apahabar.com
Ilustrasi Radio Republik Indonesia. Foto-Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Memperingati 74 Tahun Hari Radio Nasional, Radio Republik Indonesia (RRI) dituntut hadir di tengah masyarakat. Khususnya, merasakan denyut nadi masyarakat kelas bawah.

“RRI harus hadir di tengah masyarakat. Merasakan denyut nadi masyarakat di kalangan bawah,” ucap Kepala Stasiun RRI Banjarmasin, Suyono Wasis kepada awak media, Rabu (11/9) siang.

Menurutnya, RRI mesti menyerap aspirasi masyarakat. Dengan menyediakan konten yang diperlukan warga Banua-sebutan Kalsel.

apahabar.com
Peringatan 74 Tahun Hari Radio Nasional oleh Stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) Banjarmasin, Rabu siang. apahabar.com/Robby

“Sehingga, tak melulu berada di dalam ruangan. RRI terus introspeksi diri. Sehingga, menemukan kebutuhan dan keinginan masyarakat,” bebernya.

RRI harus menginpirasi masyarakat. Terlebih merespon isu suku, agama, dan ras yang belakangan ini terjadi di tanah Papua.

“Di sini RRI harus menjadi pendingin. Termasuk media lain,” katanya.

Mengenai perkembangan teknologi yang kian pesat, RRI semakin tertantang menjawab kemajuan zaman. Pastinya, dengan me-refresh program yang telah ada.

“RRI tak bisa berdiam diri. Harus melakukan lompatan kekinian. Tak harus memberikan kesan radio merupakan teknologi yang jadul,” tegasnya.

“Kita juga masuk ke lini media sosial. Bahkan, aplikasi RRI bisa di-download di Play store. Itu salah satu cara RRI menjawab teknologi,” pungkasnya.

Baca Juga: 30 Menit Bersama Hj Zakiyah, ‘Legenda’ Penyiar RRI Banjarmasin

Reporter: Muhammad Robby
Editor: Fariz Fadhillah