Tim Macan Kalsel Gerebek Wanita Buronan Kasus Penggelapan Kapal Indef: Setahun Jokowi-Ma’ruf Amin ULN Melonjak, Setiap Penduduk Warisi Utang Rp 20,5 juta Demo di Pelaihari Berbuntut Laporan Polisi, Sekda Tala Minta Maaf Harga Tiket Bioskop XXI Duta Mall Banjarmasin Turun, Simak Daftar Lengkapnya Kedai Terapung, Unggulan Wisata Baru di Barito Kuala

Kartu Pos Antik Bergambarkan Hotel Bandjer Dilelang Miliaran Rupiah?

- Apahabar.com Minggu, 4 Agustus 2019 - 16:03 WIB

Kartu Pos Antik Bergambarkan Hotel Bandjer Dilelang Miliaran Rupiah?

Kartu pos bergambar Hotel Bandjer seri 8668 yang dicetak T. Schwider-noch Wienna-Hacking (Austria) sekitar tahun 1899. Foto-KITLV.

apahabar.com, BANJARMASIN – Sebuah kartu pos antik hitam putih yang dikirim dari Bandjermasin, tiba di Princess Juliana Raad, Soerabaia (Surabaya), pada 1 Mei 1912 silam.

Kartu pos memuat foto dengan dua buah gambar di sisi belakang. Gambar pertama, memuat bangunan dengan titel Hotel Bandjer. Kemudian gambar kedua, seorang Room Boy yang tengah berpose.

Kartu pos ini dicetak dan diterbitkan T Schwidernoch Wienna-Hacking sekitar tahun 1899. Prangko merah seharga 5 cent masih terpasang di bagian belakang kartu.

Keantikan kartu pos ini membuat seorang kolektor di wilayah Tilburg, Netherlands menyimpannya sebagai koleksi, hingga melelangnya pada tahun 2017 di ebay seharga US $79.99 atau sekitar Rp 1.080.945.95.

“Harga yang lumayan mahal untuk sebuah kartu pos lama,” ucap Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP ULM, Mansyur kepada apahabar.com, Minggu (4/8) siang.

Siapa sangka, Hotel Bandjer yang terdapat di dalam kartu pos unik itu terletak di Banjarmasin.

Hotel Bandjer merupakan satu satunya hotel kelas satu di Gemeente Banjarmasin masa Hindia Belanda.

“Akhirnya, satu karya Prof Idwar Saleh tentang Kota Banjarmasin tahun 1981 menguak informasi. Sebelum Kota Banjarmasin berstatus Gemeente (Kotamadya), nama hotel ini adalah hotel Wiggers,” ujar Mansyur.

Nama ini, kata dia, sangat identik dengan Hotel Wiggers di kawasan Bad Oldesloe, Jerman.

Lalu, apakah ada hubungan antara keduanya?

Memang belum bisa dipastikan. Namun, dalam buku Egons Predecessors: Dutch Insurance Through 1870, nama Wiggers tertulis C.F.W Wiggers van Kerchem, yang pada 31 Desember 1859 mendirikan Nederlandsche Indische Levenverzekering en Lijvrente Maatschappij (NILLM).

Perusahaan ini yang menjadi cikal bakal Asuransi Jiwasraya. Wiggers juga menjadi Presiden Direktur De Javasche Bank periode 1863-1868.

Idwar Saleh mengungkapkan, sambung dia, bagian depan Hotel Bandjer menghadap ke Sungai Martapura.

Kemudian di depan teras hotel terdapat sebuah kebun binatang yang lumayan keadaannya. Pada wilayah sekitar hotel ini terdapat sejumlah rumah rumah besar. Berupa perkampungan kecil.

Uniknya di sekitar hotel juga terdapat aktivitas Pasar Sore yang sekarang disebut Pasar Kupu-kupu.

Pada lokasi ini berdekatan terdapat sebuah Kantor Pos dan rumah bubuhan orang kaya. Satu diantaranya rumah Mas Usup.

Pelabuhan Banjarmasin (Pelabuhan lama) belum masih belum mengalami pelebaran dermaga. Cukup hanya untuk menampung dua buah kapal penumpang armada K.P.M. milik Pemerintah Hindia Belanda.

“Pada hotel ini memang hanya diperuntukkan untuk orang-orang Eropa. Sementara pribumi tidak diperbolehkan,” kata Mansyur.

Mengenai lokasi hotel Bandjer, juga digambarkan dalam Peta Schetskaart van de Hoofdplaats Bandjermasin en omliggend terrein, 1916 yang dibuat oleh H.P. Loing.

Seperti penggambaran Idwar saleh, Hotel Bandjer juga dilukiskan terdiri dari satu bangunan panjang. Kemudian terdapat beberapa bangunan lain di sekitarnya.

Lokasi Hotel Bandjer dalam Peta Schetskaart van de Hoofdplaats Bandjermasin en omliggend terrein, 1916, oleh H.P. Loing.

Apabila dilihat keberadaan dari Jalan Pasar Kupu Kupu sekarang, terletak di dekat Lapangan Tenis Korem. Bisa melewati Jalan Samping Jembatan Dewi. Pasar kupu-kupu sekarang men-jadi lokasi jual/beli barang besi.

Umumnya juga dikenal dengan jalan Bank BRI yang berlokasi di belakang Bank BCA dan Mandiri lebih tepatnya.

Lokasi hotel ini bisa dicapai dari arah jalan utama Hendrich Haanweg atau jalan Resident de Haanweg (sekarang Jalan Lambung Mangkurat), kawasan yang umumnya ditempati oleh para ambtenaar (pegawai pemerintah). Letak Pasar Kupu-kupu tidak jauh dari Coenbrug (jembatan Coen).

Antara Coenbrug dan Pasar Lama adalah tempat yang strategis, baik bagi pemerintahan Belanda hingga Pemerintah Kota Banjarmasin dan Propinsi Kalimantan Selatan di masa sekarang.

Terdapat wijk (kawasan tempat tinggal) dan perkantoran Resident Belanda di jalan Resident de Haanweg (sekarang Jalan Lambung Mangkurat) dibangun dengan arsitektur rumah Joglo Jawa dari kayu ulin beratap sirap.

Tempat itu pada 1988 dirubuhkan pada masa Gubernur Muhammad Said kemudian didirikan perkantoran Gubernur Kalimantan Selatan. Lebih ke hilir lagi terdapat Benteng Tatas (sekarang menjadi kawasan Masjid Sabilal Muhtadin).

Mengenai bangunan Grand Hotel Bandjer berada di jalan sepanjang ±3 kilometer yang berbaur dengan pemukiman penduduk.

Sayangnya layanan untuk mandi dari kolam air hujan. Akan tetapi bangunan ini mengalami keuntungan terhindar dari serangan rayap, lantaran tanahnya yang tetap lembab.

Karena itu, lantainya hanya dilapisi dengan penutup semen terlebih dahulu. Kemudian struktur bangunan lantai beton tidak diubah.

Pada hotel ini menyediakan ruang makan di sebelah kanan hotel dengan view menghadap Sungai Martapura.

Mengenai hotel ini, A.C. Krusemen (1922) dalam tulisannya Aarde en haar volken, menceritakan bahwa Hotel Bandjer menawarkan layanan untuk Susur Sungai di Kota Banjarmasin.

Hal paling menarik adalah mengunjungi penjual tanggui (caping) khas Banjar, penutup kepala yang terbuat dari daun nipah kering berbentuk setengah lingkaran. Penjualnya di “toko” terapung di wilayah Kuin.

Susur Sungai diadakan manajemen hotel setiap jam 4 sore, yang melayani perjalanan sepanjang sungai ke wilayah Marabahan.

Satu diantara kapal yang mengantarkan wisatawan bernama kapal Negara. Jalur yang dilalui adalah Sungai Martapura dan Barito.

Iklan Hotel Bandjer yang dimuat dalam Surat Kabar Soerabaiasch Handelsblad hari Sabtu 1 November 1902, menuliskan hotel ini berperingkat satu di Bandjermasin lengkap dengan berbagai fasilitasnya yang memanjakan wisatawan.

Dibangun berbentuk pavilion di tepian Sungai Martapura, berdekatan dengan Kantor Pos dan benteng Tatas.

Dilengkapi hiburan biliar dan meja baca. Sementara pipa air dialirkan melalui gedung. Terdapat kamar mandi yang berdekatan dengan Sungai Martapura.

Terdapat dermaga untuk tempat bersandarnya perahu yang membawa pelancong. Makanan yang disajikan sangat baik serta dilengkapi sambungan listrik.

Untuk bahasa pengantar di Hotel ini bisa menggunakan Bahasa Jerman, Perancis dan Inggris. Iklan dibuat di masa jabatan administrator hotel, JA Goedbloed.

Iklan Hotel Bandjer yang dimuat dalam Surat Kabar Soerabaiasch Handelsblad hari Sabtu 1 November 1902.

Berdirinya Hotel Bandjer yang kemudian berubah nama menjadi Grand Hotel Bandjer, tidak terlepas dari ramainya kegiatan Kepariwisataan masa Hindia Belanda.

Dimulai secara resmi sejak tahun 1910-1912 setelah keluarnya keputusan Gubernur Jenderal atas pembentukan Vereeneging Toeristen Verkeer (VTV) yang merupakan suatu biro wisata pada masa itu.

Untuk memberikan pelayanan kepada mereka yang melakukan perjalanan ini, maka didirikannya pertama kali suatu cabang Travel Agent di Jalan Majapahit No 2 Jakarta, tahun 1926 yang bernama Lissone Lindemend (LISIND) yang berpusat di Negeri Belanda.

Tahun 1928 Lislind berganti nama menjadi Neder-landche Indische Touristen Bureau (NITOUR) yang merupakan jaringan dari KNILM.

Saat itu, kegiatan pariwisata lebih banyak didominasi kaum kulit putih saja, sedangkan untuk bangsa pribumi bisa dikatakan tidak ada.

Fungsi hotel pada masa-masa itu juga banyak digunakan untuk penumpang kapal laut dari Eropa. Hal ini mengingat belum adanya kendaraan bermotor untuk membawa tamu-tamu tersebut dari pelabuhan ke hotel dan sebaliknya. Karena itu maka digunakan kereta kuda.

apahabar.com

Hotel Bandjermasin. Foto-KITLV

Baca Juga: Dini Hari, Pria di HST Bersimbah Darah Diserang Saat Tidur

Baca Juga: Prihatin Generasi Muda, Nely Safitri Ajak Tanamkan Cinta Budaya

Reporter: Muhammad Robby
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Nahas, Seekor Bekantan di Banjarmasin Tewas Tersengat Listrik
apahabar.com

Kalsel

Beberkan Ancaman Berbangsa, Dandim 1007/Banjarmasin Imbau Pemuda Jaga Kesatuan
apahabar.com

Kalsel

Mulai Digarap, Jembatan Kelayan 4 Sedot Anggaran Rp 13 Miliar
apahabar.com

Kalsel

Positif Corona, Belasan Karyawan RSUD Banjarmasin Terpaksa Diistirahatkan
apahabar.com

Kalsel

Sigap, Bhabinkamtibmas dan Babinsa Beri Bantuan untuk Korban Kebakaran di Cempaka
apahabar.com

Kalsel

Tak Kantongi Izin, PT Travellindo Langgar Peraturan Menteri Agama dan Dirjen PHU
apahabar.com

Kalsel

Petugas PPDP Tabalong Dilepas, Ini Pesan Ketua KPU RI
apahabar.com

Kalsel

Bandara Syamsudin Noor Segera Berstatus Internasional
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com