H2D Sidang Perdana di MK, Bawaslu RI ‘Turun Gunung’ ke Kalsel Polda Kaltim Gagalkan Peredaran Sabu 6 Kg di Samarinda dan Balikpapan Banjarmasin Resmi Perpanjang Tanggap Darurat Banjir, Kecamatan Timur Terparah! Resmi! Banjarmasin Berlakukan Pembatasan Transisi Mulai Hari Ini Dear Korban Banjir Kalsel, Posko untuk Gugat Gubernur Sahbirin Segera Dibuka!

BI Beberkan Alasan Kenapa Indonesia Masih Jadi Konsumen Keuangan Syariah

- Apahabar.com Jumat, 13 September 2019 - 09:08 WIB

BI Beberkan Alasan Kenapa Indonesia Masih Jadi Konsumen Keuangan Syariah

Dewan Gubernur Bank Indonesia, Rosmaya Hadi saat pembukaan FESyar KTI di Banjarmasin, Kamis (12/09). Foto-apahabar.com/Rizal Khalqi

apahabar.com, BANJARMASIN – Sebagai negara yang mayoritas pemeluk Islam di dunia, Indonesia dinilai masih jadi konsumen keuangan syariah. Sebaliknya, hal ini justru dimanfaakan oleh negara lain untuk mengembangkannya.

“Posisi Indonesia terkait keuangan syariah sebagai konsumen, bukan produsen. Kita sama-sama tau Indonesia adalah konsumen makanan halal terbesar,” kata Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia, Rosmaya Hadi di pembukaan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia 2019, Mercure Hotel, Banjarmasin, Kamis (12/09) malam.

Ya, tingginya permintaan dalam negeri akan makanan halal dan busana muslim jadi alasan Indonesia saat ini, hanya sebagai konsumen keuangan syariah terbesar di dunia.

Lalu siapa kah yang mengambil peran dominan dalam keuangan syariah? Dihadapan 19 Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kawasan Timur dan pejabat daerah Provinsi Kalsel, Rosmaya Hadi menyebut negara Thailand.

Negara tersebut memiliki visi sebagai negara pemasok makanan halal dunia. Lalu, China jadi negara produksi terbesar pakaian muslim.

Sedangkan untuk daging sapi halal, Indonesia jadi konsumen pasar Australia dan Brazil. “Dan juga Inggris menjadi negara nomer satu keuangan syariah,” sambung Rosmaya.

Dengan besarnya populasi masyarakat muslim di Indonesia, Rosmaya mengajak masyarakat Indonesia tidak hanya sebagai konsumen, akan tetapi sebagi produsen.

Indonesia pun masih punya peluang yang sangat besar untuk mengetakan ekonomi syariah. Strateginya adalah, dengan menjadikan penduduk mayoritas muslim Indonesia sebagai sumber penggerak.

BI pun mencetuskan mencetuskan program Ekonomi Syariah (Eksyar). Ada tiga kebijakan yang di buat BI dalam Eksyar.

Pertama, dengan mengembangkan ekonomi syariah dengan membesarkan ekosistem halal value chain pada industri halal nasional.

Kedua, BI kini telah melakukan pendalaman keuangan syariah. Dan yang ketiga BI, telah mengkampanyekan halal lifestyle yang membuka halal value.

Baca Juga: Tingkatkan Ekonomi Kalsel, Bank Indonesia Puji Paman Birin

Baca Juga: Di Depan Ratusan Pimpinan Ponpes Kalsel, Deputi Gubernur BI Bicara Ekonomi dan Keuangan Syariah

Baca Juga: Bekraf Ajak Kembangkan Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah di Banjarmasin

Reporter: Rizal Khalqi
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Editor: Amrullah - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Sri Mulyani: Bank Pembangunan Islam Siap Beri Dana Darurat Covid-19
apahabar.com

Ekbis

Aktivitas Pesawat Kaltara Naik, Jumlah Penumpang Malah Turun
apahabar.com

Ekbis

Resmi Beroperasi, Kedatangan Jokowi Masih Tanda Tanya
apahabar.com

Ekbis

Rupiah Babak Belur, Dolar AS Melesat ke Rp 14.500
apahabar.com

Ekbis

Mengintip Kiat Sukses Habib Hamid, Petani Jamur Tiram asal Martapura
apahabar.com

Ekbis

Mobil Wapres Isi Bensin Pakai Jeriken, Simak Klarifikasi Pertamina
apahabar.com

Ekbis

Bandara Internasional Syamsuddin Noor Pacu TPK Hotel di Banjarmasin
apahabar.com

Ekbis

RAFI 2020: Trafik Melonjak, Telkomsel Pamasuka Siagakan 52.100 BTS
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com