H2D Sidang Perdana di MK, Bawaslu RI ‘Turun Gunung’ ke Kalsel 4.840 Vial Vaksin Covid-19 Tiba di Tanah Bumbu Pengungsi Banjir Bertambah, Kalsel Perpanjang Status Tanggap Darurat Ribuan Vial Vaksin Covid-19 Tahap II Tiba di Kapuas Sempat Tertunda karena Banjir, Akhirnya Vaksin Covid-19 Tiba di Tala

Diserang Tungro, Panen Padi Petani Lepasan Terancam Menurun

- Apahabar.com Rabu, 28 Agustus 2019 - 16:21 WIB

Diserang Tungro, Panen Padi Petani Lepasan Terancam Menurun

Seorang warga Lepasan mengangkut karung berisi padi yang baru saja dipanen, Selasa (27/8). Beberapa hektare padi di desa tersebut diserang tungro yang menyebabkan produksi sedikit menurun. Foto-apahabar.com/Bastian Alkaf

apahabar.com, MARABAHAN – Puluhan petani di Kelurahan Lepasan, Kecamatan Bakumpai, terancam kehilangan banyak hasil panen padi akibat serangan tungro.

Tungro disebabkan virus yang ditularkan hama wereng hijau. Penularan tungro dapat terjadi apabila wereng hijau memperoleh virus setelah mengisap tanaman yang terinfeksi, kemudian berpindah dan mengisap tanaman sehat.

Padi yang terinfeksi tungro menjadi kerdil, daun berwarna kuning sampai kuning jingga disertai bercak-bercak berwarna coklat. Perubahan warna daun dimulai dari ujung, meluas ke bagian pangkal.

Jumlah anakan juga sedikit dan sebagian besar gabah hampa. Infeksi tungro juga menurunkan jumlah malai per rumpun, sekaligus membuat malai pendek dan membuat jumlah gabah per malai rendah.

Virus inilah yang sedang menyerang tanaman padi petani-petani di Lepasan. Bahkan dibanding tahun-tahun sebelumnya, kerugian yang disebabkan tungro cukup banyak.

“Setahun sebelumnya gabah yang dihasilkan dari 1 borongan (1/6 hektare) mencapai 10 hingga 12 blek. Sekarang paling cuma mendapat 5 sampai 7 blek per borongan,” papar Rusli, warga Lepasan RT 4, Selasa (27/8/2019).

Tidak cuma Rusli. Warga lain bernama Muhammad Nawawi mengeluhkan hal serupa. Bahkan dari 1 hektare lahan (36 borongan), kerusakan bisa mencapai 5 hingga 7 borongan.

“Sebenarnya Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) sudah pernah datang ke lahan kami. Namun tetap saja persoalan tungro tidak selesai,” tukas Nawawi.

Penyebaran tungro sendiri tidak hanya terjadi di Indonesia, karena juga di beberapa negara Asia lain seperti India, Malaysia, Vietnam, Filipina dan Thailand.

Ironisnya belum ditemukan insektisida yang dapat menghentikan tungro. Satu-satunya cara yang bisa ditempuh hanya memberi nutrisi agar ketahanan padi meningkat.

Opsi lain adalah pembakaran lahan pasca panen demi menghentikan siklus hidup virus. Hal tersebut pernah terjadi pada 2013, ketika banyak lahan petani Lepasan ikut terbakar dalam peristiwa kebakaran lahan dan hutan terparah dalam lima tahun terakhir.

“Memang dalam panen 2014 atau pasca kebakaran lahan itu, jumlah gabah yang dihasilkan petani membaik,” papar Kasi Perlindungan Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Barito Kuala, Ibnu Medio Ginting, Rabu (28/8).

“Namun demikian, kami tak pernah merekomendasikan pembakaran lahan. Selain asap yang ditimbulkan, sengaja membakar lahan merupakan tindakan melawan hukum,” tegasnya.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Batola, 133 dari 105.000 hektare luas tanam padi di Bumi Selidah mendapat serangan tungro.

Serangan terbanyak terjadi di Kecamatan Alalak dengan luasan 44 hektare, disusul Jejangkit dengan 16 hektare.

“Namun lahan 133 hektare itu hanya diserang dan belum dapat disebut puso, karena masih menghasilkan padi. Kebanyakan yang diserang adalah varietas lokal seperti mayang, siam mutiara dan karang dukuh. Sedangkan varietas unggul memiliki ketahanan yang lebih baik,” jelas Ibnu.

Kendati belum memiliki penawar, tungro sebenarnya masih dapat dicegah. Pencegahan itu dilakukan sebelum awal tanam.

“Diawali dengan pembersihan lahan, terutama mencabut turiang yang pernah diserang tungro. Sisa turiang itu pun tak boleh dibuang sembarangan dan sebaiknya dijauhkan dari lahan,” urai Ibnu.

“Pencegahan lain adalah penggantian benih dari padi yang diyakini tidak pernah diserang tungro. Kalau masih menggunakan benih dari lahan yang sama, dikhawatirkan virus kembali berkembang biak,” tambahnya.

Pencegahan itu masih belum cukup, kalau tak dibarengi ketelitian petani. Tanaman padi yang sudah memperlihatkan gejala serangan tungro, sebaiknya langsung dicabut.

“Tak kalah penting adalah memperhatikan jadwal pemupukan agar tak terlambat, sehingga nutrisi tanaman tercukupi. Sementara kalau air mulai asam, penaburan kapur juga jangan sampai dilupakan,” tandas Ibnu.

Baca Juga: Kaltim Jadi Ibu Kota, Pemkab Tabalong dan Tanah Bumbu Wajib Agresif

Baca Juga: Jasadnya Tergantung, Polisi Belum Simpulkan Penyebab Kematian Dayat

Reporter: Bastian Alkaf
Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Amrullah - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Untuk Laporan SAKIP, Pemprov Kalsel Dapat Nilai A
apahabar.com

Kalsel

Viral Pengemudi di Banjarmasin Kena Denda, Perlukah Masker Saat di Mobil Pribadi?
apahabar.com

Kalsel

Keputusan Bawaslu, Ini Sikap Habib Ahmad
Tanbu

Kalsel

Perkiraan Situasi dan Kerawanan pada 2021 di Tanbu, Berikut Penjelasan Kapolres
Banjir Kalsel

Kalsel

Biang Kerok Banjir Kalsel, Ternyata Tak Cuma Tambang dan Sawit
apahabar.com

Kalsel

Saldo Miliaran Berkurang, Bank Mandiri Janjikan Secepatnya Kembalikan Uang Nasabah!
apahabar.com

Kalsel

Cegah Corona di Kalangan Driver, Begini Upaya Grab Banjarmasin
apahabar.com

Kalsel

1 Pasien Positif di Anjir Pasar, Masih Terkait Btl-01
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com