthah.

Baca Juga: Puasa Ternyata Sudah Ada Sejak Zaman Nabi Adam AS

Tak hanya dari kalangan Adam. Profesi ini juga digeluti oleh kaum Hawa. Ketika Dinasti Thulun menguasai Mesir (254 H-292 H / 868 M-967 M), pemerintah membuka kesempatan bagi para perempuan untuk terlibat juga dalam profesi ini.

Hanya saja ruang geraknya masih terbatas. Mereka melakukannya lewat jendela rumah. Inipun dengan syarat bahwa perempuan tersebut haruslah bersuara merdu dan figur yang sudah dikenal di kampung.

Dia abad ke-19, nama Alis Ihsan didaulat sebagai perempuan pertama yang menjalankan profesi almushirati. Kegiatan ini ia lakukan, sepeninggal suaminya. Ada dua nama lagi di abad ke-21, yaitu Ummu Jalilah dan Ummu Sahr. Nama yang pertama, mengambil profesi ini setelah ia ditinggal mati suami. Sementara ia harus menghidupi enam anak. Sedangkan sosok yang kedua, dikenal sudah menjalani kegiatan ini sejak kecil.

Baca Juga: Cerita Rofi, Mahasiswa asal Kalsel Menyiasati Sahur dan Berbuka Puasa di Jerman

Kini, tradisi ini, kian redup di sebagian wilayah. Kehadiran teknologi sedikit demi se dikit menggeser kebiasaan tersebut. Teknologi dan media telekomunikasi memberikan al ter natif yang lebih efesien dan efektif untuk membangunkan sahur. Dan, nasib “para pahlawan sahur” itu pun dipertaruhkan.

Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Religi

Istirahat di Siang Hari, Umar bin Abdul Aziz Ditegur Putranya Sendiri
apahabar.com

Religi

Rasulullah Berpakaian Bersih dan Rapi
apahabar.com

Religi

Kisah Masuk Islamnya Pemburu Jejak Rasulullah
apahabar.com

Sirah

“Salam” Tuan Guru Husin Qaderi Buat Pecatur Insyaf
apahabar.com

Sirah

Melacak Jejak Penanggalan Islam Hijriyah di Tanah Nusantara
apahabar.com

Sirah

Masjid Ini Dikeramatkan Warga, Pendirinya Masih Misteri
apahabar.com

Religi

Rasulullah SAW Surati Penguasa Dunia untuk Masuk Islam
apahabar.com

Sirah

Menikah di Bulan Safar? Dua Pasangan Agung Ini Melakukannya
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com