Tim Macan Kalsel Gerebek Wanita Buronan Kasus Penggelapan Kapal Indef: Setahun Jokowi-Ma’ruf Amin ULN Melonjak, Setiap Penduduk Warisi Utang Rp 20,5 juta Demo di Pelaihari Berbuntut Laporan Polisi, Sekda Tala Minta Maaf Harga Tiket Bioskop XXI Duta Mall Banjarmasin Turun, Simak Daftar Lengkapnya Kedai Terapung, Unggulan Wisata Baru di Barito Kuala

Antisipasi Ekonomi Global, Apindo: Perlu Penyelarasan Regulasi

- Apahabar.com Jumat, 7 Juni 2019 - 07:00 WIB

Antisipasi Ekonomi Global, Apindo: Perlu Penyelarasan Regulasi

Ilustrasi peti kemas. Foto-net

apahabar.com, JAKARTA – Kalangan dunia usaha meminta pemerintah segera menyelaraskan berbagai kebijakansebagai antisipasi penurunan pertumbuhan ekonomi global, yang diprediksi Bank Dunia dari 2,9 persen menjadi 2,6 persen pada 2019.

“Pemerintah harus membuat regulasi yang betul-betul dapat meningkatkan daya saing produk-produk dalam negeri. Negara-negara maju saat ini memasuki era proteksi pasar masing-masing, maka Indonesia harus meresponsnya dengan hal yang sama,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani, dikutip apahabar.com dari Antara, Kamis.

Baca Juga: Hari Pertama Lebaran, Bandara Syamsudin Noor Capai 5.093 Penumpang

Bank Dunia dalam laporan Global Economic Prospects edisi Juni 2019, kembali memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global dari 2,9 persen turun menjadi 2,6 persen.

Sejumlah kalangan menilai penurunan tersebut terkait dengan semakin memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Namun, ekonomi Indonesia diperkirakan stabil di kisaran 5,2 persen. Menurut Hariyadi, dalam kondisi seperti ini masing-masing negara adiekonomi tersebut aktif melakukan proteksi terhadap pasar dalam negeri negaranya.

“Amerika Serikat gencar mengenakan tarif produk-produk impor, sementara China berpikir keras bagaimana produk-produk mereka harus diekspor masuk ke pasar global,” ujarnya.

Baca Juga: H+1 Idulfitri, Tingkat Keterisian Hotel di Banjarmasin Meningkat 70%

Salah satu langkah dalam meningkatkan daya saing produk-produk nasional, tambah Hariyadi, pemerintah harus memberikan perhatian khusus terkait insentif fiskal untuk sektor-sektor usaha yang memiliki potensi nilai ekspor besar dan dalam jumlah besar.

Misalnya, industri yang terkait dengan petrokimia, sektor turunan industri baja yang sifatnya dapat menjadi subsitusi barang-barang impor.

“Ekonomi kita selama ini digerakkan oleh konsumsi dalam negeri, di satu sisi ekspor tidak terlalu besar-besar amat,” ujarnya.

Untuk itu, diperlukan langkah yang protektif terhadap pasar dalam negeri dengan meningkatkan daya saing produk nasional, sehingga pasar yang besar ini tidak mudah dimasuki produk-produk impor.

Baca Juga: Kinerja Komoditas Batu Bara-CPO Menyedihkan

Selain itu, pemerintah juga perlu mendorong pendanaan ekspor melalui instrumen keuangan yang sudah ada seperti Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).

“LPEI harus lebih diaktifkan kembali untuk mendanai modal kerja yang pada ujungnya dapat meningkatkan kapasitas produksi industri baik untuk pasar lokal maupun untuk pasar ekspor,” ujarnya.

Editor: Fariz Fadhillah

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Jaga Ketersediaan Pangan, Pemerintah Siapkan Lahan Lumbung Padi Baru di Kalimantan

Ekbis

Bikin Stiker WhatsApp dengan Gambar Sendiri, Ini Caranya
apahabar.com

Ekbis

Jika Tidak Menguntungkan, Bank Kalsel Cabang DKI Lebih Baik Tutup
apahabar.com

Ekbis

Ekonomi RI Cuma Tumbuh 2,9 Persen, BI: Masih Positif 
apahabar.com

Ekbis

Kelapa Sawit Indonesia Dilirik Peru, Gapki Kalsel: Pasar Potensial
apahabar.com

Ekbis

H-1 Iduladha, Tingkat Kunjungan Duta Mall Banjarmasin Mencapai 50%
apahabar.com

Ekbis

Rupiah Ditutup Menguat, Didukung Sentimen Global Ekonomi AS
apahabar.com

Ekbis

Virus Corona Sebab Utama Harga Batu Bara Anjlok
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com