Meletus! Gunung Semeru Luncurkan Awan Panas Sejauh 4,5 Kilometer Edan! 2 Pria Pembawa Sabu 11 Kg Tertangkap di Duta Mall Licin, Bos Travelindo Terduga Penipu Jemaah DPO Sejak Tahun Lalu 7 Lagi Korban Sriwijaya Air SJ-182 Teridentifikasi Banjir di HSU Mulai Meluas, Polres Tingkatkan Patroli

Ilusi Kehancuran Meratus, Hutan Terakhir dan Paru-Paru Dunia yang Tersisa

- Apahabar.com Senin, 30 September 2019 - 21:42 WIB

Ilusi Kehancuran Meratus, Hutan Terakhir dan Paru-Paru Dunia yang Tersisa

Warga kaki Gunung Meratus, Desa Muara Hungi, Kecamatan Batang Alai Timur, HST membawa hasil kebun. Foto-apahabar.com/HN Lazuardi

Bila pohon terakhir ditebang, tetes air tercemar, dan ikan terakhir ditangkap, barulah manusia sadar bahwa uang tak bisa dimakan.

HN Lazuardi, BARABAI

BEGITU kiranya petuah yang pas untuk menggambarkan jika masyarakat kehilangan Meratus, sebuah pegunungan kaya akan keanenakaragaman hayati tinggi di tenggara Pulau Kalimantan.

Meratus membentang dari Kabupaten Tabalong sampai Kotabaru, dan membelah wilayah Kalimantan Selatan atau Kalsel menjadi dua.

apahabar.com

Seorang mahasiswa menanam sebuah pohon di kaki Pegunungan Meratus Dusun Tamburasak, Desa Kundan Kecamatan Hantakan, HST.

Meminjam data Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN) Kalsel, terdapat 171 komunitas dayak dengan bermacam kearifan lokal menyertainya.

Contoh terdekatnya adalah Manugal, Aruh Adat, Batandik dan Babangsai. Jika Pegunungan Meratus tiada, hancurlah semua kearifan lokal masyarakat tadi.

Bahkan, dampaknya tak sampai di situ. Bencana besar pun mengancam masa depan Kalimantan Selatan khususnya Bumi Murakata, sebutan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

Minggu malam kemarin, enam tokoh sedang memerankan adegan tarian seni pertunjukan kontemporer yang mengangkat isu Save Meratus. Berjudul ‘Rag Rag Ruy’, penonton diajak masuk ke dalam ilusi kehancuran Meratus.

Lantunan musik hasil kolaborasi alat musik tradisional dan modern berhasil menggiring penonton masuk ke dalam bayang-bayang kehancuran hutan terakhir, Meratus.

apahabar.com

Seorang mahasiswa menanam sebuah pohon di kaki Pegunungan Meratus Dusun Tamburasak, Desa Kundan Kecamatan Hantakan, HST.

Mulailah dari tiga wanita berparas cantik dari kaki Gunung Meratus sedang berlakon sebagai pepohonan yang terbentang hijau di Meratus. Sementara tiga laki-laki serakah berlakon sebagai penebang pepohonan.

Ketiga lelaki itu kemudian menebang pepohonan. Akibatnya, satwa langka seperti burung Enggang dan orang utan kehilangan tempat tinggal bahkan punah.

Tak luput masyarakat yang mendiami pegunungan Meratus pun kehilangan tanahnya akibat bencana alam. Ya, hutan Meratus telah digunduli dan telah beralih fungsi.

Dampaknya tak cuma dirasakan warga Meratus. Kalimantan Selatan, khususnya Bumi Murakata, sebutan Hulu Sungai Tengah (HST), ikut terkena bencana alam yang mengerikan.

“Meratus adalah paru-paru dunia yang tersisa, kini masih dipertahankan keberadaannya di Kalsel khususnya di HST,” ujar Pendiri Sanggar Kumbang Banaung HST, Rama membuka percakapan usai melakukan pertunjukkan seni tari itu.

“Di dalamnya terdapat kekayaan budaya adat leluhur sekaligus penyeimbang kehidupan sebagai alam hutan tropis yang tersisa. Sepatutnya kita jaga bersama sehingga kekayaan warisan leluhur ini tidak hilang,” sambung Rama.

Ilusi kehancuran Meratus tadi disuguhkan oleh sekelompok seniman HST di panggung terbuka Bachtiar Sanderta Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan pada Gelar Pesona Budaya Banjar, yang dikemas oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan UPTD Taman Budaya Provinsi Kalsel, Minggu (29/09).

“Melalui pertunjukkan seni ini, kami menggambarkan kearifan lokal, adat budaya dan alam kehidupan yang ada di Meratus Hulu Sungai Tengah yang harus selalu dijaga,” kata Rama Darussalam yang merupakan ide lelakon pertunjukan seni itu.

Ketua Dewan Kesenian Kabupaten (DKK) HST, M Yani mengapresiasi kepada para senimannya yang telah menyajikan pertunjukan apik membawa isu penyelamatan Meratus dalam garapannya.

“Terima kasih untuk pertunjukkan kolaborasi para maestro seni, Rama Haur Kuning, Ansari Tari, Zulfi Ading Bastari, Dalang Ririt, Sastrawan Rezqie Atmanagera, Ajai, Rian, Anggi dkk yang tampil memukau membawa isu penyelamatan Meratus,” jelas pria yang juga menjabat Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLH) HST.

Menurutnya, ini sebuah bukti bahwa seluruh eleman masyarakat HST saat ini berusaha bersama-sama menyuarakan Save Meratus dan menolak segala bentuk eksploitasi pegunungan Meratus.

Saat ini ada dua ancaman yang mengintai Meratus. Pertama rencana pemindahan ibu kota. Dan kedua, izin PT Mantimin Coal Mining (PT MCM) di Kabupaten Balangan, Tabalong dan HST, tepatnya di Kecamatan Batang Alai Timur, benteng terakhir Meratus.

SK ditandatangani atas nama Menteri ESDM, Dirjen mineral dan Batu Bara, Bambang Gatot Ariyono, tertanggal 4 Desember 2017 lalu itu, sudah ditembuskan ke Bupati HST, Bupati Tabalong dan Bupati Balangan serta Direksi PT MCM.

Setidaknya usaha menganulir keputusan Menteri ESDM atas SK terkait penyesuaian Tahap Kegiatan PKP2B PT MCM menjadi Operasi Produksi sudah berjalan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) oleh Walhi setempat.

Namun, dua kali sudah gugatan mereka ditolak oleh pihak pengadilan. Kini Walhi sedang berupaya mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung melalui PTUN Jakarta.

Belum lagi usaha ligitasi berjalan, masyarakat Adat Dayak Meratus mulai waswas sekaligus cemas. Presiden Jokowi berencana memindahkan ibu kota ke Kaltim, provinsi yang berbatasan langsung dengan Kalsel.

Mereka khawatir eksistensi mereka tergerus sebagai efek pemindahan ibu kota RI ke Kalimantan.

Hasil kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), sebanyak 1,5 juta warga akan pindah ke ibu kota yang baru.

“Kita ingin pemerintah mengakui hak-hak masyarakat adat khusus di pegunungan Meratus [sebelum memindahkan ibu kota ke Kaltim]. Dayak Meratus telah tersebar di pegunungan,” ucap Ketua Aman HST, Rubi, beberapa waktu lalu.

Lantas bagaimana jika Meratus dieksploitasi? Apa yang terjadi dengan budaya dan alam kehijauan yang ada di hunjurannya nanti?

apahabar.com

Para aktor seni pertunjukan kontemporer yang mengangkat kearifan budaya masyarakat, isu Save Meratus berjudul ‘Rag Rag Ruy’ dari Sanggar Kumbang Banaung HST.

Baca Juga: Keluh Kesah Dayak Meratus di Hari Masyarakat Adat Nasional 2019

Baca Juga: Save Meratus, Pemkab HST Tagih Jawaban Menteri Jonan

Baca Juga: Demo DPRD Kalsel: Supian HK Siap Mundur Jika Meratus Ditambang

Baca Juga: VIDEO: Walhi Bantah Aksi Save Meratus Ditunggangi Kepentingan Politik

Baca Juga: VIDEO: Bernuansa Politis, Mahasiswa Walk Out dari Aksi Save Meratus

Baca Juga: FOTO: Ratusan Peserta Aksi Save Meratus Tumpah Ruah di Barabai

Editor: Fariz Fadhillah

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Semaraknya Malam Takbiran di Kotabaru
Vaksin

Kalsel

Seusai Lakukan Pengawalan, Siap-siap Aparat Keamanan di Kalsel Disuntik Vaksin Covid-19

Kalsel

Hari ini, Kasus Covid-19 Kotabaru Tetap di Angka 516
apahabar.com

Kalsel

Serahkan 200 APD ke Tapin, BPBD Kalsel: Alat Pelindung Sulit Dicari
apahabar.com

Kalsel

Sambangi Bawaslu, Cagub Kalsel Denny Beber Modus Dugaan Money Politics
apahabar.com

Kalsel

Bawaslu HSS Rekrut 844 Petugas Pengawas TPS
PLN

Kalsel

Lapor Gangguan Listrik Tanpa Pulsa, ke Aplikasi New PLN Mobile Aja
apahabar.com

Kalsel

Persiapan Pelantikan Anggota Baru DPRD Kalsel Mencapai 90 Persen
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com