Duh, Zona Hitam Covid-19 di Banjarmasin Bertambah! Selama Pandemi, Biaya Operasional Bekantan Kalsel Kian Melonjak Belasan Warga Kalsel Terimbas Penyusutan Karyawan Lion Air KPK OTT Bupati Kutai Timur dan Istrinya di Jakarta Nekat, Preman di Pekapuran Todongkan Pisau ke Polisi




Home Opini

Sabtu, 22 Juni 2019 - 10:12 WIB

Memurnikan Sakit Berbekal Tauhid

Redaksi - Apahabar.com

Ilustrasi sakit. Foto-Istimewa

Ilustrasi sakit. Foto-Istimewa

Oleh: Kadarisman

apahabar.com

Kadarisman. Foto-Istimewa

SALAH satu sunatullah bagi manusia adalah sakit. Siapapun yang pernah merasakan hidup, berjumpalah dia dengan sakit. Berjumpa juga dia dengan musibah. Berjumpa dia dengan getir kehidupan. Bangun dan jatuh adalah fitrah.

Dan sejatinya sakit adalah medium Allah SWT menyampaikan hikmah, agar manusia tidak terperosok sebagaimana Firaun di dalam keingkaran.

Firaun manusia yang mengaku Tuhan, oleh sebab dia tak pernah sakit seperti kita. Ingat kata Fir’aun sebagaimana diabadikan di Al Qur’an: “Akulah tuhan tertinggi kalian!” (QS. An Nazi’at: 24)

Itulah sebab jika Allah menimpakan sakit, bersyukurlah Allah telah menyematkan kita dari kesesatan tauhid.

Bila sakit, Allah sayang akan kita. Dalam surah Al An’am: 42 bagaimana Allah menyertakan derita dan siksa di dalam kehidupan manusia agar mereka kemudian bermohon kepada Allah dengan tunduk dan merendahkan diri.

Banyak dari kita yang gagah ini lupa hakikat kenapa dia semula diciptakan. Kita lupa siapa kita, untuk apa kita ada, dari mana kita berasal dan ke mana kita kembali. Kita lupa.

Maka sakit kemudian menjadi obat bagi jiwa untuk kembali kepada dirinya yang hakiki. Jadilah orang yang sakit itu lebih mengingat Allah ketimbang ketika dia sehat.

Ucapan lisannya berucap selalu nama-nama Allah. Lantunan istighfar mengalun lembut. Diresapinya deritanya. Diterimanya sakit itu. Dinikmatinya, hingga terkembang senyumannya: Allah, Alhamdulillah.

Orang yang sakit mesti memurnikan sakitnya dari hal yang mendistorsi  ketauhidannya.

Tauhid kemudian menjadi solusi terefektif mengembalikan keseimbangan hormon tubuh untuk bekerja secara normal kembali.

Sakit apapun yang menimpa manusia tiada bukan dan tiada lain atas kehendak dan izin Allah. Jin dan manusia dan apapun tak memiliki kekuasaan untuk memberikan mudarat atau pun manfaat

Ingat kata Allah: “Katakanlah (Muhammad), ‘Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang beriman harus bertawakal.’” (QS. At Taubah: 51).

Tak ada sakit itu oleh karena siapapun. Allah lah yang punya otoritas dalam hal ini. Namun demikian, sakit yang Allah tetapkan kepada manusia lebih disebabkan pilihan manusia itu sendiri.

Di dalam Asyura: 30, dijelaskan tiap musibah yang manusia dapati itu karena buah tangannya sendiri. Artinya disebabkan oleh buah pikiran atau emosi, buah perasaan dan buah perbuatannya.

Memurnikan sakit menjadi penting. Memurnikan sakit berarti memurnikan pemahaman, sekaligus memurnikan tauhid.

Menjauhkan diri dari pikiran dan energi yang negatif, sakwasangka, dan kultus yang jadi penyebab Allah menjauh. Firman, Allah, jika Dia sangatlah dekat. Lebih dekat dari urat leher itu sendiri. Berdoalah pada-Nya, niscaya Dia kabulkan. Pertanyaannya sudahkah kita merasa ada Allah di tiap detak jantung dan aliran darah kita? Hadirkan Allah, dan berdoalah. Waidza maridto fahuwa yasyfiin: jika aku sakit, Dia-lah yg menyembuhkan.

Lalu bagaimana dengan memurnikan sakit dan tauhid kesembuhan itu bisa bekerja lebih cepat? Bagaimana Dia (Allah) menyembuhkan? Bukankah kalau sakit harus dikasih obat, pergi ke dokter supaya bisa sembuh?  Total bertauhid adalah solusi penyembuh seketika. Jika saya kupas secara tauhid tak cukup selembar dua. Saya ingin mulai dari hal yang sederhana.

Kita akan berangkat dari aspek fenomena neurologis, cabang pengetahuan yang mengupas sistem syaraf dan cara kerja otak manusia. Bagaimana hakikat sakit itu ada dan kemudian dapat ditiadakan.

Rasa sakit yang kita kenal adalah dampak dari konsekuensi sesuatu yang bersifat lokal: Terbentur sakit, tergores sakit, disuntik sakit, diputusin pacar sakit, ditangkap KPK sakit dll. Ada banyak orang mengalami hal serupa tapi tak sama takaran sakitnya. Berbeda. Bahkan ada yang tak merasa sakit.

Dalam terminologi kedokteran ada istilah Nosisepsi atau nosiseptor. Dia adalah sel-sel tertentu yang bertugas mendeteksi rangsangan berbahaya untuk dikirim ke otak. Otoritas bahwa sesuatu itu sakit atau tidak sakit ada pada otak, bukan pada fisik yang terpapar asal sakit. Jadi di sinilah rahasia Allah itu bekerja.

“Afala ta’qilun, afala tatafakkatun”: apakah kamu tidak menggunakan akalmu, apakah kamu tidak memikirkannya, kata Allah di dalam Al Quran.

Kenalilah dirimu, agar kau mengenal Dia Sang Khalik yang menciptakanmu. Otak manusia adalah kendali sentral atas seluruh organ dan psikis manusia.

Semakin besar penentangan manusia atas setiap kejadian yang telah Allah taqdirkan, semakin payah yang ia dapati. Allah telah mengajarkan bagaimana hidup dilandaskan pada rasa ikhlas dan syukur. Memasrahkan semua hal kepada-Nya memicu otak alam bawah sadar men-setting energi-energi kebaikan berproduksi lebih sempurna. Jika kau sakit akan sembuh.

Ketika hati menghadirkan ikhlas sebagai ganti keluh resah atas sakit yang diderita fisik, maka hormon endorfin yang sefungsi morfin akan diproduksi di dalam tubuhnya. Apa fungsinya hormon endorfin?

Endorfin akan menekan titik sakit dan melenyapkannya seketika. Ikhlas mampu menciptakan 200 kali lebih kuat dari zat morfin. Itu sebab beberapa pengalaman di healing, kesembuhan berefek seketika. Dengan memurnikan tauhid hormon positif di dalam tubuh manusia seperti Serotonim, dufamin, endorfin dan oksitosin akan menstabilkan fungsi tubuh lebih baik dari sebelumnya.

Di sinilah rahasia penyembuhan tercepat untuk semua keluhan fisik dan psikis. Metode Spritual Emotional Freedom Technique (SEFT) berbasis revolusi tauhid membantu siapapun menemukan penyembuhan sesungguhnya. Hanya dengan memurnikan sakit untuk lebih mengenal tauhid, Allah akan menyembuhkan sakit seketika itu, sesuai dengan apa doamu.

“Dzalikal kitabu la raibafiihi hudalil Muttaqin”

Pada Alquran itu tidak ada keraguan padanya. Dan pada Alquran itu adalah petunjuk. (*)

Penulis adalah Konsultan PFH Healing SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) pada Rumah Quran Yayasan Abulyatama Tabalong.

Baca Juga: Menyoal Pelayanan RSUD

Baca Juga: Tantangan Sang Sultan

======================================================================

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Peran Tenaga Medis, Komitmen Pemerintah dan Masyarakat di Tengah Pandemi Covid-19
Mengangguk Opini Publik Balangan, Jelang Pilkada

Opini

Mengangguk Opini Publik Balangan, Jelang Pilkada
apahabar.com

Opini

Susah Salaman, Jadilah Wartawan
apahabar.com

Opini

Herd Immunity, New Normal, dan Hidup Berdampingan dengan Virus
apahabar.com

Opini

Konsistensi Perspektif Fiqh
apahabar.com

Opini

Perppu (Offside) Melawan Covid
apahabar.com

Opini

Tes Wawasan Kebangsaan, Aktor Baru dalam Seleksi Para Calon Abdi Negara
apahabar.com

Opini

Polemik Agenda Kebijakan Haluan Ideologi Pancasila
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com