apahabar.com
Mantan pemain Barito Putera era 90an, Yusuf Luluporo. Foto-apahabar.com/fathurrahman

apahabar.com, BANJARMASIN – Melihat prestasi di Shopee Liga 1 2019 sekarang, membuat sejumlah mantan pemain Barito Putera era 90-an sedih. Padahal dari segi finansial dan fasilitas semua kebutuhan menurut mereka sudah terpenuhi.

Apa yang terjadi di Barito sekarang, tentu bukan keinginan fans dan manajemen, serta mantan pemain Barito. Pasalnya, hingga putaran pertama berakhir, dari 17 laga Barito di peringkat 15 dengan 15 poin.

Catatan delapan kekalahan, enam kali imbang dan baru tiga kali menang, bukan menggambarkan skuat yang direkrut manajemen dengan biaya banyak.

Sejak awal dimulai kompetesi, Barito sudah diragukan bisa meraih target yang diidamkan, juara Liga 1. Itu tergambar dari laga pra musim, Piala Presiden dan Piala Indonesia.

Hasil buruk dua laga itu langsung terasa di awal kompetisi. Dan akhirnya kekalahan dari Kalteng Putra, membuat Jacksen F Tiago memutuskan mundur.

Sialnya ketika Jacksen keluar dan melatih Persipura justru lebih baik. Bertemu Barito di Stadion Demang Lehman, Martapura, Jacksen sukses membawa Persipura menang telak 4-0!

Lantas, dari sisi fasilitas. Bus mewah, mess pemain lengkap dengan menu sesuai kebutuhan atlet, dan fasilitas lain ketika pemain cedera langsung ditangani secara medis. Secara profesional, itu sudah dipenuhi manajemen. Kalau gaji sudah tentu lebih baik di banding era 90-an lalu.

“Menurut saya sebenarnya bukan harus gonta-ganti pelatih, tapi masalahnya sepertinya ada di internal tim, terutama pemain,” ujar Yusuf Luluporo, eks pemain Laskar Antasari era 90-an.

“Saya bersama para pemain Barito lainnya, ada Frans, Isnan Ali, Meidiansyah, Husayn Mugni melihat permainan melawan Persipura itu sedih. Lawan begitu leluasa memainkan bola di area pertahanan,” ungkap Yusup menambahkan.

Menurunya pemain seperti kurang rasa memiliki Barito. Padahalnya lanjut Yusuf, ketika pemain itu telah menerima hak berarti harus memberikan kewajibannya. “Kewajibannya mengeluarkan semua kemampuan. Saya lihat semboyan Kalsel Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing itu tidak ada,” ungkap pemain kelahiran Jayapura 30 Juli 1973 ini menilai.

Ia mencontohkan seperti melawan Persipura itu. Menurutnya mau berapa pun skor mestinya pemain harus tetap menunjukkan semangat bertanding.

“Tunjukkan dulu kita bermain bagus dan penuh semangat. Jadi bukan kalah begitu saja, mau kalah 10 gol pun ibaratnya, tapi asalkan kalah dengan terhormat. Jadi suporter bisa menilai, wah kata suporter, tidak apa-apa kalah tapi Barito main penuh semangat. Mereka (suporter) justru bangga jadinya begitu pula bos,” terang Yusup yang turut membawa Barito ke semifinal Ligina 1 1994/95.

Mantan pelatih Carsurin FC ini berharap pemain jangan takut. Karena semua pemain lawan , juga memiliki kekukarangan dan kelebihan. “Kita ini kan sama-sama makan nasi juga. Lawan juga makan nasi. Beda jika lawan makan besi atau baja,” sahutnya.

Sekarang di putaran kedua, ia berharap pemain dapat menunjukkan keinginan kuatnya untuk panji Barito.
“Namanya ikut orang, digaji, menerima fasilitas, harus mau dong kerja. Kamu saja di perusahaan swasta, bos pasti menilai, kerja benar atau tidak. Sudah dapat gaji, tapi kerja tidak becus,” timpal Yusuf membandingkan.

Senada dengan legenda Barito lainnya, Rudian ‘Ulin’ Sirait. Pemain yang juga turut mengantarkan Barito ke semifinal Liga Indonesia 1994/95 berharap pemain bisa bangkit.

“Abang itu tidak mau banyak komentar. Abang hanya ingin menyampaikan mumpung dipakai orang, tunjukkan kemampuan kita, itu saja,” ujarnya.

Sebab menurut pemain asal Medan ini, semua fasilitas jauh berbeda dengan waktu zamannya dulu. Sikap profesional ini menurutnya wajib ditanamkan kepada siapa saja, terlebih kepada pemain Barito sekarang.

“Karena kita tidak tahu seperti apa kedepannya nanti. Jika bermain bagus pasti akan terus dipakai orang, itu sudah rumus,” pungkasnya.

Barito sendiri saat ini terus bersiap diri menghadapi putara kedua Liga 1. Sejak kursi pelatih beralih kepada Djadjang Nurjaman, Barito sukses meraih kemenangan perdana di kandang lawan.

Kini Djanur, begitu pelatih asal Bandung itu disapa, mendatangkan tiga pemain asing sesuai pilihannya. Mulai dari Kosuke Yamazaki Uchida, hingga dua pemain asing Brasil Francisco Wagsley Torres dan Cassio de Jesus.

Selanjutnya di laga perdana putaran kedua nanti, Barito akan menantang tuan rumah Madura United, Sabtu 14 September 2019. Seperti diketahui di pertemuan pertama di Stadion 17 Mei Banjarmasin, Barito menyerah 0-1 lewat gol Andik Vermansyah.

apahabar.com
Skuat Barito Putera kini menyiapkan diri di Bandung sebelum menghadapi laga perdana putaran kedua Shopee Liga 1 2019 melawan Madura United, Sabtu (14/09). Foto-Instagram.

Baca Juga: Barito U-18 Tekuk Persela U-18 Lagi, Ilham Romadhona Jadikan Bekal Hadapi Persib U-18

Baca Juga: Gol Tunggal Pemain Kintap Bawa Barito U18 Kokoh di Puncak Klasemen Grup B

Baca Juga: Bertahan di Liga 1, Barito Mesti Raih 40 Poin

Editor: Ahmad Zainal Muttaqin