Target 1 Juta Barel, Pemerintah Siap Danai Penuh Survei Seismik 3D Positif Covid-19, Cepat Sembuh Ketum PBNU Said Aqil Rupiah Jaya, Dolar Jatuh ke Level Terendah Mobil Terbelah dan Terbakar di Grand Prix Bahrain, Pebalap Prancis Ini Lolos dari Maut Bukan Kereta Api! Nih 2 Proyek Strategis Nasional Andalan Jokowi di Kalsel 2020-2024

‘Mappanre Kampoeng’, Cara Masyarakat Pulau Burung Melestarikan Budaya Leluhur

- Apahabar.com Senin, 16 September 2019 - 18:10 WIB

‘Mappanre Kampoeng’, Cara Masyarakat Pulau Burung Melestarikan Budaya Leluhur

Masyarakat Desa Pulau Burung melakukan ritual adat Mappanre Kampoeng, Senin (16/09). Foto-apahabar.com/Puja Mandela

apahabar.com, BATULICIN – Suara gong terus berbunyi. Masyarakat Pulau Burung berjalan menuju sebuah pohon tua setinggi 70 meter. Butuh 20 orang dewasa untuk mengitari pohon raksasa itu.

Dari dermaga Desa Pulau Burung, Kecamatan Batulicin, pohon raksasa itu berjarak kurang lebih satu kilometer. Ada berbagai mitos yang menyelimuti pohon beringin yang di sisinya terdapat makam Datuk Syarifah dan Datuk Prema. Keduanya merupakan tokoh yang dianggap paling berjasa membangun Pulau Burung.

Warga setempat mengungkapkan dahulu pohon itu pernah roboh. Namun, suatu kali warga mendapati pohon itu berdiri kembali, seakan-akan tak ada keanehan yang pernah menimpa pohon tersebut.

Setibanya di pohon beringin, seorang wanita mengoles minyak bau-bau ke leher ayam yang berusia muda. Lalu, ayam itu dilempar ke atas untuk kemudian disambut oleh masyarakat yang menghadiri ritual adat yang sudah berlangsung ratusan tahun.

“Setelah dilempar dan ditangkap kembali oleh warga, ayam itu kemudian dipelihara,” kata H. Alimuddin, yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa Pulau Burung, kepada¬†apahabar.com, Senin (16/09).

Tokoh masyarakat setempat, Hj. Harmawati, mengungkapkan ritual adat yang dinamakan “Mappanre Kampoeng” itu sudah dilakukan lima generasi. Hj. Harmawati sendiri merupakan tokoh pendidikan pendiri SDN Tunas Nelayan, satu-satunya sekolah di Pulau Burung.

Wanita yang masih memiliki hubungan keluarga dengan H. Maming itu menyebut Mappanre Kampoeng merupakan bentuk rasa syukur masyarakat setempat atas rezeki yang diberikan Tuhan.

Hj. Harmawati nampak sangat mencintai kampung halamannya. Ia menyebut tinggal di Pulau Burung memberikan ketenangan hidup. Namun, ia juga memiliki cita-cita pulau tersebut berdiri sejajar dengan daerah lain yang lebih maju.

“Di sini tenang. Saya sangat menikmati tinggal di sini,” katanya.

Desa Pulau Burung ditinggali 89 kepala keluarga dihuni oleh masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Setiap hari para nelayan menafkahi keluarganya dengan menangkap ikan bawal dan ikan kakap. Ikan hasil tangkapan itu lalu dijual kembali di pasar tradisional di wilayah Kecamatan Simpang Empat.

Desa Pulau Burung terus berkembang pesat. Sejak 2017, pemerintah desa membangun gazebo dan jembatan  untuk menarik minat para wisatawan. Faktanya, Desa Pulau Burung memang terus dikunjungi wisatawan setiap akhir pekan.

Untuk berkunjung ke pulau tersebut, wisatawan bisa naik kapal kecil dari Pelabuhan Borneo Kecamatan Simpang Empat sekira 20 menit. Tarifnya tak mahal, hanya Rp 20 ribu pulang pergi.

Tokoh masyarakat setempat, Abdul Muhaiming Siddiq, mengakui perkembangan Desa Pulau Burung sangat pesat. Ia mengaku senang melihat perkembangan dan makin banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Desa Pulau Burung.

“Media sosial juga banyak membantu memperkenalkan Pulau Burung kepada masyarakat luas,” kata pria yang akrab disapa Mimink Boy itu.

Untuk diketahui, Desa Pulau Burung merupakan tempat lahir H. Maming dari ibu bernama Ye’ Ra’dde dan ayah Ye’ Rahing. Seperti diketahui, H. Maming merupakan ayah dari Mardani H. Maming dan Syafruddin H. Maming.

Kepala Desa Pulau Burung, Saidina, membenarkan Mappanre Kampoeng merupakan syukuran masyarakat setempat yang setiap tahun memanen hasil dari sumber daya alam.

“Tiap tahun kami panen buah. Hasilnya lumayan karena menambah perekonomian masyarakat,” katanya.

Sementara terkait ritual yang dilakukan di pohon, Saidina menyebut hal itu dilakukan bukan untuk menyembah pohon, tetapi masyarakat berdoa kepada Tuhan yang maha esa. Ia mengatakan ayam yang dibagikan kepada warga sekadar ritual biasa untuk meramaikan acara.

“Kalau ayam itu hanya untuk meramaikan saja. Bagi siapa yang dapat, tahun depannya dibagikan lagi di acara,” jelasnya.

Melalui Mappanre Kampoeng, Saidina berharap makin banyak warga yang berkunjung ke desa tersebut. Ia membuka diri jika pemerintah daerah mau membantu mengembangkan potensi wisata dan budaya di Desa Pulau Burung.

apahabar.com

Salah satu sudut objek wisata Pulau Burung yang instagrammable. Foto-apahabar.com/Puja Mandela

Baca Juga: Breaking News!! Heboh, Warga Berangas Timur Tenggelam

Baca Juga: Nah, Baru Dilantik Anggota DPRD Kalsel Langsung Gadai SK

Reporter: Puja Mandela
Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

6 Daerah di Kalsel Diwaspadai Hujan Berpetir Hari Ini
apahabar.com

Kalsel

Disidak DPRD, Dirut RSUD Ulin: Masyarakat Biasa dengan Ruangan Tak Ber-AC
apahabar.com

Kalsel

Debat Kandidat Pilwali Banjarmasin 2020: Khairul-Habib Pertama Datang, Ananda-Mushaffa Terakhir
apahabar.com

Kalsel

Masih Ada Pedagang Jualan di Pasar, Kades di Kotabaru Turun Tangan
apahabar.com

Kalsel

Alasan PAN Kalsel Rayu Zulkifli Hasan Merapat ke Jokowi
apahabar.com

Kalsel

Awal Desember, Banjarmasin Peringati Hari Disabilitas Internasional
apahabar.com

Kalsel

Rapid Test Rp 150 Ribu, Bandara Syamsudin Noor Sambut Positif
apahabar.com

Kalsel

Tiga Pilar Sidak Pasar Tanjung, Bupati Anang Bagikan Masker
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com