Pembantai Tetangga di Kelumpang Kotabaru Diancam Penjara Seumur Hidup! ANEH, 3 Proyek Jembatan di Banjarmasin Jalan Terus Walau Tanpa IMB Seruan Tokoh Tanah Bumbu: Pendukung SHM-MAR Jangan Ikut Sebar Hoaks dan Fitnah Pembelajaran Tatap Muka SMP di Banjarmasin Siap Dibuka, Catat Bulannya VIDEO: Polisi Rilis Tersangka Pencurian Hp Rosehan di Pesawat

Curah Hujan Tinggi, Petani Batola Was-was Gagal Panen

- Apahabar.com Sabtu, 8 Juni 2019 - 13:56 WIB

Curah Hujan Tinggi, Petani Batola Was-was Gagal Panen

Tanaman padi yang mulai berbuah di Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan. Foto-apahabar.com/M Robby.

apahabar.com, BARITO KUALA – Curah hujan yang cukup tinggi dan pasangnya air sungai dalam beberapa pekan belakangan, membuat sebagian petani di Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan, merasa was-was. Pasalnya, mereka khawatir jika terjadi serangan hama dan tikus.

“Di musim hujan ini kita takut hama dan tikus menyerang padi,” ucap salah seorang petani, Wahyudi kepada apahabar.com, Sabtu (08/07/2019) pagi.

Bukan hanya itu, kata dia, hujan deras dan tingginya debit air juga berpengaruh terhadap kekuatan batang padi. Sehingga padi sangat rentan mengalami kelumpuhan. Alhasil, padi yang berkembang pun bisa mengalami kehampaan.

Apabila tak dilakukan penanganan dini, sambung dia, maka pertumbuhan padi pun tak merata. Dalam artian, sebagian padi memiliki tangkai yang tinggi dan sebagian pula rendah. Ironisnya, daun padi pun akan berubah berwarna kuning.

“Semoga pemerintah terkait bisa turun ke lapangan meninjau permasalahan petani di Batola,” harapnya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Barito Kuala (Batola), Ali Sadikin menilai kalau mengandalkan air hujan, maka tata air jadi tidak terkendali. Sehingga, katanya, harus diupayakan pembuatan saluran irigasi.

“Atau dilakukan pembersihan aliran anak sungai agar pembuangan air menjadi lancar ke aliran sungai induk Kapuas. Selain itu, dengan adanya irigasi bisa ditanam dua kali dalam setahun,” terangnya.

Peledakan hama dan penyakit, sambung dia, bisa saja terjadi seperti wereng yang sering menyerang tanaman padi. Terutama, varites lokal yang kerap ditanam oleh kebanyakan petani di Batola.

Terkait serangan tikus, ia menyarankan agar adanya penanggulangan lewat peracunan atau membuat sekat terbuat dari plastik, pastinya akan lebih banyak memakan biaya.

“Dan yang paling bagus adalah dengan cara keroyokan bersama menangkap tikus,” sarannya.

Ia mengimbau kepada dinas terkait agar terjun langsung kelapangan melihat keluhan masyarakat atas apa yang terjadi dilapangan.

Kemudiannya, segera mengambil tindakan untuk bisa mengatasi berbagai macam keluhan masyarakat terutama di bidang pertanian.

“Kita berharap agar penyuluh pertanian dan pengamat hama agar bisa setiap saat turun kelapangan,” harapnya.

Kedepan, pihaknya akan membuat program kerja yang orientasi penyuluhan langsung atau membuat semacam percontohan atau himbauan melalui baleho tentang cara bercocok tanam padi secara tepat.

Baca Juga: Gangguan Kesehatan Ini yang Kebanyakan Dialami Pemudik di Bandara Syamsudin Noor

Baca Juga: Repnas Dukung Penuh Mardani H Maming sebagai Calon Ketum HIPMI

Reporter: Muhammad Robby
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Buat Onar di Kawinan, Pemuda Kotabaru Ini Akhirnya Diringkus
apahabar.com

Kalsel

Kalsel-Jabar Sharing Soal Perhubungan
apahabar.com

Kalsel

Terdampak Wawung, Petani di Kotabaru Ngadu ke DPRD
apahabar.com

Kalsel

Wali Kota Banjarmasin Ajak Warga Dukung Agseisa di Indonesia Idol 2019
apahabar.com

Kalsel

Organisasi Masyarakat Dorong Program Cegah Lapor Berbasis Data
apahabar.com

Kalsel

Rp30 Miliar Untuk Pembebasan Lahan Jembatan Sungai Lulut
Hakim, Penjual Es Dawet Di Tapin yang Rindu Kampung Halaman

Kalsel

Hakim, Penjual Es Dawet di Tapin yang Rindu Kampung Halaman
apahabar.com

Kalsel

Ramalan Cuaca Kalsel Hari Ini, Simak Peringatan BMKG
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com