Ketum HIPMI Pusat Bakal Jadi Pembicara di HUT JMSI ke-2 di Sulteng Kalsel Ingin Adopsi Kawasan Kumuh jadi Wisata di Yogyakarta Waspada, Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang Ancam 3 Kabupaten Kalsel Tok! KPU-Kemendagri Sepakat Jadwal Pemilu 14 Februari 2024 Cuaca Kalsel Hari Ini: Sebagian Wilayah Diprediksi Cerah Berawan

Anyaman Kulit Ketupat, Pekerjaan Turun Temurun Warga Desa Kalian  

- Apahabar.com     Rabu, 12 Juni 2019 - 17:34 WITA

Anyaman Kulit Ketupat, Pekerjaan Turun Temurun Warga Desa Kalian   

Ibu Salmiah (61) sudah menekuni usaha anyaman kulit ketupat selama 50 tahun, dan usaha tersebut mampu mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Foto-apahabar.com/AHC01

apahabar.com, KANDANGAN – Siapa yang tak kenal dengan Ketupat Kandangan? Kuliner yang satu ini memang asli dari Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Saking terkenalnya makanan tersebut, Pemkab HSS membangun Tugu Ketupat. Ini gambaran kalau Kandangan memiliki kuliner khas.

Tapi tahukah kalian, dibalik lezatnya ketupat Kandangan, ada sebuah desa yang sebagian warganya menekuni usaha anyaman kulit ketupat yang terbuat dari janur (daun kelapa muda).

Baca Juga: Posisi Duduk saat Makan Tambah Nikmat

Perajin kulit ketupat ditekuni turun temurun oleh ibu ibu warga Desa Kalian, Jalan Singakarsa, Kelurahan Kandangan Barat Kecamatan Kandangan.

Mulai pagi hingga sore, hampir semua ibu-ibu di desa tersebut mengisi waktu luang mereka dengan kegiatan tersebut.

Salmiah (61) warga Desa Kalian mengaku menekuni usaha anyaman kulit ketupat sudah 50 tahun. Menurut ibu empat orang anak, sejak usia 8 tahun ia sudah bisa menganyam kulit ketupat. Keahlian itu diperoleh dari kakek dan neneknya.

Bahkan menganyam kulit ketupat pun terus mengalir hingga ke anak dan cucu. “Sekarang pun anak cucu kami juga sudah bisa menganyam kulit ketupat,” katanya.

Menurut Salmiah, dalam sehari ia bisa menganyam 500 kulit ketupat. Saking mahirnya, dalam satu jam ia bisa menghasilkan 200 anyaman kulit ketupat.

Baca Juga: PKK HSS Gelar Khataman Alquran untuk Kelima Kalinya

Diakuinya, pekerjaan tersebut hanya sambilan mengisi waktu luang sambil mengurus keluarga. Pastinya hasil dari anyaman kulit ketupat, ia mampu mendapatkan berkah yang lumayan.

Dalam pemasaran kulit ketupat tidaklah sulit, para pemilik warung ketupat Kandangan lah yang membelinya.

Hal itu dikarenakan penikmat kuliner Ketupat Kandangan tidak pernah sepi, dari situlah kebutuhan kulit anyaman ketupat juga terus ada.

“Anyaman kulit ketupat merupakan usaha yang tidak ada matinya selama warung ketupat masih ada sepanjang jalan wilayah HSS,” katanya.

Untuk harga Per 100 buah kulit ketupat dijual Rp 20 ribu, dengan modal membeli pucuk daun kelapa dan daun kelapa tua Rp10.000. Sehingga keuntungan bersih per 100 kurung hanya Rp 10.000.

Baca Juga: Kreatif, BPJS Barabai Bagi-Bagi Kaos untuk Ingatkan Iuran

“Dalam sehari penghasilan menganyam kulit ketupat Rp50 ribu. Alhamdulillah bisa menambah penghasilan,” kata Salmiah.

Salmiah berharap, usaha warung ketupat terus eksis dan digemari masyarakat, agar sumber mata pencaharian mereka juga tetap bertahan, ditengah upaya mereka membangun dan membangkitkan perekonomian keluarga.

“Penghasilan dari menganyam kulit ketupat cukup buat makan sehari hari, bukan hanya kami yang melakukan usaha ini, bahkan seluruh keluarga, mulai dari anak, ponakan hingga cucu,” katanya.

Sementara itu, Rusidah keponakan Salmiah juga nampak lihai dalam menganyam kulit ketupat.

Baca Juga: Berupaya Pererat Silaturahmi, Pemkab HSS Galakkan Subuh Berjemaah

Sambil menganyam kulit ketupat, Rusidah mengatakan bahwa ketupat Kandangan ada dua cara penyajiannya.

Untuk kulit anyaman ketupat dengan ukuran lebih kecil untuk ketupat Kandangan versi pakai kuah santan plus iwak haruan dan telur jaruk.

“Ketupat Kandangan kuah santan banyak dijual di warung warung sepanjang Jalan Hamalau hingga Parincahan,” katanya.

Sedangkan anyaman kulit ketupat ukuran lebih besar, untuk Ketupat Kandangan tanpa kuah, tapi dimasak menggunakan air santan biasa disebut dengan ketupat balamak.

“Ketupat balamak ini biasanya dilengkapi urap sayur, telur asin, bumbu sambel kacang atau bumbu masak habang,” jelasnya.

Baca Juga: PT. Batulicin Enam Sembilan dan Yayasan Haji Maming Serahkan Bantuan untuk Korban Banjir

Adapun pemasok daun kelapa muda untuk dijadikan kulit ketupat, kebanyakan dari Desa Wasah, Desa Ulin, Kecamatan Simpur.

Reporter: AHC01
Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

WhatsApp

Gaya

WhatsApp Tambah Fitur Ini untuk Masuk ke Desktop
apahabar.com

Gaya

Rahasia Mooryati Soedibyo Tetap Cantik dan Bugar di Usia 92 Tahun
apahabar.com

Gaya

Samsung Galaxy Note 20 Resmi Dijual di Indonesia, Intip Harga dan Speknya
apahabar.com

Gaya

AS Selidiki Dugaan TikTok Langgar Privasi Anak
apahabar.com

Gaya

Tak Biasa, Muda-mudi di Banjarmasin gelar ‘Lapak Ngaji’ di Keramaian Kota
apahabar.com

Gaya

Desain Mewah, Segini Harga Samsung Galaxy Z Fold 2 di Indonesia
apahabar.com

Gaya

Makanan Dilarang Pakar Kesehatan Saat Anak Santap Sahur
apahabar.com

Gaya

Mudik Virtual, Kunjungi Rumah Keluarga Lewat Aplikasi Ini
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com