apahabar.com
Petani Karet di Desa Damit Hulu keluhkan kerugian akibat kebun karetnya terendam. Foto-apahabar.com

apahabar.com, PELAIHARI – Diduga imbas dari air bendungan perusahaan tambang meluber, puluhan hektar perkebunan karet milik petani Desa Damit Hulu Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Tanah Laut (Tala) gagal panen.

Galian tambang tersebut diduga berada di Desa Batalang, tidak terlalu jauh dengan Desa Damit.

Ismanto salah satu petani karet setempat mengatakan, “Kebun kami nyaris tidak bisa disadap lagi. Bagaimana bisa disadap wong pohonnya tergenang air setinggi 5 meter itu.”

Ismanto mengatakan ada sekitar 10 hektare lahan terdampak banjir, termasuk kebun karet miliknya.

“Genangan air itu memang karena tambang yang beraktivitas sekitar lima kilometer di jejeran tanaman karet di Desa Damit Hulu RT 4. Yang terendam air sudah tak bisa diapa-apakan lagi oleh para petani. Akibat kejadian tersebut, penghasilan petani pun menurun, bahkan merugi hingga puluhan juta,” bebernya pada apahabar.com, Selasa (13/8/2019).

Menurut dia, musibah itu berlangsung sejak September 2018 lalu.

“Hampir satu tahun kebun karet terus mengalami kemerosotan hasil sadapan imbas air bendung milik perusahaan tambang yang meluber ke lahan karet kami,” ujarnya.

Ketinggian air, kata dia sekitar tiga meter.

apahabar.com
Petani karet Desa Damit saat memperlihatkan kedalaman air yang merendam kebun karet mereka. Foto-apahabar.com

 

Hal serupa juga dirasakan petani lainnya, Istihar. Dia mengaku merugi puluhan juta rupiah disebabkan karetnya hampir 50 persen tidak bisa disadap.

“Jika (biasanya) setiap minggu kita bisa terima 1 juta, sekarang paling banyak 600 ribu. Selama kurang lebih 1 tahun tidak bisa disadap. Sebab kebun yang terendam ini adalah kebun karet yang produktif. Sehingga tidak bisa menghasilkan seperti sebelumnya,” paparnya.

“Kami yakini akibat rendaman air di bendungan itu, penyebab utama positif karena tambang,” katanya lagi.

Sejak dulu, lanjut Istihar, penambang sudah ada. Akan tetapi, mereka tidak pernah menutup arus sungainya. Dan baru tahun ini, arusnya ditutup.

“Bendungan yang dibuat oleh pemilik tambang harusnya tidak ada. Jika pun menggunakan bendungan, harus memiliki saluran pembuangan,” kata Istihar.

Baca Juga: Memasuki Kemarau, Petani Limau Keprok Terancam Gagal Panen

Baca Juga: Curah Hujan Tinggi, Petani Batola Was-was Gagal Panen

Baca Juga: Puluhan Hektare Sawah di Tapin Terancam Gagal Panen

Reporter: Ahc14
Editor: Muhammad Bulkini