apahabar.com
Raja Pagatan ke 9, Andi Sallo (badannya paling tinggi). Foto-Tribunnews

apahabar.com, BATULICIN – Tak banyak orang yang masih menyimpan catatan sejarah tentang Kabupaten Tanah Bumbu, dan hal-hal yang terkait dengan kabupaten di pesisir tenggara Pulau Kalimantan itu.

Di antara segelintir nama, Andi Satria Jaya adalah salah satu sosok yang memiliki kepedulian terhadap dokumen-dokumen penting tersebut. Sampai hari ini, Kepala Desa Mattone itu masih menyimpan cukup banyak foto-foto jadul Kota Pagatan.

“Di rumah saya ada puluhan foto bersejarah sejak zaman kerajaan,” kata Andi Jaya yang tercatat masih keturunan Raja Pagatan, kepada apahabar.com, Rabu (14/08).

Foto tertua yang tersimpan di rumah Andi Jaya adalah potret Andi Sallo’ (Arung Abdurahim), raja terakhir Pagatan dan Kusan pada 1893-1908.

Foto itu sempat disimpan pada salah satu museum di Belanda, sebelum seorang sejarawan bernama Donald Tick mengantarkan foto tersebut ke rumah Andi Jaya pada 2005 silam.

“Foto itu diantar oleh Donald Tick ke rumah saya. Dia peneliti sejarah 100 kerajaan di Indonesia,” kata Andi.

Foto bersejarah lain yang masih disimpan oleh ayah dua anak ini adalah foto Andi Sallo’ bersama Abdul Gafar Noor bin Pangeran Encik M Noor yang merupakan ayah dari Syamsuddin Noor. Belakangan nama Syamsuddin Noor diabadikan menjadi nama bandara di Banjarbaru, Kalsel.

“Momen pertemuan antara Andi Sallo’ bersama Abdul Gafar Noor terjadi sekira tahun 1900-an,” ungkap Andi Jaya.

Andi Jaya juga masih menyimpan foto ketika para pangeran di Kerajaan Pagatan menerima ijazah kelulusan sekolah. Di dalam foto itu terlihat para pangeran penerima ijazah dari guru yang berasal dari Belanda.

“Selain foto-foto bersejarah juga ada catatan sejarah perang 7 Februari 1946 di Pagatan, catatan harian Kerajaan Pagatan, dan beberapa stempel kerajaan,” jelas Andi.

Banyaknya koleksi dokumen bersejarah yang disimpan Andi Jaya ternyata dilirik oleh Pemkab Tanah Bumbu. Intinya, pemerintah daerah ingin dokumen langka itu dapat disimpan sebagai arsip daerah.

Andi Jaya siap membantu pemerintah daerah. Namun, ia memberikan catatan, jika ia menyerahkan arsip sejarah itu, Pemkab Tanah Bumbu harus memiliki museum yang layak, sehingga keamanan arsip tersebut dapat terjamin.

Andi khawatir jika disimpan disembarang tempat, foto-foto dan catatan sejarah yang selama ini ia jaga akan rusak.

“Saya, sih, siap membantu. Tapi, pemda harus punya museum yang representatif dan dilengkapi dengan CCTV. Pokoknya harus standar nasional. Kalau tidak, ya, nanti dulu,” katanya.

Jika museum belum dapat dibangun, ia tak keberatan jika dokumen yang ia miliki diolah kembali menjadi file digital. Dengan cara itu, file asli akan tetap tersimpan dengan baik di rumahnya.

“Kalau diolah menjadi file digital saya oke saja,” tandasnya.

apahabar.com
Andi S Jaya saat menceritakan sejarah perang 7 Februari 1946 di Majelis Lesehan Seni dan Sastra, Kecamatan Simpang Empat. Foto-Istimewa

Reporter: Puja Mandela
Editor: Fariz Fadhillah