ga('send', 'pageview');
Terindikasi HTI, Dua Pemuda Kotabaru Diciduk Polisi Push Up Bak Lelucon, Banjarbaru Terapkan Denda Tak Pakai Masker Terungkap, Dugaan Kebakaran di PAUD Aisyiyah Banjarmasin Karier Mengilap Kasat Reskrim Kotabaru: Tempur Melawan OPM Kerugian Banjir Pelaihari Sentuh Miliaran Rupiah!




Home Ekbis

Senin, 1 Juli 2019 - 13:19 WIB

Norwegia Tegaskan Tak Tolak Minyak Sawit Indonesia

Redaksi - Apahabar.com

Petani mengangkut hasil panen buah kelapa sawit di perkebunan kelapa sawit, Kecamatan Tikke Raya, Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat. Foto-Istimewa

Petani mengangkut hasil panen buah kelapa sawit di perkebunan kelapa sawit, Kecamatan Tikke Raya, Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat. Foto-Istimewa

apahabar.com, OSLO – Pemerintah Norwegia menegaskan tidak pernah menolak masuknya minyak sawit dari Indonesia.

Hanya saja mereka memastikan bahwa produk minyak sawit yang masuk dihasilkan melalui sebuah proses yang berkelanjutan.

“Tidak ada pernyataan atau aturan di Kerajaan Norwegia yang melarang masuknya minyak sawit dari Indonesia,” kata Prof Dr Todung Mulya Lubis, Duta Besar RI untuk Kerajaan Norwegia, dalam siaran pers-nya kepada apahabar.com, Senin (1/7).

Hal ini terkait resolusi parlemen Uni Eropa yang menetapkan kebijakan RED II (renewable energy directive) di mana dalam Delegated Act tersebut memasukkan perhitungan ILUC (indirect land use change). Inilah yang dianggap sebagai bentuk baru diskriminasi sawit oleh Uni Eropa.

Saat memberikan sambutan dalam Seminar Sawit yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar RI di Oslo, Jumat kemarin, Todung menegaskan peran strategis industri sawit.

“Industri sawit memainkan peran penting dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan,” kata Todung.

Industri sawit, kata dia, menjadi sandaran kehidupan bagi 20 juta masyarakat Indonesia. Ada 4,2 juta pekerja langsung di sektor kelapa sawit dan 2,4 juta petani sawit.

“Kita ingin menegaskan bahwa industri sawit Indonesia memiliki komitmen yang tinggi untuk mencapai keberlanjutan,” katanya.

Baca juga :  Cenderung Terkoreksi, IHSG Diprediksi Bergerak Mendatar

Penasihat Politik Menteri Lingkungan Hidup dan Iklim Norwegia, Marit Vea, menegaskan hal serupa.

Pemerintah Norwegia, kata dia, bukan melarang masuknya produk minyak sawit dari Indonesia.

“Tetapi apakah sudah dihasilkan melalui appropriate approach. Kami akui minyak sawit sangat penting bagi perekonomian Indonesia,” kata Vea.

Karena itu, Indonesia dan Norwegia perlu mencari jalan keluar bersama agar industri sawit juga berperan dalam mereduksi emisi karbon dan mengurangi laju deforestasi.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Togar Sitanggang mengatakan industri sawit akan membawa Indonesia mencapai kemandirian energi.

“Siapa yang menguasai energi, mereka akan menguasai dunia. Itu yang membuat negara maju termasuk Uni Eropa khawatir dan akhirnya menghambat perkembangan minyak sawit,” kata Togar.

Menurutnya, komitmen untuk perbaikan tata kelola perkebunan sawit agar sejalan dengan tuntutan tujuan pembangunan berkelanjutan global dilakukan melalui berbagai cara. Antara lain penguatan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).

Sebagai standar tata kelola sawit berkelanjutan di Indonesia, ISPO memiliki kesamaan tujuan dengan standar tata kelola global lain. yaitu menekan deforestasi, mengurangi emisi gas rumah kaca dari perubahan fungsi lahan serta kepatuhan terhadap persyaratan hukum lain seperti perburuhan dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Baca juga :  Harga Karet Anjlok, Sebagian Warga Nupang Nuding Bercocok Tanam

“Penguatan ISPO mengadopsi nilai-nilai yang tertuang dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). SDGs merupakan agenda pembangunan dunia yang disepakati di PBB untuk dicapai dunia hingga 2030,” katanya.

Selain ISPO, Pemerintah Indonesia juga telah melaksanakan kebijakan moratorium hutan dan lahan gambut.

Karena itu, lanjut Togar, dalam berbagai kesempatan di dalam dan luar negeri, pemerintah bersama pemangku kepentingan berupaya mengampanyekan kelapa sawit sebagai produk strategis yang ramah lingkungan dan aman untuk kesehatan.

Ke depan, kata Togar, para pemangku kepentingan sawit di Indonesia akan terus memberikan pemahaman kepada masyarakat global bahwa sawit tidak hanya penting bagi Indonesia tetapi juga dunia.

“Produk minyak sawit untuk campuran biodiesel dan industri makanan serta produk turunan lainnya dinilai paling kompetitif dari segi harga dan pasokan dibandingkan minyak nabati lain.”

apahabar.com

Prof Dr Todung Mulya Lubis, Duta Besar RI untuk Kerajaan Norwegia. Foto-Istimewa

Baca Juga: Kelapa Sawit Indonesia Dilirik Peru, Gapki Kalsel: Pasar Potensial

Baca Juga: Ekspor Sawit Kalsel April-Mei Relatif Datar

Baca Juga: Pemerintah Remajakan Belasan Ribu Hektare Sawit Petani di Paser

Baca Juga: Diblokir Uni Eropa, Ekspor Kelapa Sawit ke Wilayah Itu Malah Meningkat

Editor: Fariz Fadhillah

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Banjarmasin Alami Inflasi 0,12 Persen, Intip Penyebabnya

Ekbis

Pagi Buta, Penumpang Membeludak di Terminal Baru Syamsudin Noor
apahabar.com

Ekbis

Tekan Alih Fungsi Lahan, BI Kalsel Adopsi Konsep Edupark Yogjakarta
Honda Jazz Terbaru Diluncurkan, Besar Kemungkinan Tidak Dipasarkan di Indonesia  

Ekbis

Honda Jazz Terbaru Diluncurkan, Besar Kemungkinan Tidak Dipasarkan di Indonesia  
apahabar.com

Ekbis

Kampanyekan #AntiHoax, Telkomsel Roadshow #InternetBaik Sambangi Banjarmasin
apahabar.com

Ekbis

Dibutuhkan Pasar Dunia, Jokowi Minta Petani Kembali Produksi Rempah-rempah
apahabar.com

Ekbis

Kegiatan Ekonomi Meningkat, IHSG Diprediksi Menguat
apahabar.com

Ekbis

Bursa Saham Asia Turun, IHSG Ikut Melemah
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com