Demonstrasi di DPRD Kalteng, Massa Protes Penertiban Tambang Emas Tradisional Tanpa Solusi Dugaan Penggelapan Mobil Rental, IRT Tabalong Terpaksa Diamankan Polisi Cuaca Kalsel Hari Ini: Seluruh Wilayah Berpotensi Hujan Ringan Teten Masduki Sebut Pengembangan Produk Kriya Perlu Libatkan Agregator IPW Desak Kapolda Kalsel Copot AKBP AB Dkk
agustus

Ketegangan Dagang AS-China, Rupiah Ikut Melemah

- Apahabar.com     Selasa, 3 September 2019 - 11:33 WITA

Ketegangan Dagang AS-China, Rupiah Ikut Melemah

Ilustrasi Rupiah Dollar.  Foto–Antara/Wahyu Putro A

apahabar.com, JAKARTA – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa (03/09), melemah seiring masih besarnya sentimen ketegangan dagang Amerika Serikat dan China.

“Mata uang negara berkembang cenderung melemah seiring masih besarnya sentimen hindar aset berisiko dibalik memburuknya ketegangan dagang AS-China pasca kedua negara tersebut menaikkan tarif impor,” kata Kepala Riset Monex Investindo Future Ariston Tjendra di Jakarta, seperti dilansir Antara, Selasa (03/09).

Terpantau, rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa pagi bergerak melemah sebesar 24 poin atau 0,17 persen menjadi Rp14.218 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp14.194 per dolar AS.

Ariston mengemukakan, ketegangan perang dagang kembali memanas setelah AS menaikkan barang-barang dari China sebesar 15 persen dan China juga membalas dengan menaikkan tarif minyak mentah AS.

Selain itu, lanjut dia, penguatan dolar AS juga ditopang oleh meningkatnya tekanan jual pada mata uang euro yang disebabkan tingginya ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan melakukan pelonggaran moneter serta ketidakpastian kepergian Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

Selanjutnya, ia mengatakan, pasar akan menantikan perilisan data-data ekonomi AS mulai dari data Manufaktur hingga data penggajian non pertanian (non farm payrolls/NFP) versi ADP (Automatic Data Processing).

“Jika data ekonomi AS mengalami perbaikan maka dolar AS akan mempertahankan penguatannya dalam beberapa hari kedepannya,” katanya.

Sementara sentimen dari dalam negeri, menurut Ariston, relatif kondusif setelah data inflasi Agustus yang relatif terjaga.

“Data inflasi Agustus yang terjaga menahan tekanan rupiah lebih dalam,” katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Agustus 2019 terjadi inflasi sebesar 0,12 persen. Dengan demikian, laju inflasi tahun kalender Januari-Agustus 2019 tercatat sebesar 2,48 persen dan inflasi tahun ke tahun (yoy) sebesar 3,49 persen.

Baca Juga: Korban Perang Dagang AS-China, Harga Minyak di Asia Turun 

Sumber: Antara
Editor: Aprianoor

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Tak Berkategori

Kecelakaan di Anjir Pasar Batola, Honda Brio Warga Kapuas Remuk Hantam Dump Truck
apahabar.com

Tak Berkategori

Menu MPASI Harus Mengandung 4 Nutrisi Penting Ini
apahabar.com

Tak Berkategori

Cara Kenali Penyakit Hepatitis B
Kerajaan Banjar

Tak Berkategori

Unik, Model asal Tapin Koleksi Benda Pusaka Kerajaan Banjar
apahabar.com

Tak Berkategori

Waspada Potensi Angin Kencang dan Hujan Berpetir di Kalsel
Banjarmasin

Tak Berkategori

Pembunuhan Veteran Banjarmasin, Rizki Dihabisi karena Hal Sepele
IHSG

Tak Berkategori

IHSG Cuan dalam Sepekan, Asing Obral Saham Rp 223 M
apahabar.com

Tak Berkategori

MTQ Tanah Laut Ditutup, Kecamatan Pelaihari Juara Umum
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com