JANGAN PANIK! Banjarbaru Resmi Terapkan PPKM Level IV 26 Juli Keren, Gerakan Aksi Peduli Warga Isoman Bermunculan di Banjarmasin Windy Cantika Sumbang Medali Pertama Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020 Kebakaran Gang Nuri, Asrama Anak Yatim Ikut Ludes Terbakar BREAKING! Api Kembali Berkobar di Gang Nuri Banjarmasin

Air Produksi PDAM Batola Dikeluhkan

- Apahabar.com     Minggu, 21 Juli 2019 - 14:29 WITA

Air Produksi PDAM Batola Dikeluhkan

PDAM Barito Kuala kesulitan memperbaiki kualitas air produksi di Marabahan. Foto-apahabar.com/Bastian Alkaf

apahabar.com, MARABAHAN – Menetap di ibukota kabupaten, warga Marabahan justru harus merasakan kondisi air yang kurang memadai dari PDAM Barito Kuala.

Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi air PDAM Batola, terutama di Marabahan dan sekitarnya, memang tidak stabil. Terkadang berkualitas bagus, tetapi lebih sering berasa asam dan keruh.

Bahkan, tak sedikit warga yang menggunakan air PDAM hanya untuk mencuci dan mandi. Sementara untuk minum dan memasak, mereka terpaksa membeli air isi ulang yang didatangkan dari Banjarbaru.

“Sebenarnya untuk mencuci pun, air PDAM masih kurang memenuhi syarat, terutama baju putih. Biasanya langsung menguning kalau dicuci berkali-kali,” papar Didik, warga Jalan H Hadariah Marabahan, Minggu (21/07/2019).

Sebagian warga lain masih menggunakan air PDAM, tetapi dengan tambahan perlakuan. Air lebih dulu ditampung dalam tandon, kemudian dibiarkan satu malam bersama larutan kapur, sebelum dikonsumsi untuk keperluan minum dan memasak.

Situasi tersebut tampaknya masih berlangsung dalam beberapa tahun kedepan, mengingat PDAM Batola mengklaim kesulitan mengatasi masalah keasaman air baku dari Sungai Barito.

“Harus diakui kalau kami kesulitan mengatasi keasaman. Hal tersebut disebabkan air baku Marabahan yang terlalu asam dan sulit diolah. Semuanya perlu pembenahan lagi,” sahut Nazhirni, Kabag Administrasi dan Keuangan PDAM Batola.

“Sebaliknya kualitas air di kecamatan lain sudah bagus, seperti Alalak yang menggunakan sumber baku dari Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar,” sambungnya.

Sedangkan kecamatan lain seperti Tamban, Mekarsari, Tabunganen, Anjir Pasar dan Anjir Muara hanya bermasalah dengan keasinan, terutama akibat kemarau.

“Tetapi mulai 2020, Anjir Muara dan Anjir Pasar tak lagi bermasalah dengan keasinan, seiring perampungan proyek pengambilan air baku dari Sungai Tabuk. Selanjutnya diatas 2022, Anjir Muara menyuplai air ke Tamban, Tabunganen dan Mekarsari,” jelas Nazhirni.

Namun PDAM Batola belum menemukan penyebab peningkatan keasaman Sungai Barito. Dispekulasikan bahwa keasaman tersebut disebabkan pembukaan lahan untuk perkebunan sawit.

“Kami tak bisa memastikan keasaman itu disebabkan sawit. Dalam empat sampai lima tahun terakhir sebelum perkebunan sawit dibuka, kami juga sudah kesulitan bahan baku,” tukas Nazhirni.

“Kalau ditarik lebih jauh lagi, tepatnya setelah lahan 1 juta hektar dibuka, air Sungai Barito berubah jelek,” imbuhnya.

Lahan 1 juta hektar merupakan proyek pembangunan Orde Baru di Kalimantan Tengah yang bertujuan mengubah lahan gambut dan rawa untuk penanaman padi. Proyek tersebut dijalankan dengan cara membuat kanal-kanal yang bermuara di Sungai Barito.

Namun proyek bernilai triliunan ini berakhir dengan kegagalan. Sekitar separuh dari 15.594 keluarga transmigran yang ditempatkan kawasan tersebut meninggalkan lokasi. Sedangkan penduduk lokal menanggung kerugian akibat kerusakan sumber daya alam.

“Tetapi kami enggan mengambil kesimpulan kalau keasaman Sungai Barito disebabkan lahan 1 hektar. Bisa saja penurunan kualitas air disebabkan perilaku membuang sampah ke sungai,” tegas Nazhirni.

“Namun faktanya Marabahan bermasalah dengan asam. Kalau air jernih berarti asam meninggi. Sedangkan kalau keruh berarti asam kurang, tetapi sulit dijernihkan akibat endapan halus yang melayang,” tandasnya.

Sementara Dinas Lingkungan Hidup Batola dalam pemeriksaan sampel air per 23 April hingga 10 Mei 2019, menemukan ph keasaman Sungai Barito mencapai 6,26 poin.

Berdasarkan SNI 06-6989.11-2004, standar ph air ditetapkan dalam rentang 6,5 hingga 8,5 poin. Sedangkan mutu air sungai dalam Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan No5 Tahun 2007, range mutu air ditetapkan 6 hingga 9 poin.

Baca Juga: Upaya Pemerintah Hindia Belanda Dulu, Menjaga Esksitensi Pelabuhan Lama

Baca Juga: Weekend, Polsek Martapura Kota Kontrol Situasi di Area Makam Guru Sekumpul

Baca Juga: Meriahnya Festival PAUD dalam Rangkaian Sehati Plus Cinta Fiesta

Baca Juga: Cegah Kriminalitas, Polsek Banjarmasin Timur Lakukan Patroli

Reporter: Bastian Alkaf
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

PPKM Mikro

Kalsel

PPKM Mikro Diperpanjang, Kalsel Masuk Tambahan 5 Provinsi Prioritas Nasional
Covid-19

Kalsel

Kalsel Hari Ini, 85 Orang Sembuh dari Covid-19
PTUN

Kalsel

Gugatan Korban Banjir Melawan Gubernur Kalsel, Tim Advokasi Sajikan Puluhan KTP Warga
apahabar.com

Kalsel

Cerita Mistis Dibalik Pengangkatan Meriam Belanda di Martapura
apahabar.com

Kalsel

Diguyur Hujan Sedang, BMKG: Waspadai Petir dan Angin Kencang di Kalsel
Setahun Covid-19

Kalsel

Paparan Covid-19 Kotabaru Nihil Hari ini, Sembuh 18
apahabar.com

Kalsel

Oknum Honorer Otaki Pencurian Aset Dinas Perpustakaan Banjarbaru

Kalsel

Pilgub Kalsel 2020, Naik Motor, Paman Birin Penuhi Panggilan Bawaslu Kalsel
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com