Geger Pria di Kelumpang Kotabaru Tewas Diduga Disengat Ratusan Lebah Membeludak, Warga Barabai Terobos Kantor Disprindagkop Demi BLT UU Cipta Kerja, Ketum Hipmi Yakin Indonesia Lolos dari Midlle Income Trap Live Streaming Man City vs Porto, Link Siaran Langsung Liga Champions di SCTV-Vidio.com Malam Ini Jembatan Terpanjang Kedua Indonesia di Kaltim Sudah 90 Persen Beres

Hindari Stres Usai Libur Lebaran

- Apahabar.com Senin, 10 Juni 2019 - 07:00 WIB

Hindari Stres Usai Libur Lebaran

Macet saat mudik Lebaran. Foto-Istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Menghabiskan waktu bersama keluarga dan orang-orang terdekat selama libur Lebaran merupakan hal yang menyenangkan. Namun usai liburan jangan sampai terjebak dengan beragam permasalahan yang dapat memicu depresi yang berkepanjangan.

“Lebaran adalah ritual tahunan, bukan perayaan wajib. Namun, uniknya semua orang senantiasa berjuang mati-matian untuk dapat berlebaran di kampung halaman,” ujar dokter Dito Anurogo seperti ditulis Republika.

Ibarat pesta, kata dokter digital (online) itu, Lebaran memang pantas dirayakan meskipun semua orang tahu bahwa pesta pasti berakhir. Akan tetapi, “pesta pora” itu pun seketika menjelma “bencana” bila berjuta problematik menghadang di depan mata, terutama pascamudik Lebaran.

Ia menyebutkan sejumlah permasalahan, antara lain, kehabisan tiket pulang, merasakan macet yang luar biasa, cucian yang menumpuk, banyak tugas kantor yang belum terselesaikan, dan belum bukanya toko atau swalayan di dekat rumah.

Penulis 18 buku tentang kesehatan itu menegaskan bahwa depresi merupakan penyakit multifaktorial yang melibatkan faktor-faktor biologis (termasuk genetika dan biologi molekuler), sosial, dan psikologis.

“Semua faktor ini berkontribusi terhadap perkembangan, derajat keparahan, dan lama tidaknya episode depresif. Selama periode depresi, umumnya penderita melaporkan gejala-gejala pada aspek biopsikososial,” ujar dokter yang sedang studi S-2 Ilmu Kedokteran Dasar & Biomedis Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta itu.

Gangguan pada aspek biologis, lanjut Dito, terlihat dari gangguan tidur, perubahan selera makan, dan disharmoni seksualitas bagi yang telah menikah.

Menyinggung gangguan pada aspek psikologis, menurut dia, terdeteksi dari gangguan konsentrasi, mendadak menjadi pelupa, mudah lelah, mudah menyalahkan orang lain, sering berpikir negatif atau berpikir buruk, muncul ide untuk bunuh diri, serta merasa tidak berguna lagi dan masa depan suram.

Dito menekankan perlunya penderita depresi segera berkonsultasi kepada dokter atau psikiater terdekat. Dokter atau psikiater akan melakukan anamnesis (wawancara terstruktur, komprehensif, dan mendetail), pemeriksaan fisik dan psikiatris, pemeriksaan penunjang sesuai indikasi, dan memberikan tata laksana yang sesuai.

Baca Juga: Mudik 2019 Lancar, Masyarakat Banua Apresiasi Kinerja Polisi

Baca Juga: Pemudik di Bandara Syamsudin Noor Banyak Darah Tinggi

Editor: Syarif

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Ribuan Warga Terpaksa Mengungsi Akibat Banjir Boalemo
apahabar.com

Nasional

Syekh El Fatih Asal Sudan Kembali Hadir di Haul Guru Sekumpul
apahabar.com

Nasional

PP Muhammadiyah Minta Masyarakat Menerima Hasil Resmi Pemilu 2019
apahabar.com

Nasional

Cuma Tidur Digaji Rp200 Jutaan, Mau?
apahabar.com

Nasional

Sidang MK, Yusril: Saya Berharap Putusan Mengakhiri Konflik dan Pertikaian
apahabar.com

Nasional

Buntut Seruan ‘People Power’, Eggi Sudjana Tersangka
apahabar.com

Nasional

Wiranto Diserang, Polri: Tidak Ada Istilah Kecolongan
apahabar.com

Nasional

Jokowi Minta Kepala Daerah dan Satgas Serius Tangani Covid-19
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com