Rekonstruksi Pembunuhan di Buncit Indah, Satu Pelaku Sakit Dikabarkan Tertangkap Pesta Sabu, SRN Anggota DPRD Tanah Laut Buka Suara MUSDA Kian Sengit, Rikval Fachruri Bidik Posisi Ketum HIPMI Kalsel Tersetrum, Petugas PLN di Kandangan Nyangkut di Tiang Listrik Angin Puting Beliung Ngamuk, Puluhan Rumah di Banjar Poran Poranda

Tanggapan Dinas ESDM Kalsel Terkait Tercemarnya Sungai Amandit HSS

- Apahabar.com Jumat, 28 Juni 2019 - 15:16 WIB

Tanggapan Dinas ESDM Kalsel Terkait Tercemarnya Sungai Amandit HSS

Sungai Amandit, Loksado, Kabupaten HSS, keruh akibat limbah pertambangan batu bara. Foto diambil pada 3 April 2019. Foto-istimewa

apahabar.com, BANJARBARU – Kepala Bidang di Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalsel, Sutikno angkat bicara soal tercemarnya Sungai Amandit di Hulu Sungai Selatan (HSS) beberapa hari ini.

Ia tak menampik jika aktivitas pertambangan jadi salah satu penyebab tercemarnya sungai tersebut.

Meski demikian, ESDM Kalsel menilai banyak faktor yang mengakibatkan air Sungai Amandit berubah jadi kuning keruh.

apahabar.com

Kepala Bidang Energi ESDM Kalsel, Sutikno dalam kegiatan Bimtek di salah satu hotel, Banjarbaru. Foto-apahabar.com/Fida

“Mengenai kondisi di Sungai Amandit ini banyak faktor, di situ ada penambangan baik PKP2B maupun IUP. Yang sangat agak dramatis mencemari Sungai Amandit ini terutama adalah penambang pasir yang dengan sistem pompa di atas sungai,” kata Kepala Bidang ESDM Kalsel, Sutikno ketika ditemui apahabar.com dalam kegiatan Bimtek di salah satu hotel Banjarbaru, Kamis (27/06/2019) tadi.

Tak dipungkiri pasir batuan yang diambil itu untuk keperluan pembangunan rumah warga sendiri.

Kendati demikian, ia berharap proses penggalian ini sesuai dengan kaedah yang berlaku. “Pengelolaan penggalian batuan ini akan coba kita tata dengan Dinas Energi ESDM, bagaimana dalam tata cara penggalian batuan terutama eksploitasi pasir yang langsung dari sungai ke atas perahu yang benar,” terangnya.

Pihaknya, ungkap Tikno, sudah punya solusi yaitu dengan disedot langsung ke darat. Karena jika diangkat dari sungai ke darat langsung partikel lumpur itu akan ke luar bersama air sehingga, warna airnya menjadi cokelat.

“Tapi ya di samping itu juga ada penambangan misalnya PT AGM agar dibina secara intensif dari beberapa sektor baik dari Dinas ESDM dan tentunya dari Dinas Lingkungan, kemudian KUD Karya Murni juga, ya tidak langsung melalui parit-parit, melalui guntung kemudian masuk ke sungai kecil lalu lah ke Sungai Amandit,” jelasnya.

Ia menuturkan ke depan pihaknya akan mengupayakan sinergitas pengelolaan sumber daya alam dengan kerusakan lingkungan.

“Kemarin ada rekan-rekan memang yang ke sana. Ya memang sih ada indikasi pertambangan, karena saat ini pasir itu kan baru aja. Ya kami mengupayakan sinergitas sumber daya alam dan kerusakannya,” papar Tikno.

Ia juga menjelaskan mengenai baku limbah yang ditoleransi air sungai. Karena dulu, lanjutnya, Sungai Amandit ini tahun 2010 masih kelihatan dasarnya, tapi sekarang mulai kuning. Artinya menurut Tikno, Total Suspended Solid (TSS) limbahnya perlu dicek ulang.

Perlu diketahui, kata Tikno, secara teknis, TSS itu baku limbah ditoleransi di sungai adalah 50. Tetapi, paparnya, Permen No 113 Tahun 2003 dan Pergub Tahun 2007 menyebutkan bahwa baku limbah TSS untuk pengusahaan tambang itu adalah 200.

Jadi, ungkapnya, terjadi tumpang tindih mengenai kadar baku limbah air sungai yang ditoleransi. “Jika permen 50, di sini toleransinya 200. Nah, kalau 200 ini masuk sungai, otomatis pada saat itu langsung merubah sungai kemudian lumpur bagaimana? Namanya partikel-partikel ini akan mengendap, kemudian di eksploitasi pasirnya, akhirnya berantakan nah itu gambarannya seperti itu,” paparnya.

Untuk masalah pencemaran sungai ini pihaknya sudah melaporkan kepada Gubernur Kalsel Sahbirin Noor lewat pelaporan elektronik, yang bernama Lapor Paman. Di mana masa penanggapan laporannya adalah 5 hari.

“Kami sudah sempat menerima laporan kemudian saya teruskan, salah satunya melaporkan terjadinya pencemaran Sungai Amandit akibat penggalian batuan pasir, dan itu kemarin sudah dilakukan survei tindakan dan ini insyaallah akan terus ditindaklanjuti,” lanjutnya lagi.

Tikno juga turut menyayangkan kondisi sungai Amandit yang tercemar. “Saya juga secara pribadi maupun kedinasan, sayang ya potensi sungai-sungai yang bagus tetapi tercemari, bagaimana pun penambang oke, tapi jangan merusak,” tutupnya.

Baca Juga: Pacu Konservasi Energi, ESDM Kalsel Gelar Bimtek

Baca Juga: Dinas ESDM Ancam Tutup Satu Perusahaan Tambang Nakal, Beranikah?

Reporter: Ahc06
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

Kebakaran Sutoyo

Kalsel

Kebakaran Hebat di Sutoyo Banjarmasin, Api Mulai Dijinakkan
apahabar.com

Kalsel

Kabupaten Banjar Juara Umum Festival Durian Kalsel
Demi Cegah Covid-19, Masa Berlaku SIM Diperpanjang

Kalsel

Demi Cegah Covid-19, Masa Berlaku SIM Diperpanjang
apahabar.com

Kalsel

Alasan Divisi Humas Polri Gelar Supervisi di Polresta Banjarmasin dan Polres Banjarbaru
apahabar.com

Kalsel

Hari Terakhir SBMPTN, Calon Mahasiwa Masih Ramai ke ULM
apahabar.com

Kalsel

Acil Pasar Terapung Ikut Urai Sampah Sungai Bawah Jembatan
apahabar.com

Kalsel

Warga Positif Covid-19, KTB Komplek Swadarma Lestari Siapkan Rumah Isolasi
apahabar.com

Kalsel

Heboh Warga Badandan di Batola Memperoleh Sumber Gas
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com