Perhatian! PT KPP Rantau Ngutang Pajak Alat Berat Rp 1,8 M Warung Jablay di HSS Meresahkan, MUI Ngadu ke DPRD Jelang Pencoblosan, Warga Kalsel Diimbau Jangan Telan Mentah-Mentah Berita Medsos Disbudpar Banjarmasin Rilis Dua Wisata Baru, Cek Lokasinya Otsus Jilid Dua, Semangat Baru Pembangunan Papua

HAN 2019, KPAI: Anak Masih Rentan Terpapar Pornografi

- Apahabar.com Selasa, 23 Juli 2019 - 18:34 WIB

HAN 2019, KPAI: Anak Masih Rentan Terpapar Pornografi

Ilustrasi. Foto-Istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Perlu pendampingan orang tua ketika seorang anak menggunakan telepon genggam.

“Perlu adanya komunikasi dan kesepakatan antara orang tua dalam penggunaan internet melalui telepon maupun laptop,” kata Komisioner Bidang Pornografi dan Cyber Crime Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Margaret Aliyatul Maimunah, dikutip apahabar.com dari Antara, Selasa.

Adanya ancaman bahaya ketika anak-anak menggunakan telepon genggam untuk itu perlu antisipasi dalam melindungi anak-anak kita dari pengaruh negatif internet dan kejahatan siber.

Belum lagi lanjut dia adanya ancaman UU ITE bagi anak. Tugas melindungi anak itu tidak dibebankan pada pemerintah saja, tapi juga pada orang tua dan masyarakat secara umum.

Anak-anak dalam mengakses internet rentan terpapar berbagai berbagai konten negatif seperti pornografi, game online yang bermuatan kekerasan dan pornografi, informasi hoaks, ujaran kebencian, adiksi gadget, radikalisme, serta perilaku sosial menyimpang.

“Kasus Pengaduan Anak Berdasarkan Klaster Perlindungan Anak Bidang Pornografi dan Cyber Crime KPAI Tahun 2011-2018 mengalami kenaikan,” ujarnya.

Jenis aduannya berupa anak korban kejahatan seksual online, anak pelaku kejahatan online, anak korban pornografi di medsos, anak pelaku kepemilikan media pornografi, dan anak pelaku bullying di medsos.

Jumlah total pengaduan kasus pornografi dan cybercrime tahun 2014 sebanyak 322 kasus, 2015 ada 463 kasus, 2016 meningkat 587 kasus, 2017 menjadi 608 kasus dan tahun 2018 naik menjadi 679 kasus.

“Sedangkan, untuk kasus anak korban anak di medsos tahun 2014 ada 134 kasus. Tentunya, kita mewaspadai ancaman adanya kasus pornografi melalui medsos dan cybercrime,” jelasnya.

Bentuk pengaduan kejahatan siber seperti Pelaku video pornografi, Sexting (Chat bermuatan konten pornografi), terlibat dalam grup-grup pornografi, Grooming (Proses untuk membangun komunikasi dengan seorang anak melalui internet dengan tujuan memikat, memanipulasi, atau menghasut anak tersebut agar terlibat dalam aktivitas seksual).

Selain itu, ada juga sextortion (pacaran online berujung pemerasan), Cyber bully, perjudian online, Live streaming video dan trafficking dan penipuan online.

“Dengan adanya kasus ini adalah tantangan bagi orang tua dalam mendidik anaknya di tengah deras dan cepatnya perkembangan teknologi melalui internet. Untuk itu, perlu adanya kewaspadaan pada orang tua dalam melindungi anak-anaknya,” katanya.

Editor: Fariz Fadhillah

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

Kalsel

Sebelum Hadir Maulid di Kota Citra, Lihat Denah Lokasinya
apahabar.com

Kalsel

12 Kasus Baru Covid-19 di Kalsel, Didominasi Klaster Gowa
apahabar.com

Kalsel

Kenang Jasa Mantan Wali Kota Banjarbaru, Pemkot Beri Nama Jalan Baru Nadjmi Adhani
apahabar.com

Kalsel

Usai Santap Menu Selamatan Ultah, Puluhan Warga Kabupaten Banjar Diduga Keracunan
apahabar.com

Kalsel

Segera Pasang PJU di Sungkai dan Pengaron
apahabar.com

Kalsel

Kronologi Satu Mahasiswa ULM Dikabarkan Positif Covid-19
apahabar.com

Kalsel

Polres HSS Siapkan Pengamanan Natal dan Tahun Baru 2019
apahabar.com

Kalsel

Siswa Tak Bisa Mengaji, SMP 3 Tamban Bikin TPA Sendiri
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com