Buntut Demo, Koordinator BEM Kalsel Ahdiat Zairullah Resmi Tersangka Mubadala Petrolium Sosialisasi Pemboran Sumur Eksplorasi Yaqut-1 Upah Minimum Naik Rp 10 Ribu, Buruh Kalsel Meradang Koordinator BEM Kalsel Tersangka, Kuasa Hukum Siap Melawan BREAKING NEWS: Wakil Rektor ULM Penuhi Panggilan Polda Kalsel

Harimau Bonita dan Antan Bintang Segera Dilepasliarkan di Riau

- Apahabar.com Senin, 29 Juli 2019 - 11:23 WIB

Harimau Bonita dan Antan Bintang Segera Dilepasliarkan di Riau

Harimau Bonita. Foto - BKSDA

apahabar.com, PEKANBARU – Harimau liar Sumatra bernama latin panthera tigris sumatra yakni Bonita dan Atan Bintang segera dilepasliarkan ke habitat mereka di Provinsi Riau. Hal itu dinyatakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Dalam pernyataan pers seperti dikutip apahabar.com dari Antara, Senin (29/7/2019), KLHK bersama dengan Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatra Dharmasraya-Yayasan ARSARI Djojo hadi kusumo (PR-HSD Yayasan ARSARI) telah melakukan serangkaian proses penyelamatan terhadap harimau itu sehingga kini siap untuk melepasliarkan kembali dua satwa langka tersebut.

“Pelestarian satwa dapat berhasil apabila semua pihak bekerja bersama. Data dari PVA harimau sumatra menunjukkan populasi harimau sumatra di habitat alaminya tersisa 603 individu yang tersebar di 23 kantong habitat. Selain itu, data dari Ditjen KSDAE menunjukkan lebih dari 50 persen populasi satwa dilindungi berada di luar kawasan konservasi, baik di hutan produksi maupun hutan lindung,” kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK Wiratno.

Harimau sumatra betina bernama Bonita diselamatkan dari areal kebun PT TH Indo Plantations Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir pada 3 Januari 2018, sedangkan harimau sumatra jantan bernama Atan Bintan dievakuasi dari pemukiman warga pada 18 November 2018 di Pulau Burung Kabupaten Indragiri Hilir.

Secara total, dengan pelepasliaran sepasang harimau itu menambah jumlah harimau rehabilitasi dari PR-HSD yang akan dilepasliarkan ke habitat alaminya menjadi empat individu. Bonita dan Atan Bintang akan dibawa dalam perjalanan menempuh jalur darat menuju kawasan konservasi di Provinsi Riau untuk kembali ke habitatnya.

“Untuk itu upaya perlindungan menjadi penting untuk dilakukan oleh semua pihak seperti pengelola konsesi, pemerintah daerah, masyarakat adat dan juga LSM. Kita harapkan mulai saat ini, satwa liar dilindungi termasuk harimau sumatera yang berada di luar kawasan konservasi dapat terlindungi seperti halnya satwa liar lainnya di dalam kawasan konservasi. Semangat bekerja bersama menjadi kunci untuk sinergi selanjutnya,” katanya.

Hashim Djojo hadi kusumo, penggagas dan pendiri PR-HSD, menjelaskan pihaknya berkomitmen terus membantu pemerintah melestarikan dan menambah jumlah populasi harimau sumatra. Sejak diresmikan oleh Menteri LHK pada 29 Juli 2017, PR-HSD telah melakukan rehabilitasi terhadap enam individu harimau yang kemudian berhasil dilepasliarkan ke habitat alaminya.

“Saat ini kami masih merawat satu harimau sumatera yang baru saja diselamatkan dari Padang Lawas, Sumatra Utara. Harimau sumatra merupakan simbol kelestarian ekosistem dan keberadaannya hanya dimungkinkan jika hutan dan lingkungan sebagai habitat masih terjaga,” katanya.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau Suharyono menjelaskan timnya dan mitra telah melakukan kajian untuk calon lokasi pelepasliaran harimau sumatera tersebut.

“Kami mempertimbangkan lokasi pelepasliaran yang jauh dari pemukiman dan masyarakat, ketersediaan mangsa yang cukup, serta tingkat ancaman yang rendah. Pelepasliaran harimau sumatra di Provinsi Riau diharapkan bisa mengembalikan jumlah populasi harimau sumatra di wilayah ini untuk menjaga kelestarian harimau sumatera di habitat alaminya,” kata dia.

Kepala Balai KSDA Sumatra Barat Erly Sukrismanto menambahkan pelepasliaran dua harimau itu dilengkapi dengan kalung penanda (GPS Collar) sumbangan dari Yayasan ARSARI Djojo hadi kusumo yang berfungsi untuk memantau pergerakan Bonita dan Atan Bintang. Dari data GPS Collar tersebut, pergerakan satwa akan diketahui untuk melihat wilayah jelajah serta adaptasi harimau tersebut di habitat barunya.

“Balai KSDA Sumatra Barat bersama Balai Besar KSDA Riau yang akan melakukan pemantauan harimau sumatra tersebut pasca-dilepasliarkan,” katanya.

Baca Juga: Rayakan Idul Adha Tanpa Kantong Plastik

Baca Juga: NU Siap Isi Posisi Menteri Strategis Kabinet

Sumber: Antara
Editor: Aprianoor

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

KLHK Tindaklanjuti Arahan Jokowi untuk Lakukan Rehabilitasi Lahan
apahabar.com

Nasional

Habib dan Ulama Se Tanah Laut Dukung Jokowi
apahabar.com

Nasional

Jumlah Korban Jiwa Serangan Bom di Sri Lanka Capai 207
apahabar.com

Nasional

Kematian Covid-19 Hampir Tembus 100 Ribu, Warga AS Malah Liburan di Pantai
apahabar.com

Nasional

1.377 Pemuda dan Pelajar Diamankan Polisi Terkait Unjuk Rasa UU Cipta Kerja di Jakarta
apahabar.com

Nasional

Bayar Online dan Ijab Kabul Zakat Tanpa Bersalaman, Apakah Sah?
apahabar.com

Nasional

Kronologi Penusukan Syekh Ali Jaber oleh Orang Tak Dikenal di Lampung

Nasional

Polisi Tahan Irjen Napoleon dan Pengusaha Tommy Sumardi Terkait Kasus Pencabutan Red Notice Djoko Tjandra
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com