Kebakaran Gang Nuri, Asrama Anak Yatim Ikut Ludes Terbakar BREAKING! Api Kembali Berkobar di Gang Nuri Banjarmasin Fakta Sejarah Jembatan Barito: Sempat Ingin Diberi Nama Soeharto hingga Terpanjang di Asia Tenggara Menang Dua Game, Ganda Putra Indonesia Marcus/Kevin Gilas Pasangan Inggris Raya JANGAN PANIK! Banjarbaru Resmi Terapkan PPKM Level IV 26 Juli

‘Mappanre Kampoeng’, Cara Masyarakat Pulau Burung Melestarikan Budaya Leluhur

- Apahabar.com     Senin, 16 September 2019 - 18:10 WITA

‘Mappanre Kampoeng’, Cara Masyarakat Pulau Burung Melestarikan Budaya Leluhur

Masyarakat Desa Pulau Burung melakukan ritual adat Mappanre Kampoeng, Senin (16/09). Foto-apahabar.com/Puja Mandela

apahabar.com, BATULICIN – Suara gong terus berbunyi. Masyarakat Pulau Burung berjalan menuju sebuah pohon tua setinggi 70 meter. Butuh 20 orang dewasa untuk mengitari pohon raksasa itu.

Dari dermaga Desa Pulau Burung, Kecamatan Batulicin, pohon raksasa itu berjarak kurang lebih satu kilometer. Ada berbagai mitos yang menyelimuti pohon beringin yang di sisinya terdapat makam Datuk Syarifah dan Datuk Prema. Keduanya merupakan tokoh yang dianggap paling berjasa membangun Pulau Burung.

Warga setempat mengungkapkan dahulu pohon itu pernah roboh. Namun, suatu kali warga mendapati pohon itu berdiri kembali, seakan-akan tak ada keanehan yang pernah menimpa pohon tersebut.

Setibanya di pohon beringin, seorang wanita mengoles minyak bau-bau ke leher ayam yang berusia muda. Lalu, ayam itu dilempar ke atas untuk kemudian disambut oleh masyarakat yang menghadiri ritual adat yang sudah berlangsung ratusan tahun.

“Setelah dilempar dan ditangkap kembali oleh warga, ayam itu kemudian dipelihara,” kata H. Alimuddin, yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa Pulau Burung, kepada apahabar.com, Senin (16/09).

Tokoh masyarakat setempat, Hj. Harmawati, mengungkapkan ritual adat yang dinamakan “Mappanre Kampoeng” itu sudah dilakukan lima generasi. Hj. Harmawati sendiri merupakan tokoh pendidikan pendiri SDN Tunas Nelayan, satu-satunya sekolah di Pulau Burung.

Wanita yang masih memiliki hubungan keluarga dengan H. Maming itu menyebut Mappanre Kampoeng merupakan bentuk rasa syukur masyarakat setempat atas rezeki yang diberikan Tuhan.

Hj. Harmawati nampak sangat mencintai kampung halamannya. Ia menyebut tinggal di Pulau Burung memberikan ketenangan hidup. Namun, ia juga memiliki cita-cita pulau tersebut berdiri sejajar dengan daerah lain yang lebih maju.

“Di sini tenang. Saya sangat menikmati tinggal di sini,” katanya.

Desa Pulau Burung ditinggali 89 kepala keluarga dihuni oleh masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Setiap hari para nelayan menafkahi keluarganya dengan menangkap ikan bawal dan ikan kakap. Ikan hasil tangkapan itu lalu dijual kembali di pasar tradisional di wilayah Kecamatan Simpang Empat.

Desa Pulau Burung terus berkembang pesat. Sejak 2017, pemerintah desa membangun gazebo dan jembatan  untuk menarik minat para wisatawan. Faktanya, Desa Pulau Burung memang terus dikunjungi wisatawan setiap akhir pekan.

Untuk berkunjung ke pulau tersebut, wisatawan bisa naik kapal kecil dari Pelabuhan Borneo Kecamatan Simpang Empat sekira 20 menit. Tarifnya tak mahal, hanya Rp 20 ribu pulang pergi.

Tokoh masyarakat setempat, Abdul Muhaiming Siddiq, mengakui perkembangan Desa Pulau Burung sangat pesat. Ia mengaku senang melihat perkembangan dan makin banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Desa Pulau Burung.

“Media sosial juga banyak membantu memperkenalkan Pulau Burung kepada masyarakat luas,” kata pria yang akrab disapa Mimink Boy itu.

Untuk diketahui, Desa Pulau Burung merupakan tempat lahir H. Maming dari ibu bernama Ye’ Ra’dde dan ayah Ye’ Rahing. Seperti diketahui, H. Maming merupakan ayah dari Mardani H. Maming dan Syafruddin H. Maming.

Kepala Desa Pulau Burung, Saidina, membenarkan Mappanre Kampoeng merupakan syukuran masyarakat setempat yang setiap tahun memanen hasil dari sumber daya alam.

“Tiap tahun kami panen buah. Hasilnya lumayan karena menambah perekonomian masyarakat,” katanya.

Sementara terkait ritual yang dilakukan di pohon, Saidina menyebut hal itu dilakukan bukan untuk menyembah pohon, tetapi masyarakat berdoa kepada Tuhan yang maha esa. Ia mengatakan ayam yang dibagikan kepada warga sekadar ritual biasa untuk meramaikan acara.

“Kalau ayam itu hanya untuk meramaikan saja. Bagi siapa yang dapat, tahun depannya dibagikan lagi di acara,” jelasnya.

Melalui Mappanre Kampoeng, Saidina berharap makin banyak warga yang berkunjung ke desa tersebut. Ia membuka diri jika pemerintah daerah mau membantu mengembangkan potensi wisata dan budaya di Desa Pulau Burung.

apahabar.com

Salah satu sudut objek wisata Pulau Burung yang instagrammable. Foto-apahabar.com/Puja Mandela

Baca Juga: Breaking News!! Heboh, Warga Berangas Timur Tenggelam

Baca Juga: Nah, Baru Dilantik Anggota DPRD Kalsel Langsung Gadai SK

Reporter: Puja Mandela
Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Lensa Foto DPRD Banjarmasin Bulan April 2020
apahabar.com

Kalsel

Sampel Tembus 500, Banjarmasin Setop Swab Massal
apahabar.com

Kalsel

Luar Biasa! Sprinter Asal HST Raih Prestasi Internasional
Walhi Kalsel

Kalsel

Walhi Kalsel Beberkan Kemenangan Gugatan di MA Terhadap PT MCM
apahabar.com

Kalsel

Mengintip Langkah Koalisi Adil Makmur Pada Pilkada 2020 Kalsel
Ibnu Sina

Kalsel

Diminta Bawaslu Tahan Diri, Wali Kota Banjarmasin: Masa Cuma Tidur di Rumah
apahabar.com

Kalsel

Cari Tahu Tentang Pengelolaan Aset, Wakil Rakyat Madiun Sambangi DPRD Banjarmasin

Kalsel

Akan Berangkat ke Timur Tengah, Tiga TKI Ilegal Diamankan di Banjarbaru
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com