ga('send', 'pageview');
Sebelum Wafat, Kondisi Wali Kota Banjarbaru Naik Turun Geger Mayat Mengapung di Laut Tanbu, Polisi Sulit Identifikasi Jelang Magrib, Api Gegerkan Blok Ikan Pasar Kandangan Peringatan 100 Hari Guru Zuhdi: Makam Ditutup, Streaming Jadi Andalan Covid-19 di Bappeda Kalsel: Puluhan Positif, Satu Meninggal Dunia




Home Nasional

Sabtu, 21 September 2019 - 15:56 WIB

KLHK: Karhutla Berkaitan dengan Buka Lahan Perkebunan

Redaksi - apahabar.com

Suasana sisa-sisa lahan hutan Taman Nasional Sebangau yang telah terbakar di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (19/9/2019). Terbakarnya area Taman Nasional Sebangau diduga akibat api yang menjalar dari kebakaran lahan warga. Foto – Antara/Hafidz Mubarak A

Suasana sisa-sisa lahan hutan Taman Nasional Sebangau yang telah terbakar di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (19/9/2019). Terbakarnya area Taman Nasional Sebangau diduga akibat api yang menjalar dari kebakaran lahan warga. Foto – Antara/Hafidz Mubarak A

apahabar.com, JAKARTA – Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rasio Ridho Sani mengatakan ada tiga faktor yang menyebabkan kebakaran hutan salah satunya pembukaan lahan untuk perkebunan.

“Api muncul kan tidak mungkin terjadi begitu saja tanpa ada manusia yang membawa api itu,” katanya di Jakarta, Sabtu (21/09).

Dia mengatakan kebakaran hutan sering kali berkaitan dengan aktivitas perkebunan, korporasi dan masyarakat sering membuka lahan dengan cara membakar hutan karena hal tersebut adalah cara paling gampang dan murah. Oleh sebab itu cara pandang berpikir korporasi dan masyarakat harus diubah dan memberikan penegakan hukum kepada siapa saja yang melakukan pembakaran.

Baca juga :  Jokowi: Indonesia Kembangkan Sendiri Vaksin Merah Putih

Kebakaran lahan juga terjadi karena ada ekosistem gambut yang rusak yang juga disebabkan oleh aktivitas manusia. “Ekosistem gambut rusak karena ada perkebunan baik dari masyarakat mau pun korporasi. Mereka biasanya mengubah gambut dari basah menjadi kering agar bisa ditanam,” kata dia.

Sejak 2015 KLHK telah menerapkan sanksi baik adminsitratif mau pun pidana kepada korporasi yang melanggar aturan tersebut. Pihaknya juga telah bekerja sama dengan aparat penegak hukum seperti polisi dan pengadilan tinggi negeri untuk menindak pelaku pembakaran hutan.

Beberapa kasus yang telah memberikan efek jera kepada pelaku, namun beberapa pelaku yang telah diberikan sanksi pada 2015 masih berani melakukan pembakaran hutan saat ini. Salah satu faktor tidak adanya efek jera kepada pelaku karena hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku terbilang ringan, menurut Rasio hal itu karena pengadilan tinggi negeri belum mempunyai pengalaman dalam menangani kasus tersebut.

Baca juga :  Gunakan Data BPJS Ketenagakerjaan untuk Subsidi Gaji, Simak Alasan Menaker

Dia mengatakan pada 2015 sebanyak 65 perusahaan telah ditetapkan bersalah, di mana hanya tiga perusahaan yang dicabut izinnya, sementara sisanya diberikan sanksi administratif.

Baca Juga: Kualitas Udara Banjarmasin Relatif Aman dari Asap Kiriman Karthula

Baca Juga: Viral!!! Ular Piton Raksasa Langka Jadi Korban Kebakaran Hutan Kalimantan

Sumber: Antara
Editor: Aprianoor

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Menteri Pertanian: Stok Pangan Nasional Aman
apahabar.com

Nasional

Eksploitasi Seksual dan Perdagangan Anak Marak di Media Sosial, Menteri PPPA Geram
apahabar.com

Nasional

Peneliti Apresiasi Langkah Cepat Jokowi Evakuasi WNI dari Wuhan
apahabar.com

Nasional

867 Pasien Covid-19 di Surabaya Sembuh, 644 Masih Dirawat
apahabar.com

Nasional

Diburu Polisi, Ini Sosok Ali Kalora yang Mutilasi Warga
apahabar.com

Nasional

Update Korban Tsunami Selat Sunda: 168 Orang Meninggal, 745 Terluka
apahabar.com

Nasional

Ketum JMSI Soroti Praktik Jurnalisme yang Gunakan Combative Lens
apahabar.com

Nasional

Jokowi Targetkan Kurva Covid-19 Bulan Ini Harus Turun
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com