Video Detik-detik Mobil Tabrak Gerbang Masjidil Haram Mekkah dengan Kecepatan Tinggi Video Viral Rombongan Klub Harley Keroyok 2 Anggota TNI, Polisi Melerai Dicuekin, Ini Gara-garanya Biang Kebakaran Hebat di Patmaraga Kotabaru Mulai Terungkap Nasib Terkini 505 Warga Korban Kebakaran di Patramarga Kotabaru Hari Ini, 30 Warga Balangan Dominasi Kasus Positif Covid-19 di Kalsel

Harga Cabai Diprediksi Anjlok

- Apahabar.com Selasa, 11 Juni 2019 - 06:30 WIB

Harga Cabai Diprediksi Anjlok

Pedagang cabai di pasar tradisional. Foto-detikcom

apahabar.com, JAKARTA – Saat Ramadan, harga cabai merah sempat melonjak naik. Kini telah berangsur-angsur menurun. Namun, harga komoditas bumbu dapur ini diperkirakan bakal anjlok di tingkat petani.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Agrobisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid mengatakan saat ini harga cabai jenis keriting dan besar merah telah turun dan kembali ke harga normal. Sebelumnya harganya melambung tinggi mencapai Rp 100.000 per kilogram (kg).

Sedangkan, untuk cabai jenis rawit saat ini harganya tengah anjlok. Bahkan, selisih harga dengan biaya pengiriman hampir sama.

“Harga lagi jatuh, cabai rawit itu Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per kg. Ongkosnya saja Rp 3.000, tipis banget ini petani,” ungkap dia seperti ditulis detikFinance.

 Merespons hal itu, Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Suwandi mengatakan jumlah produksi cabai pada bulan ini akan mencapai 200 ribu ton. Angka itu berasal dari cabai rawit sebanyak 101.759 ton, dan cabai merah besar 115.357 ton.

Dari prediksi angka itu, maka tak heran harga cabai di tingkat petani mengalami penurunan.

“Iya sudah surplus dan harga di petani rendah. Prognosa produksi bulan Juni 2019, cabai rawit 101.759 ton, dan cabai merah 115.357 ton,” jelasnya.

Maka dari itu, Kementan berupaya untuk menstabilkan harga. Hal itu dilakukan dengan melakukan kerja sama antar koperasi untuk saling membeli kelebihan produksi cabai.

“Solusi permanennya ya petani bersatu membentuk koperasi melayani hulu-hilir ke anggotanya, input, akses modal, kemitraan dengan industri,” paparnya.

Selain itu, pihaknya juga berupaya mengembangkan pengolahan bubuk cabai kering. Sehingga bubuk masih bisa dimanfaatkan kala musim paceklik.

“Terus hilirisasi cabai dalam olahan cabai kering, bubuk dan lainnya, bisa skala rumahan maupun industri kecil. Solusi jangka pendek nih melalui TTI menyerap turun langsung ke petani,” tutup dia.

Baca Juga: Harga Karet Anjlok, Petani Karet di Balangan Budidayakan Cabai

Baca Juga: Lebaran 2019, Bandara Bersujud Alami Penurunan Penumpang

Editor: Syarif

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Umrah Distop, Puluhan Jemaah Kalsel Terancam Gagal Berangkat
apahabar.com

Ekbis

Perfect Health Indonesia, Solusi Sehat Warga Kalsel di Tengah Pandemi Covid-19
apahabar.com

Ekbis

Ciptakan SDM Unggul, BP Jamsostek Batulicin Gelar Pelatihan Alat Berat
apahabar.com

Ekbis

Ekonom: RI Bakal Jadi Pengimpor Gula Terbesar Dunia Jelang Pemilu
apahabar.com

Ekbis

Pusat Perbelanjaan di Banjarmasin Mulai Diserbu Warga
apahabar.com

Ekbis

Koperasi Bisa Lepaskan Petani Dari Jerat Tengkulak
apahabar.com

Ekbis

Instagram Saring Komentar Otomatis Bahasa Indonesia
apahabar.com

Ekbis

Hipmi Dukung APNI Sejahterakan Penambang Nikel
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com