apahabar.com
Menteri Kesehatan Nila Moeloek bersama Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono memberikan keterangan pada wartawan di Jakarta, Kamis (11/7/2019). Foto – Antara/Aditya Ramadhan

apahabar.com, JAKARTA  – Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, Anung Sugihantono menyebutkan baru Kota Bogor dan Kabupaten Kulon Progo yang benar-benar antirokok dari seluruh kabupaten-kota yang ada di Indonesia.

“Kalau kota yang sudah Bogor, Kulon Progo itu sudah melarang iklan (rokok),” kata dia di Jakarta, seperti dilansir Antara, Kamis (11/7/2019).

Baca Juga: Pengedar Kelas Teri Ini Buang Kotak Rokok Berisi Sabu

Sebelumnya Kota Pekalongan juga sempat memberlakukan kawasan tanpa rokok dan melarang iklan rokok di daerahnya, namun penggantian wali kota di daerah tersebut mengubah kebijakan pelarangan iklan rokok yang sebelumnya ada.

Namun hingga saat ini belum ada satupun provinsi di Indonesia yang seluruhnya menerapkan kawasan tanpa rokok (KTR) dan pelarangan iklan rokok di seluruh kawasan tempat publik.

Seperti di Jakarta, lanjutnya sudah ada regulasi mengenai KTR namun masih memperbolehkan iklan rokok.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri disebutkan dari 34 provinsi yang ada, baru 70% yang memiliki regulasi mengenai kawasan tanpa rokok di daerahnya. Sementara 30% sisanya atau 12 provinsi lagi belum menerbitkan kebijakan itu.

Untuk kabupaten dari totalnya yang mencapai 416 kabupaten, sudah ada 300 kabupaten yang menerbitkan peraturan daerah mengenai KTR. Sedangkan dari 93 kota yang ada di Indonesia sebanyak 68 kota atau 74% nya telah menerbitkan kebijakan KTR di daerahnya.

Baca Juga: YLKI Soroti Kepatuhan Kantor Pemerintah Sebagai Kawasan Tanpa Rokok

Pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri mengimbau agar seluruh pemda menerbitkan kebijakan KTR, khususnya pelarangan rokok di sekolah guna menurunkan angka perokok remaja yang terus meningkat.

Prevalensi perokok pemula atau remaja usia 10 hingga 18 tahun terus meningkat dari 7,2% pada 2013 menjadi 9,1% pada 2018.

Sumber: Antara
Editor: Aprianoor