apahabar.com
Tidak seperti kabar yang beredar di media sosial, proses melempar jumrah jemaah haji tidak terkendala hujan deras di Mina. Foto-Istimewa

apahabar.com, MARABAHAN – Hujan deras yang sempat mengguyur Tanah Suci, Senin (12/8), tidak sedikitpun mengganggu prosesi ibadah haji jemaah dari Barito Kuala dalam Kloter BDJ 12.

Seusai menjalani wukuf di Arafah, jemaah haji yang tiba di Mina langsung disambut hujan deras dan angin kencang.

Hujan berlangsung sejak pukul 14.30 waktu dan baru benar-benar berhenti sekitar pukul 17.00 waktu setempat. Kondisi tersebut terbilang jarang, lantaran sudah memasuki musim panas.

Tak ayal situasi tersebut memunculkan isu di media sosial, termasuk grup Whatsapp. Disebutkan bahwa listrik tenda-tenda di Mina harus dimatikan, sehingga eskalator menuju Jamarat tidak berfungsi.

Juga diisukan akses jalur menuju tempat pelemparan jumrah ditutup, karena jalan yang tergenang banjir. Selanjutnya keadaan tidak kondusif, karena penumpukan jamaah.

“Memang Mina sempat diguyur hujan deras dan angin kencang. Tetapi tak sampai membuat kondisi jemaah kurang kondusif, khususnya selama pemondokan di Mina,” bantah penanggungjawab medis Kloter BDJ 12, dr Muhammad Inayaturrahman Hamsin, Selasa (13/8).

“Juga tidak pernah terjadi mati lampu di tenda BDJ 12, meskipun air sempat memercik ke dalam akibat tiupan angin,” sambungnya.

Justru hujan disambut jemaah dengan gembira. Tidak sedikit yang sengaja berhujan-hujanan, lantaran peristiwa tersebut mungkin dirasakan sekali seumur hidup.

Sementara penutupan Jamarat memang benar terjadi. Hal tersebut dilakukan demi keselamatan jemaah yang melontar, karena terdapat pancuran air dari atas atas bukit.

“Namun hanya ditutup sementara, sampai kondisi terowongan membaik. Memang jadwal dimundurkan beberapa jam, tetapi Kloter BDJ 12 hanya diundur selama 1 jam,” tegas Inayaturrahman.

“Pun ketika jadwal melontar diberikan kepada Kloter BDJ 12, Alhamdulillah semuanya lancar dan jalanan juga tidak banjir. Tak terjadi penumpukan jemaah atau saling berebut. Bahkan masing-masing jemaah bisa berada di paling depan,” imbuhnya.

Konfirmasi serupa juga disampaikan Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Mekah Kementerian Agama, Subhan Cholid, seperti dilansir detik.com.

“Hujan memang terjadi, tetapi tidak sampai banjir. Kejadian yang beredar di media sosial mungkin video lama yang diangkat kembali,” jelas Subhan.

“Buktinya setelah hujan, Alhamdulillah normal kembali. Penutupan sementara akses ke lokasi jumroh sebenarnya lebih untuk menjaga keselamatan jemaah,” tandasnya.

Selain 235 jemaah haji dari Batola, Kloter BDJ 12 juga menampung 31 jemaah dari Banjar dan 53 jemaah dari Banjarmasin.

Baca Juga: Habar Haji 2019; Menag Temui Gubernur Makkah, Bahas Perbaikan di Kawasan Mina

Baca Juga: Wukuf Selesai, Dari Arafah Jemaah Haji Menuju Muzdalifah

Baca Juga: Habar Haji 2019; Seorang Jemaah Asal Kalsel Dikabarkan Meninggal Dunia

Baca Juga: Jelang Puncak Haji, Jemaah Disambut Badai Guntur

Reporter: Bastian Alkaf
Editor: Syarif