VIDEO: Polisi Rilis Tersangka Pencurian Hp Rosehan di Pesawat Sengketa Kepemilikan Kampus Achmad Yani, Gugatan Adik Berlanjut di PN Banjarmasin Magrib, Mayat di Jembatan Kayu Tangi Gegerkan Warga Sekolah Tatap Muka di Banjarmasin: Waktu Belajar Dipangkas, Sehari Hanya 5 Jam Sehari Jelang Penutupan, Pendaftar BLT UMKM di Batola Capai 5.000 Orang

Tradisi Menarik di 21 Ramadan, Desa Kahakan Gelar ‘Batatarangan’

- Apahabar.com Minggu, 26 Mei 2019 - 09:23 WIB

Tradisi Menarik di 21 Ramadan, Desa Kahakan Gelar ‘Batatarangan’

Anak-Anak Desa Kahakan menyalakan lampu bambu yang disebut warga dengan 'batatarangan'. Foto-apahabar.com/AHC11

apahabar.com, BARABAI – Warga Desa Kahakan Kecamatan Batu Benawa, Hulu Sungai Tengah (HST) memiliki tradisi menarik memasuki malam ke 21 Ramadan. Mereka menghiasi kampung dengan banyaknya “lampu”.

Lampu yang terbuat dari batang bambu yang diisi dengan minyak tanah dan diberi sumbu itu, ramai dijejer di pinggiran jalan Desa Kahakan.

“Kami menyebutnya (tradisi tersebut) ‘batatarangan’,” kata Syahraji warga Desa Kahakan saat dijumpai apahabar.com, Sabtu, (25/5) pukul 20.30.

Baca Juga: Jelang Buka Puasa, FPI Tapin Bagi Takjil ke Pengguna Jalan

Rencananya, Syahraji mengatakan batatarangan akan digelar hingga akhir Ramadan atau malam Idul Fitri.

Diakuinya, batatarangan adalah tradisi lama yang kembali dimunculkan desa Kahakan. Tahun 2019 menjadi tahun kelima acara ini digelar, setelah sebelumnya tak lagi diadakan masyarakat.

apahabar.com

Anak-anak Desa Kahakan, meramaikan tradisi ‘batatarangan’. Foto-apahabar.com/AHC11

Syahraji mengungkapkan, kegiatan itu digelar untuk meramaikan datangnya malam lailatul qadar yang disebut-sebut terdapat di sepuluh terakhir bulan Ramadan. Selain itu, menurut kepercayaan warga, hal tersebut juga menjadi penerang alam kubur selama Ramadan.

“Begitulah kira-kira,” kata Syahraji.

Batatarangan mulai dinyalakan selepas Salat Magrib. Desa yang semula hanya diterangi lampu di pinggiran jalan kini dihiasi nyala api kecil dari bambu di tiap halaman rumah warga yang lebih dari 100 kepala keluarga itu. Tak ketinggalan, warung dan mesjid pun turut dihiasi batatarangan.

Tak hanya di pinggiran jalan, area pemakaman pun turut ditempatkan batatarangan. Dengan begitu, desa pun menjadi ramai, anak-anak berkumpul dan bermain di sekitaran batatarangan.

apahabar.com

Anak-anak Desa Kahakan, meramaikan tradisi ‘batatarangan’. Foto-apahabar.com/AHC11

Tradisi tersebut menurut Syahraji, tidak terlalu banyak menghabiskan biaya.

“Satu malamnya menghabiskan 20 liter minyak tanah seharga 15.000 per liter,” kata Syahraji.

Baca Juga: Istri Gus Dur Jadi Tamu Spesial NGP Ramadan Camp di Banjarbaru

Reporter: AHC 11
Editor: Muhammad Bulkini

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Pilkada Kalsel, Bawaslu Catat Sejumlah Potensi Kerawanan
apahabar.com

Kalsel

Kesempatan Kerja untuk Difabel Kian Terbuka
apahabar.com

Kalsel

Update Covid-19 Kalsel 16 Agustus: Tambah 99, Positif Jadi 7.152 Kasus
apahabar.com

Kalsel

Sepekan Dirawat, Begini Kondisi Terbaru Wali Kota Banjarbaru
apahabar.com

Kalsel

Permintaan Benih Berkurang, BBI Kambitin Kurangi Perkawinan Indukan
apahabar.com

Kalsel

Korban Kebakaran Pulau Sebuku Perlu Psikolog
apahabar.com

Kalsel

Rukyatul Hilal di Banjarmasin, Kemenag: Belum Terlihat
apahabar.com

Kalsel

Tsunami Selat Sunda, Keterlibatan Basarnas Banjarmasin Tunggu Perintah Pusat
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com