Debat Ke-2 Pilbup Tanbu: “Wakil Komitmen” HM Rusli Bikin Bingung Alpiya, Mila Karmila Speechless PN Martapura Putuskan Camat Aluh-Aluh Melanggar Netralitas ASN Kembali, Duta Zona Selatan Batola Memenangi Atak Diang Kawal Pilkada Serentak, Polda Kalsel Komitmen Tegakkan Netralitas Tapin Berpotensi Tinggi di Sektor Energi Terbarukan, Pertanian, dan Parawisata

Kejadian Ganjil Saat Pemindahan Jenazah Istri dan Anak Datuk Kelampayan

- Apahabar.com Rabu, 10 Juli 2019 - 11:58 WIB

Kejadian Ganjil Saat Pemindahan Jenazah Istri dan Anak Datuk Kelampayan

Makam kerabat Datuk Kelampayan di Tungkaran, Karang Tengah, Martapura. Foto-Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Jenazah istri, menantu, anak, dan cucu Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (Datuk Kelampayan) semula dimakamkan di lokasi Makam Pahlawan Bumi Kencana, Landasan Ulin, Banjarbaru. Namun, jenazah kemudian dipindahkan ke Tungkaran, Martapura. Saat pemindahan, kejadian ganjil sempat mengiringinya.

Diceritakan Tuan Guru H Syaifuddin Zuhri, makam istri, menantu, dan cucu Datuk Kelampayan semula dimakamkan di lokasi yang kini dijadikan Pemerintah Indonesia sebagai Makam Pahlawan Bumi Kencana, Banjarbaru.

Baca Juga: Kisah Penghulu Rasyid, Pejuang yang Makamnya Menjadi Destinasi Wisata

“Itu (lokasi makam Bumi Kencana) tanah Kerajaan Banjar bahari (dulu), dijulung (diberikan) kepada pemerintah,” ujar Abah Guru Banjar Indah -Tuan Guru Syaifuddin Zuhri-.

apahabar.com

Foto-Istimewa

Karena itu, jenazah pun kemudian dipindahkan ke Tungkaran, Karang Tengah, Martapura. Pada saat pemindahan, kondisi para jenazah yang telah dimakamkan puluhan tahun itu ternyata masih utuh.

“Seperti jenazah yang baru dimakamkan dua hari,” ungkap Guru.

Di antara keluarga Datuk Kelampayan yang dipindah tersebut adalah istri beliau yang bernama Datuk Bajut. Kemudian, istri beliau yang bernama Datuk Bidur. Menantu sekaligus sahabat beliau, Syekh Abdul Wahab Bugis. Putri beliau bernama Datuk Aisyah. Dan, cucu perempuan bernama Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis.

“Fatimah ini adalah pengarang Parukunan Basar (perukunan Melayu),” beber Guru.

Orang tua dulu, sambung Guru Banjar Indah, mengamalkan Surah Al Mulk setiap malam. Yang di antara keutamaannya, jenazah tidak busuk di dalam kubur.

Baca Juga: Kisah Singkat Datu Dulung; Ketika ‘Si Macan Terbang’ Melawan Belanda

“Amalan urang bahari (orang shaleh terdahulu), Surah Yasin supaya hidup selamat, Tabarak (Al Mulk) tidak dimakan ulat, dan Surah Waqiah supaya hidup tidak kekurangan (uang),” terang Guru.

Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

Pendeta Nasrani

Religi

Pendeta Nasrani Melihat Ada yang berbeda dari Sosok Nabi SAW Ketika Kecil
apahabar.com

Religi

Ethiopia, Saksi Perjuangan Sahabat Rasulullah SAW
apahabar.com

Religi

Inilah 6 Orang Pengantar Surat untuk Para Raja di Zaman Nabi SAW
apahabar.com

Sirah

Akibat Kejadian Ini, Tuan Guru Zainal Ilmi Batal Disemayamkan di Makam Pahlawan
apahabar.com

Religi

Sebelum Dikuasai Wahabi, Makkah Merayakan Maulid Nabi
apahabar.com

Sirah

Muallim Syukur, Bakul Kosong, dan Prilaku ‘Ganjil’ Para Pedagang
apahabar.com

Sirah

Melacak Jejak Penanggalan Islam Hijriyah di Tanah Nusantara
apahabar.com

Religi

Umar bin Abdul Aziz Tolak Warisan Kebun Luas di Khaibar
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com