Kondisi Seseorang Ditunda atau Gagal Vaksinasi Covid-19, Simak Penyebabnya SENGKETA Pilgub Kalsel, Eks Hakim MK: Paslon Suara Terbanyak Kedua Bisa Menang Temui AHY, Mantan Panglima GAM Muzakir Manaf Beri Dukungan Moril untuk Demokrat AJI Biro Banjarmasin Resmi Berdiri, Kasus Kekerasan Pers Jadi Atensi  2 Petani Tapin Terjerat Sabu 9 Kg, Polda Kalsel: Jaringan Besar

Gaya Hidup Milenial Bukan Alasan Sektor Ritel Lesu

- Apahabar.com Selasa, 30 Juli 2019 - 05:30 WIB

Gaya Hidup Milenial Bukan Alasan Sektor Ritel Lesu

Gaya hidup generasi milenial. Foto-Kumparan

apahabar.com, JAKARTA – Gaya hidup generasi milenial berlibur atau traveling bukan alasan utama yang membuat sektor ritel di negeri ini lesu.

Hal itu diungkapkan Consultant The Nielsen Indonesia, Yongky Susilo dalam acara pertemuan Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia (AP3MI) dengan pengusaha ritel, di hotel Grand Mercure Kemayoran, Jakarta.

Diakui belakangan bisnis ritel mengalami penurunan. Bahkan ada pengusaha ritel yang harus menutup gerainya.

Menurut Yongky, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang harus diperkuat untuk mendorong konsumsi masyarakat agar sektor ritel bisa kembali bergerak. “Banyak disalahkan (pola konsumsi) milenial tapi saya punya catatannya bahwa ekonominya yang harus di-boost,” kata Yongky seperti ditulis Vivanews.com.

Untuk itu, dia menyarankan, pada periode kedua Presiden Jokowi harus ada upaya khusus mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Apalagi, Jokowi sudah menyatakan tak mempunyai beban apa-apa lagi di periode kedua ini. “Makanya tim ekonomi harus kuat,” katanya.

Dia menegaskan, ekonomi Indonesia yang saat ini masih lesu adalah penyebab lesunya industri ritel. “Ya karena ekonominya, growth ekonominya kan turun. Itu enggak bisa dielakkan,” ujarnya.

Dia menambahkan, proporsi konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 56 persen, sedangkan investasi 30 persen. Untuk itu, menurut dia, selain investasi, Jokowi harus serius mendorong konsumsi masyarakat.

“Cara dorong konsumsi apa? Saya jelaskan bahwa kelas menengah bawah perlu purchase power (daya beli). Artinya apa, kasih kerjaan supaya dia bisa dapat duit banyak,” ujarnya.

Dia mengingatkan, pemerintah sudah punya program cash for work hingga bantuan sosial yang harus dipastikan cepat sampai ke tangan konsumen. Selain itu, lapangan pekerjaan juga harus dipastikan tersedia agar masyarakat kalangan menengah bawah segera mendapat pekerjaan.

“Yang penting itu adalah ciptakan pekerjaan. Nah, job creator terbesar adalah swasta, makanya untuk swasta berusaha dibuat suasana usaha yang positif. Izinnya dipercepat jangan diganggu, dikasih semangat, dikasih kesempatan, buka ekspor, buka distribusi ke dalam negeri,” tuturnya.

Baca Juga: Senin Pagi Rupiah Melemah Tipis 0,6%

Baca Juga: Ekspor Sarang Burung Walet ke China Dikuasai Pengusaha Asal Kalimantan

Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Saham Regional Asia Naik, IHSG Ikut Menguat
apahabar.com

Ekbis

BI Kalsel Buka Kas Keliling, Cek Jadwal dan Lokasinya
apahabar.com

Ekbis

Upaya Tingkatkan PAD, PT Ambapers Siap Buka Jasa Layanan Pelabuhan
apahabar.com

Ekbis

Januari-Juli, Ekspor Kaltim Capai USD 9,65 Miliar
apahabar.com

Ekbis

Hingga Satu Pekan Lagi, Tol Pekanbaru-Dumai Digratiskan
IHSG

Ekbis

Seiring Kenaikan Bursa Saham AS, IHSG Akhir Pekan Berpeluang Menguat

Ekbis

Dirjen Pajak: 13 Juta Wajib Pajak Telah Lapor SPT
apahabar.com

Ekbis

Bursa Saham Australia Dibuka Melemah
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com