Sasar Mahasiswi Tanah Bumbu, Gembong Jambret Banjarmasin Bertekuk Lutut Banjarmasin Timur Tegang, Remaja Bersajam Kejar-kejaran di Kafe Arwana 2 Mahasiswa Tersangka, Rektor ULM Pasang Badan, Ada Dugaan Miskomunikasi di Kepolisian Sungai Hantakan Meluap, 12 Pondok di Pulau Mas HST Larut Terbawa Arus Libur Panjang di Marabahan, Kelotok Susur Sungai Barito Dibikin Kewalahan

Catatan Sejarah (I), Kakek Asing di Banua Anyar Banjarmasin Bawa Jukung ke Pentas Dunia

- Apahabar.com Minggu, 28 Juli 2019 - 12:40 WIB

Catatan Sejarah (I), Kakek Asing di Banua Anyar Banjarmasin Bawa Jukung ke Pentas Dunia

Erik Petersen (kiri) bersama rekannya asal Denmark. Foto-Koleksi keluarga Kai Asing, Banua Anyar Banjarmasin.

apahabar.com, BANJARMASIN – Erik Petersen. Tidak banyak Urang Banua yang mengenalnya. Berbeda dengan di daratan Eropa. Mulai Laut Baltik hingga Kepulauan Faroe, namanya begitu tenar dengan karya monumentalnya yang mendunia.

Ya, dialah si kai asing, warga Banua Anyar Banjarmasin. Si penulis buku Jukung-Boats from the Barito Basin, Borneo yang terbit tahun 2000.

“Karya yang menjadi rujukan utama akademisi Eropa dan Asia dalam kajian sejarah maritim, arkeologi laut, dan arkeologi eksperimental,” ucap Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Mansyur, kepada apahabar.com, Minggu (28/07/2019) pagi.

Keberadaan karyanya memberi banyak spektrum dalam dunia akademis, khususnya kajian maritim. Berkat tangan dinginnya juga, perahu tradisional Kalimantan, Jukung Borneo bisa hadir dalam pameran kelas dunia di Denmark tahun 2000-an.

Wajar jika atensinya ditulis dalam tinta emas. Kai asal Denmark ini berjasa besar memperkenalkan jukung, karya Urang Banua di bidang transportasi perairan ke pentas internasional, khususnya di benua biru.

Erik Petersen, berprofesi sebagai arsitek perencana. Kelahiran Denmark, tahun 1930. Petersen mulai bekerja sejak 1956 hingga pensiun pada 1992.

Ia bekerja di tiga negara dan tiga benua yakni Denmark, Afrika Timur, dan Indonesia.

Kemudian menetap di Kalimantan Selatan (Banjarmasin) sejak 1992, ketika memasuki masa pensiun.

Satu alasan, mengapa ingin menetap di Kota Seribu Sungai. Karena terkesan dan tertarik dengan industri pembuatan kapal tradisional Jukung.

“Selain itu penelitian jukung ini sekaligus mengisi masa pensiunnya,” beber Mansyur.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Empat tahun kemudian (1996), kebetulan The Viking Ship Museumn Roskilde, Denmark pada waktu bersamaan menggagas proyek etnografis.
Khususnya yang berhubungan dengan tradisi pembuatan perahu pada sungai-sungai di berbagai belahan dunia.

Beberapa tahun sebelumnya, The Viking Ship Museum (1991) memang menerbitkan sebuah buku tentang perahu dari suku lokal di Borneo Utara berjudul Building a Longboat: An Essay on the Culture and History of a Bornean People oleh Ida Nico-laisen dan Tinna Damgard Sorensen.

Terbitnya buku inilah yang kemudian mendorong The Viking Ship Museum mengagas proyek lagi dan berjanji untuk mempublikasikan materi yang bisa diselesaikan penulis sesuai rencana.

Viking Ship Museum atau dalam Bahasa Danish dikenal Vikingeskibsmuseet di Roskilde adalah Museum Nasional Denmark untuk kapal, pelayaran dan pembuatan kapal di periode pra sejarah dan abad pertengahan.

“Museum Kapal Viking juga melakukan penelitian dan mendidik para peneliti di bidang sejarah maritim, arkeologi laut, dan arkeologi eksperimental,” terang Mansyur.

Berbagai konferensi akademik diadakan di sini, dan ada perpustakaan penelitian yang berhubungan dengan museum. Museum Kapal Viking memiliki tradisi panjang dari rekonstruksi kapal Viking dan pembangunan kapal dan juga mengumpulkan perahu yang menarik dari seluruh wilayah Skandinavia.

Viking menggunakan batang pohon yang dilubangi untuk membuat perahu mereka. Diibuat lebih tinggi dengan penambahan papan di sisi-sisinya. Tetapi proses konstruksi tertua ternyata tidak didokumentasikan.

Viking Ship Museum kemudian mendukung serangkaian proyek etnografi tentang perahu di seluruh dunia, dengan harapan bahwa tradisi membangun perahu di tempat lain dapat menjelaskan hal ini.

“Erik pun terpilih menjadi peneliti dari proyek yang digagas museum terkenal negeri The Little Mermaid ini,” sebut Mansyur.

Dalam menjalankan risetnya, Erik memang selalu tampil dengan ciri khasnya, yakni sederhana. Suka bertelanjang dada, lengkap dengan kacamata khasnya. Pensiunan arsitek ini suka naik sepeda ke mana-mana, di sudut-sudut Kota Seribu Sungai yang jadi objek risetnya.

Pekerjaan lapangannya memang dilakukan di tiga lokasi. Pertama, di sepanjang Sungai Mangkutup dan Muroi. Kedua, di Desa Manusop dan Sungai Dusun dan ketiga di Alalak.

Dia juga sempat mengunjungi Candi Borobudur dan mampu menggunakan sebagai bahan perbandingan kelengkapan risetnya.

Terutama penggambaran perahu yang ditemukan di candi ini.

Buku Jukung-Boats from the Barito Basin, Borneo mulai ditulis Erik sejak Desember 1998.

AVM Horton, dalam review buku Erik Petersen, 2000, Jukung-Boats from the Barito Basin, Borneo, dalam Borneo Research Bulletin, 1 Januari 2009 menjelaskan, hasil penelitian Petersen, dituangkan dalam buku berjudul Jukung-Boats from Barito Basin, Borneo.

Buku ini kemudian diterbitkan The Viking Ship Museumn Roskilde di Denmark pada tahun 2000. Berjenis hardcover dan terdiri dari 157 halaman. Diterbitkan pada Desember, tahun 2000, berbahasa Inggris. Kata pengantar buku ditulis oleh Tinna Damgird Sorensen (Direktur Viking Ship Museum).

Selain itu, Erik juga mengadakan Pameran Peragaan Pembuatan Jukung Barito di Museum Bahari Jakarta, 23 Desember 2002, dalam skala nasional.

Sementara di tingkat internasional, Mawardi (2014) menuliskan, jasa Erik Petersen telah mengenalkan belasan jenis jukung kepada dunia melalui naskahnya yang berjudul Jukung Boats from the Barito Basin, Borneo, akhir tahun 2000.

Banyak tantangan yang dihadapi memang dalam mewujudkan pamerannya.

Tetapi kata motivasi dari Sören Kierkegaard, Filsuf Denmark (1813-1855), “Hidup bukanlah sebuah masalah yang harus diatasi, tapi realita yang harus dijalani”, selalu menjiwainya.

Dengan susah payah, ia harus melampaui birokrasi kepabeanan Indonesia yang luar biasa ribetnya, hanya untuk mengangkut jukung Borneo.

Tujuannya, agar dapat mengikuti pameran Viking Ship Museum Roskilde di Denmark dan Belanda.

Wajah pengrajin jukung dan kapal di kawasan Alalak pun terpampang di sana.

Erik Petersen (Kai Asing) memberikan sambutan dalam acara Pameran Peragaan Pembuatan Jukung Barito di Museum Bahari Jakarta, 23 Desember 2002.

Ini memang bukan isapan jempol.
Dalam situs The Viking Ship Museum pun, juga dituliskan bahwa terdapat pameran akbar sebelum 2005 yakni Exhibitions Jukung Boats from Barito Basin, Borneo tahun 2000 yang diadakan bekerjasama dengan arsitek perencana kota (in collaboration with city planner), Erik Petersen dan disponsori oleh Velux Foundation.

apahabar.com

Cover dari buku fenomenal Erik Petersen, berjudul Jukung-Boats from the Barito Basin, Borneo, terbitan tahun 2000

Baca Juga: Sinyal Kuat Dukung Nadjmi-Jaya, Ketua DPC Gerindra Banjarbaru: Insya Allah

Baca Juga: Sejarah Kekeringan di Banjarmasin; Sungai Bisa Dilewati Gerobak Sapi

Reporter: Muhammad Robby
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Operasi Zebra di Tanbu: Polisi Tilang dan Sita Ratusan Kendaraan

Kalsel

Adik Korban Kolam Eks Tambang Tala Histeris, Jasad Akhirnya Ditemukan!
apahabar.com

Kalsel

Ramalan BMKG: Hujan Lokal Siang Ini
apahabar.com

Kalsel

Sudian Noor Ingin Tanbu Punya Satu Portal Data Akurat
apahabar.com

Kalsel

Puluhan Mahasiswa Antusias Ikuti Media Visit ke RRI Banjarmasin
apahabar.com

Kalsel

Urgent!! Kota Banjarmasin Butuh Hydrant
apahabar.com

Kalsel

Selepas Bahas 3 Raperda Usulan Wali Kota, DPRD Banjarbaru Segera Bentuk Pansus
apahabar.com

Kalsel

Tiga Poin Penting Mesti Dimiliki Wartawan
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com