Siap-Siap, Ditlantas Polda Kalsel Bakal Uji Coba Tilang Elektronik Usai Banjir Siapkan Hunian Layak, Polda Kalteng Bangun Rusun Bagi Anggota BPPTKG: Volume Kubah Lava Merapi Masih Tergolong Kecil Sedikit Surut, Puluhan Rumah di Martapura Masih Terendam Banjir Tahap 3, Belasan Koli Vaksin Covid-19 Tiba di Kalsel

Bubarkan Banser! Hah?

- Apahabar.com Minggu, 25 Agustus 2019 - 13:46 WIB

Bubarkan Banser! Hah?

Anggota Banser dengan Abah Guru Sekumpul, Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani. Foto-istimewa

Oleh: Abu Zein Fardany

GENERASI sekarang mungkin banyak tidak tahu, namun tidak bagi yang lahir tahun 80-an. Pada tahun 1998 terjadi tragedi berdarah yang kelak dikenal dengan peristiwa “Ninja”. Tragedi ini adalah pembunuhan terhadap para kyai dan guru mengaji yang dituduh sebagai dukun santet. Bermula pada bulan Februari 1998, pembunuhan memuncak pada Agustus dan September 1998.

Disebut dengan “Ninja” karena para pembunuh menggunakan cadar dan beroperasi di malam hari, dengan kemampuan layaknya ninja.

Ninja tersebut memakai pakaian serba hitam dan kedapatan memakai handy-talky dalam beroperasi. Ada dua versi mengenai ninja ini. Ada yang menyebutkan bahwa ninja tersebut adalah orang yang hanya berkostum hitam dan membawa senjata, sedangkan yang lain menceritakan bahwa sosok ninja yang mereka lihat adalah seperti ninja di Jepang dan mampu bergerak ringan melompat dari sisi ke sisi yang tidak akan bisa dilakukan oleh manusia biasa. Mereka sangat terlatih dan sistematis. Modusnya, listrik tiba-tiba mati dan sesaat kemudian terdapat seseorang yang sudah meninggal karena dibunuh. Keadaan mayat pada saat itu ada yang sudah terpotong-potong, patah tulang ataupun kepala yang pecah.

Telak saja, rentetan peristiwa pembunuhan menimbulkan keresahan masyarakat. Terutama para pemuka agama. Karena mayoritas korban dari kalangan mereka. Di setiap pesantren dan rumah kyai, jaga malam dihidupkan.

Penulis, yang kala itu masih menjadi “Pondokan Sekumpul”, bersama kawan-kawan sesama santri mengkhawatirkan terjadi yang tidak diinginkan pada kyai kami, Abah Guru Sekumpul. Karenanya, kami berinisiatif ikut berjaga bila malam hari. Tempat kumpul kami di simpang empat jalan Pendidikan, sekira 500 meter dari rumah Abah Guru Sekumpul.

Saat itulah kami sering bertemu Banser yang meronda malam. Mereka berkeliling kota meninjau rumah-rumah kyai, memastikan keamanannya. Hampir tiap malam, kami bertemu beberapa anggota Banser meronda naik sepeda motor.

Memang, membaca sejarahnya, Banser adalah pengawal dan penjaga keamanan kyai semenjak berdirinya. Selainnya tugasnya membela tanah air dan Pancasila.

Perjalanan panjang Banser bermula dari Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO) yang didirikan pada 24 April 1934. Kemudian pada tahun 1938 berubah menjadi Barisan Nadhlatul Oelama (Banoe), kemudian terakhir menjadi Barisan Anshor Serbaguna (Banser).

Perkembangan selanjutnya, Banser memiliki satuan-satuan khusus dengan fungsinya masing-masing. Ada Detasemen Khusus 99 Asmaul Husana (Densus 99), Satuan Banser Tanggap Bencana (Bagana), Satuan Khusus Barisan Ansor Serbaguna Penanggulangan Kebakaran (Balakar), Satuan Khusus Banser Lalu Lintas (Balantas), Barisan Ansor Serbaguna Husada (Basada), Barisan Ansor Serbaguna Protokoler (Banser Protokoler), dan Barisan Ansor Serbaguna Maritim (Baritim).

Loyalitas Banser terhadap kyai-kyai Aswaja tidaklah diragukan. Mereka telah terbukti berpuluh tahun menunjukkan kesetiaannya mengawal ulama-ulama Aswaja dan NKRI.

Bila kemudian ada isu yang dihembuskan Banser membubarkan pengajian, maka layak untuk dicek kembali, benarkah yang dibubarkan itu pengajian, ataukah upaya provokasi yang berlindut dibalik label pengajian. Pun juga siapa yang menjadi pemateri acara tersebut. Apakah seorang ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah, ataukah hanya seorang awam ilmu agama yang didandani layaknya ulama kemudian dipromosikan sebagai ulama.

Orang Kalimantan Selatan tentu masih ingat, bagaimana peran Banser pada 2018 silam, mencari data, melaporkan dan mengawal proses hukum seorang yang menghina Abah Guru Sekumpul.

‚ÄúSudah cukup ulama-ulama Aswaja kita di tanah banjar, ulama kecintaan kita dicoreng marwahnya oleh sebagian orang yang merasa paling ‘nyunnah’ itu. Harus ada yg memberikan teguran bahwa jika tidak memiliki ilmu yang cukup hendaknya diam,” kata Ketua Banser Banjarmasin pada Jum’at (29/6/2018) kala itu, sebagaimana dikutip Islampers.com.

Karenanya, bila ada yang kemudian meneriakkan, ataupun menyebarkan opini dan mendukung hastag #BubarkanBanser kita mesti waspada, apa target mereka selanjutnya. Jangan-jangan kyai Aswaja, NKRI dan Pancasila. Untuk itu, gencarkan hastag #BanserUntukNegeri kita perlu mereka, yang terbukti berjasa menjaga ulama kita.

apahabar.com

Abu Zein Fardany. Foto-Istimewa

Baca Juga: Alumni Pesantren VS Ustadz Karbitan

Baca Juga: Melacak Akar Paradigma Keislaman Modern (Islam Liberal, Islam Fundamental, Islam Tradisional, dan Islam Moderat)

Editor: Muhammad Bulkini

======================================================================

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Editor: aji - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Mengembalikan Proses Belajar Mengajar Tatap Muka di Tengah Pandemi
apahabar.com

Opini

Karmila dalam Bayang-Bayang Politik Patronase Sang Ayah
apahabar.com

Opini

Delapan Butir Maklumat KAMI
apahabar.com

Opini

B30 Terkesan Dipaksakan, dan Tak Sepenuhnya Sesuai NDPE
apahabar.com

Opini

Rahasia Guru Zuhdi Ketika Sakit
apahabar.com

Opini

Jenderal, Ini Demonstran, Bukan Perusuh
apahabar.com

Opini

Islamofobia dan Kumandang Azan dari Radio BBC London
apahabar.com

Opini

April yang Sunyi
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com