Pengembalian Tengkorak Demang Lehman dan Dugaan Penghapusan Sejarah oleh Belanda 2021, Kemenhub Kaji Wacana Pembangunan Bandara di Barabai HST Kalsel Cara Nonton Live Streaming El Clasico Barcelona vs Real Madrid di Bein Sport & Vidio.com Malam Ini Jam Tayang & Link Live Streaming UFC 254 Khabib vs Gaethje di ESPN+, Duel Dua Juara! Jadwal Timnas U16 Indonesia vs UEA Malam Ini, Live NET TV & Live Streaming Mola TV, Prediksi Skor!

Tangkal Embargo Sawit Oleh UE, DPRD Kalsel: Kita Bisa Lakukan Hilirisasi

- Apahabar.com Selasa, 30 Juli 2019 - 11:38 WIB

Tangkal Embargo Sawit Oleh UE, DPRD Kalsel: Kita Bisa Lakukan Hilirisasi

Ilustrasi buruh sawit Indonesia. Foto-CNN Indonesia

apahabar.com, BANJARMASIN – Menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar negara, produksi sawit Indonesia terus menerus dijegal oleh Uni Eropa (UE) di pasar dunia.

Terbaru, UE mengenakan bea masuk anti-subsidi (BMAS) antara 8% hingga 18% terhadap produk impor bio-diesel dari Indonesia.

Secara otomatis, hal tersebut mengurangi devisa yang diperoleh Indonesia dari penjualan produksi sawit.

Dicekalnya produksi sawit membuat pemerintah mesti agresif mengganti mode penjualan ke bahan jadi.

Selain itu, pemerintah juga mesti meningkatkan produksi hilirisasi pada bahan mentah sawit.

“Makanya kita harus mengadakan hilirisasi. Terutama yang paling banyak adalah untuk bahan bakar baru dan terbaharukan ini yang harus digenjot pertama,” terang anggota DPRD Kalsel, Imam Supastowo, kepada apahabar.com, Selasa (30/7).

Untuk tetap menjaga bahkan meningkatkan devisa negara, pemerintah tidak bisa terus menerus mengikuti aturan UE.

Selain UE masih ada dua negara yang memberikan peraturan ringan untuk produksi hasil sawit Indoneisa seperti China dan India.

“Itu sesuai mandat pemerintah pusat yang meminta Pertamina juga mendistribusikan B30,” sambung Imam.

Ya, pemerintah telah membuktikan dukungan hilirisasi setelah memerintahkan Pertamina untuk mendistribusikan B30 (campuran bi-odiesel 30% pada bahan bakar solar).

Penggunaan bahan bakar B30 pada kendaraan bermesin diesel dinilai mampu menghemat impor hingga Rp70 triliun.

“Mereka (UE) produksi minyak nabati-nya kan hanya dari bunga matahari, sedangkan kita dari sawit dan Afrika itu dari sawit,” sambungnya.

Hal lain yang menjadi kendala saat ini adalah peremajaan sawit itu sendiri.

Imam menilai produksi sawit di Kalsel saat ini sudah di posisi puncak dan harus kembali peremajaan.

“Produksi sawit saat ini sudah pada posisi puncak di mana masyarakat jarang sekali melaksanakan pengembangan,” tuturnya.

Dalih UE

Komisi Eropa telah memulai investigasi anti-subsidi pada Desember lalu menyusul keluhan dari Dewan Biodiesel Eropa pada awal 2018.

Eropa mengklaim telah memiliki bukti kuat adanya subsidi yang dinikmati produsen bio-diesel dari pemerintah Indonesia dalam bentuk pembiayaan ekspor, penghapusan pajak, dan penyediaan bahan baku minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di harga yang sangat rendah.

Baca Juga: Peraih Suara Terbanyak ‘Tersingkir’, Golkar Godok 3 Nama Calon Ketua DPRD Kalsel  

Baca Juga: Tiga Nama Calon Ketua DPRD Kalsel Diusulkan ke Golkar Pusat

Reporter: Rizal Khalqi
Editor: Fariz Fadhillah

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

DPRD Kalsel

Permentan Cabut Subsidi, Imam Berat Ketemu Petani di Kalsel
apahabar.com

DPRD Kalsel

Banjarmasin Diteror Kebakaran, Simak Solusi dari DPRD Kalsel
apahabar.com

DPRD Kalsel

Massa Anti-Omnibus Law Duduki Kantor DPRD Kalsel, Paripurna Tetap Digelar?
apahabar.com

DPRD Kalsel

Pulang dari Kementerian PU, Kalsel Dapat Suntikan Dana
apahabar.com

DPRD Kalsel

Dewan: Seharusnya Perusahaan Tambang Kalsel Bantu Ventilator
apahabar.com

DPRD Kalsel

Sekretariat DPRD Kalsel Berupaya Tingkatkan Kedisiplinan, Termasuk Cara Berpakaian
apahabar.com

DPRD Kalsel

DPRD Kalsel Tandatangani 10 Dekrit Tuntutan Mahasiswa
apahabar.com

DPRD Kalsel

DPRD Banjarmasin Terima Kungker Pokja Banmus Tanbu
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com