Breaking News! Warga Tangkap Buaya Pemangsa di Pantai Kotabaru Siap-Siap, Ditlantas Polda Kalsel Bakal Uji Coba Tilang Elektronik Usai Banjir Siapkan Hunian Layak, Polda Kalteng Bangun Rusun Bagi Anggota BPPTKG: Volume Kubah Lava Merapi Masih Tergolong Kecil Sedikit Surut, Puluhan Rumah di Martapura Masih Terendam Banjir

Faktor Alam dan Tingginya Operasional Rumah Sakit Menjadi Pemicu Inflasi di Kalsel

- Apahabar.com Selasa, 3 September 2019 - 17:34 WIB

Faktor Alam dan Tingginya Operasional Rumah Sakit Menjadi Pemicu Inflasi di Kalsel

Ilustrasi RSUD Ulin Banjarmasin.Foto-Wikipedia

apahabar.com, BANJARMASIN – Kalimantan Selatan mengalami inflasi sebesar 0,03 persen per Agustus 2019. Jika dibandingkan secara year on year Agustus 2018 lalu, maka nilai inflasi masih relatif sama.

Komoditas yang dominan sebagai pendorong inflasi, seperti rokok kretek, tarif rumah sakit, cabai rawit dan cabai merah.

Ekonom Kalsel, Mohammad Zainul menilai, tingginya permintaan berbanding terbalik dengan suplai barang menjadi pemicu inflasi di Banua-sebutan Kalsel.

Faktor alam disebut sebagai penyebab rendahnya suplai akan komoditas tersebut. Khususnya rokok dan cabai.

“Karena Indonesia sekarang sedang dilanda musim kemarau panjang. Sehingga mengakibatkan tanaman tembakau dan cabai ikut terganggu,” ucap Dosen Uniska ini kepada apahabar.com, Selasa (03/09) sore.

Oleh sebab itu, produksi kedua jenis komoditas ini juga mengalami penurunan yang signifikan.

Ditambah, tingginya gelombang laut. Mengakibatkan suplai rokok dan cabai dari pulau Jawa menuju Kalsel ikut terganggu.

“Alhasil, memiliki implikasi terhadap peningkatan harga rokok kretek dan cabai di Kalsel,” bebernya.

Di sisi lain, pemicu inflasi Kalsel juga disebabkan tarif rumah sakit yang terus mengalami kenaikan.

Hal ini, dilatarbelakangi biaya operasional rumah sakit yang terus meningkat.

Ia mencatat, terdapat beberapa komponen pemicu kenaikan biaya operasional rumah sakit.

Pertama, tingginya harga obat. Kedua, biaya investasi pengadaan sarana kesehatan berteknologi tinggi relatif cukup besar.

Ketiga, permintaan akan layanan kesehatan dari masyarakat tinggi. Sehingga, akan berkontribusi dalam hal peningkatan biaya operasional rumah sakit.

“Sangatlah wajar, apabila komoditas tersebut menjadi pemicu utama kenaikan inflasi di rumah sakit,” pungkasnya.

Baca Juga: Hadir di Banjarmasin, The Palace National Jeweler Tawarkan Perhiasan Terlengkap

Baca Juga: Ketegangan Dagang AS-China, Rupiah Ikut Melemah

Reporter: Muhammad Robby
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Editor: aji - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Koperasi Bisa Lepaskan Petani Dari Jerat Tengkulak
apahabar.com

Ekbis

Harga Emas Kembali Jatuh, Simak Penyebabnya
apahabar.com

Ekbis

Harga Emas Antam Naik Tipis Jadi Rp1.024.000/Gram
apahabar.com

Ekbis

Kegiatan Ekonomi Meningkat, IHSG Diprediksi Menguat
apahabar.com

Ekbis

Imbas Covid-19, Okupansi Hotel Berbintang di Banjarmasin Turun 90 Persen
apahabar.com

Ekbis

Perhatian, Sriwijaya Air Kini Sediakan Fasilitas Rapid Test
apahabar.com

Ekbis

Biaya Kirim Barang Naik, UMKM Terancam ‘Mati Suri’
apahabar.com

Ekbis

Efek Virus Corona, Bank Dunia Tolak Beri Pinjaman ke China
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com