NASA Tunjuk Nokia untuk Bangun Jaringan Seluler di Bulan, 2024 Kirim Manusia Bermukim di Sana Demo Setahun Jokowi-Ma’ruf, Pelajar di Banjarmasin Kepergok Bawa Miras Jadwal Liga Champions Liverpool Vs Ajax, Klopp Pastikan Van Dijk Bakal Lebih Tangguh Setahun Jokowi-Ma’ruf, Map Merah Penuhi Jalanan Banjarmasin Tim Macan Kalsel Gerebek Wanita Buronan Kasus Penggelapan Kapal

Ironi, Ketika Keindahan Gunung Hauk Balangan Ternodai Sampah

- Apahabar.com Selasa, 11 Juni 2019 - 19:33 WIB

Ironi, Ketika Keindahan Gunung Hauk Balangan Ternodai Sampah

M Jefry Raharja anggota mahasiswa pencinta alam (Mapala) Apache STMIK Banjarbaru bersama tujuh rekannya melakukan pendakian di Gunung Hauk, Desa Ajung, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan. Foto-foto: Fauzi Fadillah

Siapa sangka Gunung Hauk menyimpan keindahan dan keanekaragaman hayati yang tak ternilai. Sayangnya, di balik keindahan Gunung yang menjulang di Desa Ajung, Kecamatan Tebing Tinggi, Balangan, menyimpan pemandangan kontras; tumpukan sampah.

Fauzi Fadillah, PARINGIN

DARI pendakian apahabar.com bersama tujuh pemuda lainnya, termasuk M Jefry Raharja anggota mahasiswa pencinta alam (Mapala) Apache STMIK Banjarbaru, dengan mudahnya ditemui serakan sampah bertebaran di sepanjang jalur dan pos pendakian di gunung setinggi 1.325 meter dari permukaan laut (MDPL) itu.

Ya, saat kebanyakan keluarga merayakan kebersamaannya dengan piknik ke tempat-tempat wisata, Jefry cs memilih berlebaran di pegunungan dalam wilayah adat Dayak Pitap tersebut.

Menurut Jefry, perilaku meninggalkan sampah sembarangan bukan cerminan seorang pendaki ulung yang sadar akan bahaya sampah anorganik.

“Agar alam bisa menguraikan atau menghancurkan sampah plastik diperlukan waktu yang lama, coba lihat plastik ini diperlukan waktu 50-100 tahun untuk terurai. Puntung rokok 10 tahun. kaleng soft drink (alumunium) 80-100 tahun,” katanya seraya menunjuk serakan sampah plastik, di sela pendakian kemarin.

Selain mencoreng keindahan alam, sampah anorganik berbahaya untuk resapan air. Dampaknya mengganggu perkembangan tumbuhan, dan mengurangi daya serap lingkungan sekitar.

Terpantau, sejumlah sampah yang ditemui umumnya adalah sampah bungkus mie instan beserta bungkus bumbu, botol air mineral, cangkir air mineral, bungkus roti, bungkus kopi dan putung rokok beserta bungkusnya.

Gerah dengan pemandangan itu, mereka berinisiatif mengumpulkan sampah yang ditemui di sepanjang jalur pendakian.

“Yang paling parah kok bisa di mata air terakhir (Sungai Habang) sampah bertumpuk. Berbahaya kan, jika airnya dikonsumsi para pendaki yang naik,” terangnya.

Tiba di Desa Ajung, trashbag atau kantong sampah berukuran 60×100 penuh dengan sampah anorganik. Menurut penuturan penduduk setempat, pascalebaran jumlah pendaki yang datang melebihi hari biasa yang hanya 5 atau 10 orang saja.

“Sebenarnya masih banyak sampah di atas (Gunung, Red), tapi hanya dua kantong kemampuan kami untuk membawa,” ujar Cecef, pendaki lain.

Sedikit gambaran tentang Gunung Hauk. Bagian dari pegunungan Meratus, gunung ini dianggap sakral/keramat.

Kerap dijadikan tempat ritual adat oleh masyarakat adat dayak Kitap, sejak 1990 gunung ini menjadi salah satu gunung favorit bagi para pendaki, baik dari Kalsel maupun luar Kalimantan, meski Gunung Hauk bukan puncak tertinggi di Banua.

“Biasa, kami juga belum pernah naik Gunung Hauk,” ujar Imam Anggota Mapala Universitas Islam Indonesia yang kebetulan pulang dari Jogja untuk berlebaran di Tapin.

Menjadi favorit, lantaran adanya tempat yang disebut Hambal Lumut di mana kawasan ini merupakan kawasan yang dipenuhi tumbuhan lumut yang tebal.

“Sehingga jika berada di sana serasa berada di atas Hambal (Karpet tebal),” ujarnya.

Tak kalah menariknya, adalah keberadaan Telaga Warna. Yaitu kolam alami yang terdapat di kawasan sebelum sampai puncak. Di mana keistimewaan kolam tersebut yakni airnya berwarna kemerah-merahan, namun saat diambil dari kolam warna berubah menjadi bersih dan bening. Bahkan rasa airnya pun sangat segar, sebagaimana rasa khas air dari pegunungan.

Ke depan, Jefry dkk berharap para pendaki yang naik ke Gunung Hauk untuk bertanggung jawab atas sampahnya masing masing.

Sebagaimana umumnya prinsip para pendaki; “Jangan Meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan mengambil apapun kecuali foto, dan jangan membunuh apapun kecuali waktu”

 

 

Editor: Fariz Fadhillah

 

 

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

54 Orang Terjaring Razia Pekat; Kasus Prostitusi Online hingga Pesta Sabu
apahabar.com

Kalsel

Siang Hari di Kalsel Masih Diguyur Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang

Kalsel

Dini Hari, Puluhan Remaja Terjaring Operasi Cipkon di Banjarmasin Utara
apahabar.com

Kalsel

Paman Birin Kembalikan Berkas Pencalonan, PKS: Tunggu Keputusan Pusat
apahabar.com

Kalsel

Penyerangan di Polsek Daha, Polda Kalsel Gandeng Densus 88
apahabar.com

Kalsel

CFD Banjarmasin Ramai Didatangi Warga, Ibnu Sina: Kami Tidak Ingin Masalah Baru
apahabar.com

Kalsel

Duh, Lahan Terbakar di Tabalong Diduga Sengaja Dibakar Pemiliknya
apahabar.com

Kalsel

Kotabaru Geger Api, Sehari Dua Lokasi Terbakar
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com