apahabar.com
Salah satu warga Pulau Bromo Irul, harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk membeli air bersih berjeriken. Foto-apahabar.com/Bahaudin Qusari

apahabar.com, BANJARMASIN – “Tikus mati di lumbung padi” mungkin menjadi peribahasa yang tepat untuk menggambarkan derita warga Pulau Bromo, Mantuil Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pasalnya, kampung di pelosok kota Seribu Sungai itu telah menderita kekurangan air bersih.

Pasokan air bersih dari PDAM Bandarmasintidak lagi mengalir sejak 4 hari lalu. Hal itu  membuat warga Pulau Bromo mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan MCK.

Baca Juga: ACT Kalsel Syukuri Momen Iduladha Di Pulau Bromo

Seorang warga Pulau Bromo, Irul mengaku harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air bersih berjeriken. Satu buah jerikennya seharga 1 ribu rupiah. Sedangkan keperluan rumah tangganyamengharuskannya membeli 15 buah jeriken.

Itu pun, menurut Ibu rumah tangga ini, masih kurang untuk memenuhi keperluan mandi, cuci, dan aktivitas lainnya.

“Dari 15 buah jerigen (jeriken, red)  itu juga kami harus menghemat air. Ingin beli banyak, tapi kemahalan,” keluhnya.

Sulitnya mendapatkan air bersih tidak saja soal harga yang mahal, jarak dan akses jalan pun turut menambah penderitaan. Pasalnya, warga Pulau Bromo harus menyebrang sungai (keluar pulau) untuk membeli pasokan air bersih.

Pulau Bromo berjarak sekitar 8,4 kilometer dari pusat kota Banjarmasin. Selama ini warga tak punya akses jembatan. Mereka hanya mengandalkan kelotok (peruhu kecil bermesin). Dengan begitu, warga yang menginginkan air bersih, akan kembali mengeluarkan banyak biaya.

“Pusing kita, rugi apabila begini terus,” ucap ibu dari beberapa orang anak ini.

Hal senada juga diakui Ketua RT 04 Pulau Bromo, AnangJarkasi.

Dia mengungkapkan, selama 6 tahun lamanya, warga sering merasakan kekeringan pasokan air bersih. Padahal sejak saat itu, Pulau Bromo dialiri distribusi air bersih dari perusahaan milik Pemko Banjarmasin ini.

Sesekali aliran air bersih baik, kata Anang, tapi juga sering berhenti dengan waktu yang lama.

“Kebanyakan stop dibandingkan jalan,” tegasnya.

Kondisi demikian, lanjutnya, memaksa warga sekitar mengonsumsi air sungai sekeliling pulau. Tentu kualitas dan kadar airnya jauh dibandingkan milik PDAM Bandarmasih.

“Terkadang kami mandi dan mencuci baju dari air itu. Air yang kami beli cuma untuk masak dan minum,” terangnya.

Pihaknya, sambung Anang, sudah menyuarakan kondisi kekeringan air bersih kepada PDAM Bandarmasih, namun jawaban dari PDAM tak sesuai harapan. Mereka cuma menjanjikan perbaikan pipa agar distribusi air bersih kembali lancar.

“Kita terus menyampaikan, tapi sampai sekarang tidak ada hasilnya,” tegasnya lagi.

Anang berharap, harusnya warga Pulau Bromo bisa mendapatkan kualitas air yang layak seperti ribuan warga Kota Banjarmasin lainnya.

Baca Juga: Hanya Kondisi Darurat, Mobil Bisa Lewati Jembatan Pulau Bromo  

Reporter: BahaudinQusairi
Editor: Muhammad Bulkini