Gugatan 2BHD Diterima MK, SJA-Arul Pede Menangi Pilbup Kotabaru Alhamdulillah, 21 Warga Tanbu Sembuh dari Covid-19 Gunakan Pakaian Adat, Mitra Pariwisata Kapuas Galang Dana untuk Banjir Kalsel Terparah dalam Sejarah, Jokowi Blakblakan Biang Kerok Banjir Kalsel Wali Kota Beber Biang Kerok Banjir Banjarmasin, Bukan karena Hujan

Ketegangan Dagang AS-China, Rupiah Ikut Melemah

- Apahabar.com Selasa, 3 September 2019 - 11:33 WIB

Ketegangan Dagang AS-China, Rupiah Ikut Melemah

Ilustrasi Rupiah Dollar.  Foto–Antara/Wahyu Putro A

apahabar.com, JAKARTA – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa (03/09), melemah seiring masih besarnya sentimen ketegangan dagang Amerika Serikat dan China.

“Mata uang negara berkembang cenderung melemah seiring masih besarnya sentimen hindar aset berisiko dibalik memburuknya ketegangan dagang AS-China pasca kedua negara tersebut menaikkan tarif impor,” kata Kepala Riset Monex Investindo Future Ariston Tjendra di Jakarta, seperti dilansir Antara, Selasa (03/09).

Terpantau, rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa pagi bergerak melemah sebesar 24 poin atau 0,17 persen menjadi Rp14.218 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp14.194 per dolar AS.

Ariston mengemukakan, ketegangan perang dagang kembali memanas setelah AS menaikkan barang-barang dari China sebesar 15 persen dan China juga membalas dengan menaikkan tarif minyak mentah AS.

Selain itu, lanjut dia, penguatan dolar AS juga ditopang oleh meningkatnya tekanan jual pada mata uang euro yang disebabkan tingginya ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan melakukan pelonggaran moneter serta ketidakpastian kepergian Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

Selanjutnya, ia mengatakan, pasar akan menantikan perilisan data-data ekonomi AS mulai dari data Manufaktur hingga data penggajian non pertanian (non farm payrolls/NFP) versi ADP (Automatic Data Processing).

“Jika data ekonomi AS mengalami perbaikan maka dolar AS akan mempertahankan penguatannya dalam beberapa hari kedepannya,” katanya.

Sementara sentimen dari dalam negeri, menurut Ariston, relatif kondusif setelah data inflasi Agustus yang relatif terjaga.

“Data inflasi Agustus yang terjaga menahan tekanan rupiah lebih dalam,” katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Agustus 2019 terjadi inflasi sebesar 0,12 persen. Dengan demikian, laju inflasi tahun kalender Januari-Agustus 2019 tercatat sebesar 2,48 persen dan inflasi tahun ke tahun (yoy) sebesar 3,49 persen.

Baca Juga: Korban Perang Dagang AS-China, Harga Minyak di Asia Turun 

Sumber: Antara
Editor: Aprianoor

Editor: Kiki - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Hipmi Dukung Hidup New Normal, Erick Thohir Siapkan Skenario
WO Nineteen Banjarbaru

Banjarbaru

Kisah Bisnis WO Nineteen Banjarbaru, Beranjak dari Keresahan Hingga Raih Cuan
apahabar.com

Ekbis

Pembeli Rela Datang Pukul 5 Pagi untuk iPhone XR
apahabar.com

Ekbis

Ribuan Agen dan Pangkalan LPG Tetap Beroperasi Saat Libur Lebaran
apahabar.com

Ekbis

Wacana Subsidi LPG 3 Kg Dicabut, Nadjmi: Harus Ada Pola Pengganti
Jika Terjadi Resesi Global, Apa Solusinya?

Ekbis

Jika Terjadi Resesi Global, Apa Solusinya?
apahabar.com

Ekbis

Apple Kehilangan Rp814 Triliun dalam Sehari
apahabar.com

Ekbis

Inilah Daftar Smartphone Samsung yang Mendapatkan Android 9 Pie
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com