2 Mahasiswa Tersangka, Rektor ULM Pasang Badan, Ada Dugaan Miskomunikasi di Kepolisian Hasil Liga Champions, Tanpa Ronaldo Juventus Ditekuk Barcelona, Messi Cetak Gol, Skor Akhir 2-0 Alasan Sekolah Tatap Muka di Banjarmasin Terancam Batal Beredar Video 62 Menit Operasi Pembakaran Halte Sarinah Saat Demo Anti UU Omnibus Law, Sosok Pelaku Terekam? Video Detik-detik Buaya Raksasa Diangkat dari Sungai Kayubesi Babel, Diyakini Warga Sebagai ‘Siluman’

Ustaz Solmed: Mbah Moen Meninggal saat Hendak Salat Tahajud

- Apahabar.com Selasa, 6 Agustus 2019 - 12:12 WIB

Ustaz Solmed: Mbah Moen Meninggal saat Hendak Salat Tahajud

Mbah Moen. Foto - Istimewa. Foto-Tempo/Sindonews

apahabar.com, JAKARTA – Ustaz Solmed atau Sholeh Mahmoed Nasution menceritakan ulama kharismatik KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen, meninggal dunia saat hendak melaksanakan salat tahajut, Selasa (06/08).

Mbah Moen diketahui sedang melaksanakan ibadah haji di Mekah, Arab Saudi. “Beliau mau tahajud, selesai wudu, lalu tidak sadarkan diri,” ujar Ustaz Solmed, seperti dilansir Tempo.

Setelah tak sadarkan diri, Kiai Maimoen dibawa ke Rumah Sakit Annur, Mekah, Arab Saudi. “Setelah dibawa ke rumah sakit, beliau wafat kurang lebih jam 4.17 waktu Saudi jelang subuh,” ujar Ustaz Solmed.

Saat ini, Ustaz Solmed sedang berada di rumah sakit menunggu jenazah.

Kabar meninggalnya Mbak Moen sebelumnya juga dikonfirmasi oleh Sekretaris Jenderal PPP Arsul Sani. “Betul, saya juga diberitahu demikian dari Mekah dan dikonfirmasi Gus Yasin Wagub Jateng yang putera beliau,” ujar Arsul saat dihubungi terpisah.

Maimeon Zubair atau Mbah Moen wafat di usia 90 tahun. Dia lahir pada 28 Oktober 1928.

Riwayat Hidup Mbah Moen

Dilansir dari SINDOnews, Mbah Moen dilahirkan di Karang Mangu, Sarang, Kamis Legi Bulan Sya’ban tahun 1347 H atau 1348 H atau 28 Oktober 1928. Mbah Moen putra pertama dari Kiai Zubair Dahlan. Diriwayatkan Kiai Zubair murid pilihan dari Syaikh Sa’id Al-Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky.

Mbah Moen adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri.

Beliau membuktikan, ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya. Kesehariannya adalah aktualisasi dari semua itu.

Mbah moen memulai pendidikan langsung dari ayahnya. Sejak kecil, beliau sudah belajar banyak tentang ilmu yang biasa dikenalkan dalam pesantren seperti Nahwu, Shorof, Fiqih, Manthiq, Balaghah dan ilmu Syara lainnya.

Tidak mengherankan, pada usia yang masih muda, kira-kira 17 tahun, Beliau sudah hafal diluar kepala kiab-kitab nadzam, diantaranya Al-Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq serta Rohabiyyah fil Faroidl.

Seiring pula dengan kepiawaiannya melahap kitab-kitab fiqh madzhab Asy-Syafi’I, semisal Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab dan lain sebagainya.

Tak puas dengan berbagai bidang ilmu agama yang dikuasainya, saat menginjak usia 21 tahun, Mbah Moen menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah Al-Mukarromah. Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni KH Ahmad bin Syu’aib.

Tidak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama dibidangnya, antara lain:

– Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki
– Syekh Al-Imam Hasan Al-Masysyath
– Sayyid Amin Al-Quthbi
– Syekh Yasin bin Isa Al- Fadani
– Syekh Abdul Qodir Almandily

Kiprah beliau dalam mengembangkan dakwah dan agama berlanjut dengan berdirinya Pondok Pesantren yang berada disisi kediaman Beliau. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Sarang.

Keharuman nama dan kebesaran Beliau sudah tidak bisa dibatasi lagi dengan peta geografis. Banyak sudah ulama-ulama dan santri yang berhasil ‘jadi orang’ karena ikut di-gulo wentah dalam pesantren Beliau.

Sudah terbukti bahwa ilmu-ilmu yang Belaiu miliki tidak cuma membesarkan jiwa Beliau secara pribadi, tapi juga membesarkan setiap santri yang bersungguh-sungguh mengecap tetesan ilmu dari Beliau.

Kemudian sekitar tahun 2008 beliau kembali mengibarkan sayapnya dengan mendirikan Pondok Pesantren Al-Anwar 2 di Gondan Sarang Rembang, yang kemudian oleh beliau dipasrahkan pengasuhannya kepada putranya KH Ubab Maimun PP Al-Anwar yang berada di kampung Karangmangu Sarang Rembang Jawa Tengah didirikan oleh KH Maimoen Zubair pada tahun 1967.

Baca Juga: Santri Kabarkan Mbah Moen Wafat di Mekah

Baca Juga: Menag: Mbah Moen Sosok Guru dan Penuntun

Baca Juga: Jokowi-Amin Raup 74 Persen Suara dii TPS Mbah Moen

Editor: Aprianoor

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Sah, Boy Rafli Jabat Kepala BNPT
apahabar.com

Nasional

BNPB Gunakan “Drone” Pantau Dampak Tsunami Selat Sunda
apahabar.com

Nasional

Jakarta Kebanjiran, Update Lokasi yang Terendam, Paling Terdampak di Jaktim
apahabar.com

Nasional

Sidang Pileg, PKS Ingin Rebut Kursi Terakhir DPRD dari Gerindra
apahabar.com

Nasional

Sambut Baik Kehadiran JMSI, LSF Siap Berkolaborasi Kampanyekan Program Sensor Mandiri
apahabar.com

Nasional

Gugus Tugas Pertimbangkan Buka Tempat Ibadah untuk Salat Id
apahabar.com

Nasional

Driver Ojek Online Dapat “Orderan” Menuju Pelaminan
apahabar.com

Nasional

Jokowi Ungkap Sederet Masalah Food Estate Penyelamat Pangan RI di Kalteng dan Sumut
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com