3 Jam Hujan Deras, Ratusan Rumah Warga Desa Miawa Tapin Kebanjiran Kisah Pilu Istri Korban Disambar Buaya di Kotabaru, Harus Rawat 4 Anak, 1 di Antaranya Berusia 6 Bulan Suami Penanambaan, Ibu Terduga Pembunuh 2 Anak di Benawa HST Pernah Kuliah Produksi Migas Kalimantan-Sulawesi Lampaui Target, Kok Bisa? PLTS Tak Berfungsi, Kades Panaan Mengadu ke Dinas ESDM Kalsel

Kerajaan Aceh Berperan Besar Terhadap Perkembangan Haji di Banjarmasin

- Apahabar.com Jumat, 5 Juli 2019 - 15:33 WIB

Kerajaan Aceh Berperan Besar Terhadap Perkembangan Haji di Banjarmasin

Jemaah haji asal Indonesia tempo dulu. Foto-net

apahabar.com, BANJARMASIN – Masyarakat Banjar yang menunaikan ibadah haji ke Mekah sudah berlangsung lama. Diperkirakan sekitar Abad ke -17 atau sekitar tahun 1600 an, masyarakat Banjar sudah berhaji.

“Selama abad ke-17, perkembangan agama Islam dalam wilayah Kerajaan Banjar mendapat pengaruh dari ajaran-ajaran yang berkembang di Aceh,” ucap Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya Kalimantan (LKS2B), Mansyur kepada apahabar.com, Jumat (05/07/2019) pagi.

Baca Juga: Mengenal Adit, Calon Jamaah Haji Termuda Asal Banjarmasin

Dengan runtuhnya Kerajaan Demak sebagai pusat dakwah Islam se masa Wali Songo, kata dia, maka pengaruh perkembangan Kerajaan Aceh yang berkembang.

Kegiatan para ulama dan pendakwah dari Kerajaan Aceh telah merambah kemana-mana, termasuk dalam wilayah Kerajaan Banjar, di samping Sumatera sendiri dan Malaysia.

Kedudukan Kerajaan Aceh juga menentukan, karena Aceh merupakan terminal bagi jemaah haji dari Banjarmasin.

Khususnya, bagi yang akan berangkat ke Tanah Suci atau bagi mereka yang kembali ke tanah air.

Sebelum munculnya kapal api, para jamaah haji atau para pelajar yang akan belajar ke Tanah Suci, berdiam di Aceh beberapa lama menunggu angin baik untuk melanjutkan pelayaran.

“Begitu pula bagi mereka yang akan pulang ke tanah air khususnya daerah bagian timur dari kepulauan Nusantara ini,” cetusnya.

Selama berada di Aceh, sambung dia, mereka mengikuti kegiatan-kegiatan yang bersifat keagamaan ataupun mengikuti pengajian-pengajian. Oleh karena itu, maka perkembangan pemikiran yang berkembang di Aceh mempengaruhi mereka.

“Karena itulah pemikiran dari Hamzah Fansuri yang mengembalikan pada ajaran tasawuf Sunni, sampai pengaruhnya ke dalam Kerajaan Banjar,” katanya.

Tidak heran jika faham sufisme yang berasal dari Hamzah Fansuri sudah memasuki praktik keagamaan di dalam Kerajaan Banjar beberapa saat setelah penduduk memeluk agama Islam dan sudah ada yang berangkat ke Aceh dalam rangka menunaikan ibadah haji ke Mekkah.

Baca Juga: Optimalkan Layanan, Saudi Libatkan Petugas Haji Musiman

Reporter: Muhammad Robby
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Bantu Korban Kebakaran Pulau Bromo, DEMA UIN Banjarmasin Galang Dana di Jalanan
apahabar.com

Kalsel

Siang ini, Cuaca Kalsel Diwarnai Hujan Lokal di Sejumlah Tempat
apahabar.com

Kalsel

786 Paket Sembako Dibagikan ke Warga Pelabuhan Trisakti
apahabar.com

Kalsel

Begini Cerita Remaja Tuna Rungu Menggeluti Dunia Tarik Suara

Kalsel

Cerita Pilu Korban Kebakaran di Jalan Veteran: ‘Rumah Saya Baru Renovasi’
apahabar.com

Kalsel

Pandemi Picu Peningkatan Kehamilan di Batola
apahabar.com

Kalsel

Jajaran Bawaslu Kalsel Di-Rapid Test, Begini Hasilnya
apahabar.com

Kalsel

Rumahnya Dibongkar, Hairun Ribut dengan Prajurit Kodim Barabai
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com