Kadesnya Dijebloskan ke Bui, Plh Bupati Kotabaru Buka Suara Breaking! Heboh Mobil Terbakar di Tapin, 1 Warga Jadi Korban Masih Ada 122 Ribu Rumah di Kalteng Tak Layak Huni Dituding Gelembungkan Suara, Komisioner KPU Banjar Belum Berniat Polisikan Saksi Pencuri Mobil di Balikpapan Tak Ditahan Polisi, Kok Bisa?

SDN Tinggiran II 1 Tamban Menagih Rehab

- Apahabar.com Senin, 29 Juli 2019 - 18:31 WIB

SDN Tinggiran II 1 Tamban Menagih Rehab

Tidak pernah direhab sejak dibangun, SDN Tinggiran II 1 menagih rehabilitasi yang sedianya telah masuk Musrenbang 2018. Foto-Istimewa

apahabar.com, MARABAHAN Mulai lapuk pasca dibangun akhir 2010, SDN Tinggiran II 1 di Kecamatan Tamban menagih rehabilitasi kepada Pemkab Barito Kuala.

Sedianya rehabilitasi SDN Tinggiran II 1 sudah masuk dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) 2018. Namun sampai sekarang, rehabilitasi tersebut masih sebatas rencana.

“Dibangun sejak 2010, sekolah kami belum pernah direhab. Sekarang dinding luar maupun sekat antar kelas, plafon dan atap sudah lapuk,” papar Kepala Sekolah SDN Tinggiran II 1, H Arbani, Sabtu (27/09/2019).

“Memang kalau dilihat dari depan, bangunan sekolah kami masih terlihat bagus karena ditutupi cat. Tetapi di dalam, dinding dan lantai berlubang-lubang,” imbuhnya.

Menanggapi situasi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Batola, Sumarji, belum dapat memastikan realisasi rehabilitasi SDN Tinggiran II 1 dalam tahun anggaran 2019.

“Harus diakui kalau kami terbentur pendanaan. Misalnya kami mengusulkan anggaran sampai Rp35 miliar, tetapi yang disetujui hanya Rp15 miliar. Akibatnya banyak kekurangan di berbagai sektor kebutuhan,” ungkap Sumarji.

“Untungnya mulai tahun anggaran 2020, direncanakan terjadi kenaikan pagu anggaran sarana pendidikan menjadi Rp5 miliar, atau bertambah sekitar Rp1,5 miliar,” imbuhnya.

Total terdapat 272 SD di Batola dengan 1.774 ruang belajar. Dalam setiap tahun, termasuk tahun anggaran 2019, Disdik Batola merehabilitas 33 ruang belajar.

“Dengan kemampuan merehab 33 ruang belajar setiap tahun, artinya butuh lebih dari 50 tahun agar ruang belajar yang direhab sekarang diperbaiki lagi,” urai Sumarji.

Durasi antrean tersebut memang terlalu lama, mengingat kualitas bangunan sudah menurun selama 20 tahun. Bahkan bisa saja berumur lebih pendek, seandainya pekerjaan tidak sesuai perencanaan bangunan.

“Kalau ingin direhab setiap 15 tahun, berarti harus sekitar 110 hingga 115 ruang kelas yang diperbaiki dalam setiap tahun anggaran,” tegas Sumarji.

“Faktanya kami juga harus berhitung dengan anggaran yang tersedia. Khusus anggaran 2019, sebagian besar anggaran tersedot untuk peningkatan status guru honor,” tandasnya.

Baca Juga: Komitmen Bersama Menuju Daerah Tertib Ukur di HSS

Baca Juga: Juara 3 Orchid Landscape Asia Pacific, Sukamta Puji PAI Tala  

Reporter: Bastian Alkaf
Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Sebagian Ikan Bantuan Pemkab Banjar Sudah Busuk, Diskan Siap Mengganti
apahabar.com

Kalsel

Prajurit TNI Sigap Bantu Evakuasi dan Padamkan Kebakaran Rumah Warga
apahabar.com

Kalsel

Lomba Video dan Foto Tebar Habar Ramadan Apahabar.com, Berikut Juaranya
apahabar.com

Kalsel

Letkol Inf Nopid Arif Jabat Kodim 1007/Banjarmasin
apahabar.com

Kalsel

91 Kasus Baru Covid-19 di Kalsel, 68 dari Hasil Tracking di Sejumlah Wilayah
Kemenag

Kalsel

Oknum LSM Diduga Sunat Bantuan Covid-19 dari Kemenag di Tapin
Bupati Tabalong

Kalsel

Nyoblos di TPS 04 Pembataan, Bupati Tabalong Bawa Pulpen Sendiri
Kejahatan

Kalsel

Angka Kejahatan di Banjarmasin Turun Selama 2020
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com