Kopi Liberika Diminati Mancanegara, SPI Kalsel Sebut Mutiara Hitam Gambut Keren! OB-Sekuriti UIN Antasari Banjarmasin Juga Divaksin OTT KPK di Amuntai, Pegawai Kaget Ruang Kerja Bupati HSU Sudah Disegel Siang Ini, KSAL Bareng Menko Perekonomian Kunker Tinjau Vaksinasi-Replanting di Kotabaru Raperda Pajak HST Tuai Kritik, Jangan Matikan Usaha Kecil

Kisah Singkat Datu Dulung; Ketika ‘Si Macan Terbang’ Melawan Belanda

- Apahabar.com     Selasa, 2 Juli 2019 - 14:00 WITA

Kisah Singkat Datu Dulung; Ketika ‘Si Macan Terbang’ Melawan Belanda

Keturunan ke-5 Datu Dulung, Markabi, di depan Makam Datu Dulung. Foto-apahabar.com/AHC 05

apahabar.com, RANTAU – Datu Dulung dikenal sebagai seorang pejuang yang gigih membela Tanah Air. Tokoh yang berjuluk “Si Macan Terbang” ini berjuang dibawah komando Prabu Anum dan Pangeran Hidayatullah. Bagaimana ceritanya?

Diceritakan Keturunan Datu Dulung; Markabi (66), Datu Dulung baru melancarkan perlawanan setelah mendapat perintah dari Kesultanan Banjar. Yakni, Prabu Anum dan Pangeran Hidayatullah pada 1852 M.

Datu Dulung bersama pasukannya, warga Kampung Muning (sekarang; Desa Tatakan, Kabupaten Tapin) mendirikan sebuah benteng pertahanan di daerah tenggara Desa Tatakan. Benteng tersebut kemudian dikenal dengan nama “Benteng Munggu Tayuh”.

“Peperangan berkecamuk setelah diamanati (Kesultanan Banjar) melakukan perlawanan dan Datu Dulung serta pasukannya beberapa kali mendapatkan kemenangan,” ujar Markabi.

Markabi mengungkapkan, ada satu kejadian yang menjadi asal Datu Dulung bergelar “Si Macan Terbang”.

“Saat peperangan, Datu Dulung layaknya seekor macan yang gesit dan lincah. Beliau menebas leher-leher pasukan Belanda dengan parangnya yang berjenis ‘Pacat Gantung’. Selain itu, beliau juga bisa melompat sangat jauh,” jelas Markabi.

Kejadian itulah, sambung Markabi, yang melatar-belakangi julukan “Si Macan Terbang” untuk Datu Dulung.

Markabi melanjutkan, setiap kali mau berangkat perang, Datu Dulung selalu meminta petuah atau nasehat oleh Datu Tamingkarsa untuk mengatur siasat juga strategi untuk melawan pasukan Belanda.

Setelah menjalani jalan panjang peperangan, beliau gugur dan dimakamkan di sebuah tempat, yang kemudian dikenal dengan nama Jalan Datu Dulung Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin.

Markabi menambahkan, cerita ini hanya untuk mengenang masa-masa perjuangan para orang tua dulu dalam memperoleh kemerdekaan.

Harapannya, dengan cerita ini dipublikasikan masyarakat dapat mengerti apa arti kemerdekan dan dapat menjalani hidup dengan sebaik-baiknya serta mempertahankan perjuangan orang tua terdahulu.

“Ya, jangan sampai tanah-banyu (tanah-air, red) kita dirigati (dikotori) orang lain,” ujarnya.

Markabi merupakan keturunan yang ke-5 dari Datu Dulung. Ayahnya yang bernama Ahmad adalah putra dari Rubun putra Antan putra Datu Dulung.

Baca Juga: Habib Luar Batang, Sosoknya Masyhur Seantero Nusantara

Baca Juga: Masjid Keramat Palajau, Bukti Kejayaan Kerajaan Demak 

Reporter: Ahc05
Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Sirah

Riwayat Kapten Kodok, Mertua Datuk Kelampayan yang Bisa Terbang
apahabar.com

Sirah

Tanggung Jawab Menjaga Lingkungan Hidup dalam Islam

Religi

Ejekan Abu Jahal dengan Penuturan Rasulullah SAW
apahabar.com

Sirah

Pandangan Imam Syafi’i Soal Ucapan Amin Setelah Al-Fatihah

Religi

Roti Menjadi Makanan Favorit di Era Abbasiyah
apahabar.com

Religi

Rasulullah Berpakaian Bersih dan Rapi
apahabar.com

Religi

Kisah Cucu Rasulullah yang Marah karena Dipuji
apahabar.com

Sirah

Tiang Datu Ujung yang Dikeramatkan Ternyata Ada Dua
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com