Ditangkap di Tabalong, Janda asal Ampah Kalteng Sudah Teler dari Amuntai Guru Danau Imbau Ulama Kalsel Tidak Berpolitik Praktis Puncak Pandemi, Berapa Limbah Infeksius Covid-19 di Kalsel? Amankan Pilgub Kalsel 2020, Polres Tapin Siapkan 258 Personel Akhir 2024, Agropolitan Anjir Pasar Batola Ditarget Berdaya Saing

MUI Kalsel Angkat Bicara Soal Kisruh Pernikahan Sedarah

- Apahabar.com Kamis, 4 Juli 2019 - 10:29 WIB

MUI Kalsel Angkat Bicara Soal Kisruh Pernikahan Sedarah

Ilustrasi, pernikahan sedarah. Foto-net

apahabar.com, BANJARMASIN – Belakangan fenomena pernikahan sedarah menjadi tren isu nasional. Peristiwa itu menuai pro dan kontra di tengah lapisan masyarakat. Lantas, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Selatan (Kalsel) pun angkat bicara terkait polemik tersebut.

“Ya, itu jelas tak diperbolehkan dalam Islam. Bisa disebut pasit atau rusak. Jadi tidak sah dan berdosa apabila dia mengetahuinya,” ucap Wakil Ketua MUI Kalsel Prof Hafiz Anshari kepada¬†apahabar.com, Rabu (4/7/2019) pagi.

Menikahi orang yang satu Mahram, kata dia, jelas hukumnya haram. Misalnya orang tua, nenek, kakek, saudara kandung. Larangan itu telah disebutkan dalam Alquran.

Kecuali, sepupu. Bahkan, Nabi Muhammad SAW pernah menikahkan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib. Mengingat, Ali bin Abi Thalib merupakan anak dari Abu Thalib. Padahal, Abu Thalib adalah pamannya Nabi Muhammad SAW.

“Memang masih ada hubungan, tapi tak masuk diharamkan,” cetusnya.

Dalam hukum agama tentang pernikahan, sambung dia, yakni ada pernikahan haram tapi sah dan ada pernikahan yang haram tapi tidak sah.

Adapun contoh kasus pernikahan haram, tapi sah, yakni seseorang ingin menikahi pasangan, dengan niat ingin menyakiti. Lantaran adanya perasaan dendam dengan sang orang tua pasangan. Sehingga, tujuan menikahi itu bukan untuk sakinah mawadah warahmah. Melainkan, menyakiti untuk balas dendam.

“Semua rukun dan syarat pernikahan terpenuhi, tapi niatnya yang ingin menyakiti itu dinilai haram,” tegasnya.

“Kalau pernikahan sedarah itu hukumnya haram dan nikahnya tak sah. Itu bisa disebut zina,” tambahnya.

Namun, apabila keduanya belum mengetahui mereka sedarah, maka disebut dengan nikah subhat. Akan tetapi, apabila keduanya telah mengetahui, otomatis wajib hukumnya berpisah tanpa melalui peradilan.

Ia mengimbau kepada masyarakat agar selalu berhati-hati terkait perkawinan. Jangan sesekali dianggap remeh dan mudah. Terlebih dahulu ditelusuri dari sudut keturunan calon pasangan.

Selain bertujuan untuk mengetahui keturunannya, juga mengetahui apakah ada hubungan darah dengan yang bersangkutan.

“Karena apabila ada unsur-unsur yang kurang bagus, itu patut untuk dipertimbangkan,” pungkasnya.

Baca Juga: Heboh Pernikahan Sedarah Warga Bulukumba di Balikpapan

Baca Juga: Buntut Pernikahan Sedarah, Ansar Bakalan Diusir dari Bulukumba

Reporter: Muhammad Robby
Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Habar

Masjidil Haram Dijaga Ketat, Jemaah Umrah Tak Bisa Leluasa
apahabar.com

Habar

27 Penginapan Gratis di Haul Sekumpul, Cek Daftarnya di Sini
apahabar.com

Habar

Cegah Covid-19, Arab Saudi Perintahkan Tarawih dan Salat Idulfitri di Rumah
apahabar.com

Habar

Kabar Hoaks Bengkel Gratis di Haul Sekumpul ke 15 Tersebar, Tim Posko Induk Sekumpul Minta Di-stop
apahabar.com

Habar

Sikapi Corona, Giliran Kubah Basirih Ditutup untuk Peziarah
apahabar.com

Habar

Masjid Sabilal Muhtadin Tetap Gelar Salat Jumat
apahabar.com

Habar

Tunjukkan Islam Ramah, Organisasi Muslim di Amerika Bantu Keluarga Rentan Corona
apahabar.com

Habar

Askes Sangat Ketat, Jemaah Umrah dan Warga Mekah Kesulitan Masuk Masjidil Haram
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com