Kecewa, Pengembang Pelaihari City Mall Ngadu ke Menkopolhukam Jalan Berlubang Km 88 Tapin Renggut Nyawa Pemuda HST Ortu Oke, Belajar Tatap Muka di SMP Banjarmasin Dimulai November Menhub Datang, Pengembangan Runaway Bandara Teweh Dibahas Kronologi Lengkap Petaka Lubang Maut di Tapin yang Tewaskan Pemuda HST

Kendaraan Listrik Mampukah Tekan Defisit Migas?

- Apahabar.com Senin, 29 Juli 2019 - 05:45 WIB

Kendaraan Listrik Mampukah Tekan Defisit Migas?

Mobil listrik. Foto-Vivanews.com

apahabar.com, JAKARTA – Awal Agustus 2019 pemerintah berencana menerbitkan Peraturan Presiden dan Peraturan Pemerintah terkait percepatan pengembangan kendaraan bermotor listrik sebagai alat transportasi yang dipandang lebih ideal.

Makanya kebijakan itu diharapkan bisa menjadi salah satu solusi untuk menekan defisit perdagangan minyak dan gas bumi Indonesia.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance atau Indef, Tauhid Ahmad, mengatakan bahwa peranan terobosan kebijakan tersebut memang akan mengurangi defisit migas. Namun belum tentu efektif. Alasannya terdapat dampak rembetan negatif yang menghantui.

Sebagai informasi, berdasarkan data olahan Indef, defisit migas pada Januari-Juni 2019 mencapai US$4,78 miliar, meski sedikit turun dari catat periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$5,61 miliar. Ini karena turun atau anjloknya harga minyak mentah dunia dengan volume impor yang masih setara.

“Ketidakefektifan tentu saja harga vehicle yang ditawarkan masih terlampau mahal, seperti halnya produk Motor Gesit.¬† Ini terjadi karena battery masih impor, sementara infrastruktur yang dibangun juga mahal sekali,” katanya seperti ditulis Vivanews.com.

Menurut Tauhid, impor baterai bakal tetap terjadi, meskipun Indonesia memproduksi nikel sebagai bahan baku baterai. Namun sampai saat ini nikel masih diperuntukkan untuk ekspor ketimbang untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

Di sisi lain, belum banyak perusahaan domestik, termasuk BUMN yang melakukan investasi pionir untuk industri itu secara masif.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri menambahkan, mobil listrik memang akan berdampak positif untuk menekan defisit migas, tapi bisa saja meningkatkan defisit impor mobil dan baterai ke depannya karena tidak tersedianya bahan baku di Indonesia.

“Namun, bagaimana pun kita mendukung mobil listrik. Sekalipun demikian, dominasi penggunaan fossil fuels akan tetap besar. Jadi ringkasnya, mobil listrik sampai 2040 belum bisa meredam secara signifikan krisis energi,” katanya.

Baca Juga: BMKG Pastikan Erupsi Tangkuban Parahu Tak Akan Picu Aktivitas Sesar Lembang

Baca Juga: Soal Perlindungan Keselamatan, Grab Diminta Tiru Gojek

Baca Juga: Gusti Putri, Utusan Kalsel di Paskibraka Nasional: Siswa Penurut dan Berprestasi

Editor: Syarif

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Direktur TV Didakwa Bobol BRI hingga Rp28,7 Miliar
apahabar.com

Nasional

Dukungan Kaltim Jadi Ibu Kota Bertambah
apahabar.com

Nasional

BPOM Sebut Tidak Ada Efek Samping Serius Saat Uji Vaksin Covid-19
apahabar.com

Nasional

Sultan Kasepuhan Cirebon Arief Natadiningrat Wafat
apahabar.com

Nasional

Kapolri Rombak Posisi Pati, Termasuk Kapolda Kalsel
apahabar.com

Nasional

KPU Tetapkan Jokowi-Ma’ruf Presiden dan Wapres Terpilih
apahabar.com

Nasional

Sederet Manfaat Omnibus Law versi Kemenkumham: Tak Melulu Soal Investasi
apahabar.com

Nasional

Warga Sipil Gunakan Mobil Dinas Fortuner TNI AD, Ini Kata Netizen
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com