Video Detik-detik Buaya Raksasa Diangkat dari Sungai Kayubesi Babel, Diyakini Warga Sebagai ‘Siluman’ Kasus Pembunuhan Istri Muda Pembakal di HST Inkrah, Jaksa Eksekusi Terpidana ke Martapura Muatan Politis dalam Pencopotan Sekda Tanah Bumbu Kantongi 3 Barang Bukti, Bawaslu Dalami Dugaan Pelanggaran BirinMU BW, Eks Pimpinan KPK Buka-bukaan Alasan Turun Gunung Bantu H2D

Susah Salaman, Jadilah Wartawan

- Apahabar.com Rabu, 19 Juni 2019 - 10:27 WIB

Susah Salaman, Jadilah Wartawan

Ahmad Rosyadi. Foto-Istimewa

Mengabulkan sebagian isi inbox Instagram dan FB: “Bang, pabila pian menulis lagi? Ulun katuju membaca pengalaman pian. Kalo tulisan opini atau kisah-kisah ulama, banyak aja di internet. Kutipan bahan tulisan kaya itu bahambur di Wikipedia wan Google, tinggal copy paste, tambahi sedikit. Mun tulisan pian pengalaman sorangan”.

Oleh: Ahmad Rosyadi

SEJAK tiga tahun terakhir, ada hal menarik pada saat Idulfitri di sejumlah tempat di Martapura. Ada empat lokasi yang jadi fokus saya: Masjid Agung Al Karomah, Masjid Syia’rus Shalihin Jalan Ahmad Yani perempatan Sekumpul, Masjid Bani Ahdal Sekumpul Ujung dekat Batas Kota, dan musala di kampung saya.

Sesudah Salat Id, kala khutbah belum rampung, sebagian jemaah segera berangkat ke Musala Ar Raudhah. Tujuan mereka cuma satu, menunggu kesempatan bersalaman dengan putra Guru Sekumpul, H Muhammad Amin Badali dan H Ahmad Hafi Badali.

Lebaran 2017, jemaah menunggu dalam musala dan setelah itu antre bersalaman di rumah Guru. Yang di luar musala terpaksa cuma bisa melihat antrean dari jauh.

Idulfitri 2018, momen ini tidak ada walau banyak yang sudah bergegas dan menunggu.

Saat itu lebaran jatuh pada Jumat, waktunya mepet. Lebaran Rabu dua pekan lalu, banyak juga yang menunggu dan mencari informasi apakah Open House digelar lagi. Ternyata, tahun ini kesempatan diberikan kepada petugas dan khadam Kompleks Sekumpul.

Melihat hal itu, pikiran saya terkenang dengan hal serupa tapi tak sama pada 1994. Bertemu Guru Sekumpul mungkin idaman banyak orang. Ketika menjadi bagian di antara ribuan jemaah pengajian, saya berangan-angan bisa bertemu langsung dengan Guru. Tapi sangat sulit mencari kesempatan demikian.

Guru Sekumpul tidak mungkin menerima ribuan jemaah satu per satu. Saya cukup melihatnya memberikan ceramah dari layar televisi. Jangankan bertemu dan berbicara langsung, bersalaman dengan Guru pun hanya muncul dalam khayalan.

Saya pertama kali mendengar langsung ceramah Guru Sekumpul pada 1988. Hari dan tanggalnya saya hafal sampai sekarang, Sabtu, 25 Juni.

Mengapa saya ingat, karena saat itu TVRI sedang menyiarkan Final Kejuaraan Sepak Bola Eropa Piala UEFA di Jerman Barat, antara Uni Soviet melawan Belanda. Saya hafal bener nostalgia itu. Belanda menang 2-0 dengan 4 pemain utamanya Ronald Koeman, Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Ruud Gullit.

Hari itu saya bersama Ibu berkunjung ke rumah Paman, H Gusti Chairiansjah, di rumah Jl Sasaran Martapura. Rumah sepupu Ibu ini jaraknya tak sampai 200 meter dari Musala Darul Aman, tempat Guru pertama membuka pengajian, sebelum hijrah ke Jalan Sungai Kacang (kelak ganti nama jadi Jalan Sekumpul).

Jemaah yang hadir memenuhi jalan sampai ke depan halaman rumah Om. Sore itu, di saat Guru berceramah, saya malah ikut nonton bola. Sesekali kami mendengar ceramah karena memang pengeras suara juga terdengar nyaring karena dipasang di sejumlah tempat.

Tahun 1990 pertama kali saya ikut pengajian di Sekumpul bersama kakak. Dibonceng naik sepeda, awalnya saya ke Sekumpul mau memakai celana panjang.

Belakangan baru tahu bahwa “adabnya” harus pakai sarung. Umur 11 tahun tidak bisa makai sarung, akhirnya saya diajarkan cara memasang tapih, teori dan langsung praktek. Ganal am sempolan

Klik halaman selanjutnya

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Corona Bukan Sebab Kematian
apahabar.com

Opini

Pemimpin Sebagai Ujung Tombak Kualitas Kebijakan Publik
apahabar.com

Opini

Catatan Kadarisman, Implementasi Blunder Kebijakan Publik
apahabar.com

Opini

Palangka Raya: Jejak Rusia dan Kandidat Ibu Kota dari Masa ke Masa
apahabar.com

Opini

Ramadan yang Sebentar Lagi Meninggalkan Kita
apahabar.com

Opini

Covid-19 dan Siasat: Menciptakan Political Distancing
apahabar.com

Opini

Kisah Desaku: Tolak Bala Cegah Corona
apahabar.com

Opini

Rahasia Guru Zuhdi Ketika Sakit
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com