ga('send', 'pageview');
Sekelumit Peran BRG di Kalsel, Lembaga yang Bakal Dibubarkan Jokowi Jadi Gubernur Butuh Rp100 Miliar, Rosehan: Saya Tak Punya Uang Horeee, Temuan Vaksin Bikin Rupiah Berpeluang Menguat Sidak ke HBI, Petugas Sindir Pengelola Nashville Pub Salip Pekapuran, Teluk Dalam Tertinggi Kasus Covid-19 di Banjarmasin




Home Sirah

Rabu, 19 Juni 2019 - 09:20 WIB

Menuju Haul Syekh Kasyful Anwar ke-81, Sosok Dibalik Pendidikan Formal Ponpes Darussalam

Redaksi - Apahabar.com

Syekh Kasyful Anwar Al Banjari. Foto-Istimewa

Syekh Kasyful Anwar Al Banjari. Foto-Istimewa

Oleh: Ahya Firmansyah

apahabar.com, BANJARMASIN – Sangat beruntung warga Kalimantan Selatan memiliki ulama sekaliber Syekh Kasyful Anwar. Selain Syekh Muhammad Arsyad, ulama yang satu ini adalah pemicu bertebarannya ulama di Kalimantan Selatan.

Syekh Kasyful Anwar lahir di Desa Kampung Melayu, Martapura, 4 Rajab 1304 H/29 Maret 1887. Beliau adalah ulama asal Martapura yang dilahirkan pada permulaan abad ke-20 dan dikenal sebagai peletak dasar dibentuknya sistem pendidikan formal Pondok Pesantren Darussalam, Martapura dari semula berbentuk majelis Ta’lim.

Syekh Muhammad Kasyful Anwar adalah putra KH Ismail bin Muhammad Arsyad bin Muhammad Sholeh bin Badruddin bin Maulana Kamaluddin.

Memasuki usia tamyiz, jiwanya sudah dipenuhi dengan cahaya Alquran dan diasuh langsung oleh orang tuanya sendiri. Di masa mudanya beliau tidak belajar di bangku sekolah, karena pada saat itu di Kampung Melayu belum ada madrasah formal.

Beliau menuntut ilmu agama dengan beberapa masyayikh seperti berguru kepada Al-Alim Al-Allamah Syekh Ismail bin Ibrahim bin Muhammad Sholeh bin Mufti Syekh Zainuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Al Alim Al Allamah Syekh Abdullah Khatib bin Muhammad Sholeh bin Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Pada usia ke-9 tahun, Syekh Muhammad Kasyful Anwar dibawa oleh kakek, nenek dan kedua orang tuanya untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agama kepada ulama di Kota Makkah.

Sebagai pendatang yang belum pandai berbahasa Arab, beliau belajar kepada Al-Alim Al-Allamah Syekh Muhamamd Amin bin Qadhi Haji Mahmud bin Asiah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, seorang ulama yang berasal dari Kampung Pasayangan Martapura dan sudah lama menetap di Kota Makkah.

Selama belajar di Makkah beliau berguru dengan ulama-ulama besar seperti Sayyid Ahmad bin Sayyid Abu Bakar Syatha, anak dari pengarang kitab I’anah Al Thalibin, Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas penulis kitab Tadzkirunnas, Syekh Muhammad Ali bin Husein Al-Maliki yang bergelar Sibawaihi pada zamannya (sangat alim dan memiliki berbagai keahlian bidang ilmu), Syekh Umar Hamdan Al-Mahrusi dan banyak lagi ulama-ulama besar yang pernah menjadi guru beliau.

Setiap cabang ilmu yang dipelajari, selalu ditelusuri sanadnya, terutama di bidang fiqih, hadits, wirid, dan hizib-hizib. Di bidang hadits, beliau mempelajari secara langsung sebanyak 40 hadits musalsal yang disusun oleh Syekh Mukhtar Atthatih kepada Syekh Muhammad Ahyad Al Bughuri beserta praktiknya baik memakai sorban, libasul hirqah as-shufiah, dzikir, mushafahah, musyabaqah, munawalatussubhah, dan lainnya yang termaktub di kitab tersebut.

Syekh Muhammad Kasyful Anwar juga mengambil ijazah Dalailul Khairat dan Burdatul Madih Al Mubarakah dari Syekh Muhammad Yahya Abu Liman, Syekh Dalaiul Khairat dengan sanad yang mutthasil kepada penyusun keduanya.

Sepulangnya ke tanah kelahiran, Syekh Muhammad Kasyful Anwar berjuang pada dunia pendidikan sebagai pengajar di Pondok Pesantren Darussalam, Martapura. Beliau menjadi pimpinan pada periode ketiga selama 18 Tahun (1922-1940).

Dalam kepemimpinan beliau terjadi perubahan-perubahan fundamental baik di bidang sistem pendidikan, penyusunan kurikulum, pemberdayaan tenaga pengajar, maupun peningkatan infrastruktur yang meliputi pembangunan sarana dan prasarana fisik bangunan.

Cara pengajian Pesantren Darussalam yang sebelumnya berupa halaqah diubahnya menjadi model pengajaran klasikal dan berjenjang.

Dengan adanya pembaharuan sistem dan metode pendidikan yang dilakukan Syekh Muhammad Kasyful Anwar di Pesantren Darussalam, membuat banyak santri berdatangan dari berbagai daerah di Kalimantan yang belajar di Pesantren Darussalam.

Dalam beberapa tahun saja, para alumnusnya telah tersebar ke berbagai pelosok Kalimantan dan mendapat kepercayaan dari masyarakat kaum muslimin setempat untuk membuka pengajian majelis taklim, mendirikan madrasah, dan pondok pesantren.

Baca Juga: Tiang Datu Ujung yang Dikeramatkan Ternyata Ada Dua

Baca Juga: Masjid Ini Dipercaya Mengeluarkan Minyak, Benarkah?

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Sirah

Kesultanan Banjar Menjadi ‘Bagian’ Khilafah Islamiyah di Turki
apahabar.com

Religi

Tak Banyak yang Tahu, Datu Sanggul Pernah Menyalurkan Ilmu Melalui Sastra
apahabar.com

Sirah

Akibat Kejadian Ini, Tuan Guru Zainal Ilmi Batal Disemayamkan di Makam Pahlawan
apahabar.com

Religi

Mengintip Rambut Rasulullah SAW dari Berbagai Hadis
apahabar.com

Sirah

Mengingat 1976; Gemparnya Berita Guru Ibad Masuk Partai Penguasa, Seizin Ketua PBNU?
apahabar.com

Sirah

Masjid Jami Sungai Jingah (1); Terancam Runtuh, Bangunan pun Dipindahkan
apahabar.com

Religi

Said Agil Munawar Ceritakan Betapa Mudahnya Syekh Yasin Bertemu Rasulullah
apahabar.com

Sirah

Menjelang Wafat, Tuan Guru Husin Ali Kembali Berlaku Ganjil
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com