Hore! Listrik Gratis Diperpanjang hingga September Tak Punya Izin, Pemkot Banjarmasin Kembalikan Rp 200 Juta ke Pengusaha Advertising Positif Corona, Belasan Karyawan RSUD Banjarmasin Terpaksa Diistirahatkan Asyik Cari Korban Tenggelam di Barito Hulu, 5 Relawan Kesurupan! Direstui Gerindra, Eks Wamenkumham Pastikan Tiket ke Pilgub Kalsel




Home Religi

Rabu, 4 September 2019 - 06:00 WIB

Menengok Masjid Wadi Al Hussein, Saksi Mata Penyebaran Islam di Thailand

Uploader - Apahabar.com

Masjid Wadi Al Husein. Foto-antara

Masjid Wadi Al Husein. Foto-antara

apahabar.com, THAILAND – Jalan-jalan ke Thailand, menarik diamati peninggalan bersejarah perkembangan Islam di sana. Salah satunya, Masjid Wadi Al Husein.

Masjid yang terletak di Provinsi Narathiwat, Thailand Selatan, merupakan salah satu peninggalan dalam sejarah penyebaran Islam.

“Masjid ini dibangun pada 1014 Hijriah. Saat itu nama daerah ini masih di Teluk Manok,” kata Khatib Masjid Wadi Al Hussein, Yusuf (54) di Lubuk Sawo, Bachok, Narathiwat, Thailand, seperti dikutip apahabar.com dari Antara, Rabu (04/09).

Usia masjid tersebut kini telah mencapai lebih dari 300 tahun. Dan seiring berjalannya waktu, masjid ini telah dua kali mengalami perbaikan pada bagian pondasi masjid.

“Pertama kaki-kaki masjid yang dari kayu diperbaiki, namun karena termakan usia dan lapuk, pondasi kaki masjid ditambahi semen pada 1357 Hijriah,” ujar pria kelahiran di Pattani, Thailand ini.

Baca juga :  Ustaz Evie Effendi Kembali Berulah, Warganet Minta MUI Jabar Bertindak

Yusuf yang telah mengurusi masjid selama 25 tahun ini mengemukakan, penamaan masjid yang memiliki luas kurang lebih 180 meter persegi itu diambil dari nama orang yang membangun pertama kali.

“Dibangun oleh Wadi Al Hussein, alim ulama di sini pada masa dulu,” kata Yusuf.

Imam masjid saat ini adalah Ramli Talokding (63), yang merupakan generasi ketujuh Wadi Al Hussein.

Menurut dia, ada kedekatan emosional antara Wadi Al Hussein dengan salah satu wali nusantara yakni Sunan Ampel. Wadi Al Hussein konon ceritanya sepupu dengan Sunan Ampel dari Demak.

“Masjid ini pernah didatangi (katanya) Sultan Demak, Sultan Palembang. Dari Malaysia macam datuk-datuk datang untuk melihat,” ujarnya.

Masjid yang terbuat dari kayu itu terjadi terkesan sederhana dan mirip rumah panggung yang di atap sudut masjid dipasang beberapa kipas angin.

Baca juga :  Daging Kurban Bisa Jadi Haram Karena 3 Hal Ini

“Bangunan masjid menggunakan kayu yang orang Melayu sebut kayu cengah. Ada kolaborasi budaya Melayu dan Cina (di segi arsitektur masjid). Budaya Melayu nampak pada ukiran bunga yang ada di ujung-ujung atap. Budaya Cina nampak pada atap masjid,” jelas Yusuf.

Yusuf menyebutkan sempat terbersit niat memugar masjid agar lebih besar dan menampung lebih banyak umat, tetapi tidak jadi lantaran akan mengurangi keaslian arsitektur masjid.

“Mau (dibangun) lebih besar juga. Tapi lebih baik tetap menjaga keaslian. Untuk menjaga masjid ini diperlukan sifat sabar, kepandaian, bersatu padu, sifat ikhlas,” tambah Yusuf.

Baca Juga: Puluhan Ribu Jemaah Hadiri Haul Datu Sanggul ke-254

Baca Juga: Jemaah Haul Syekh Samman Meluber hingga Badan Jalan

Sumber: Antara
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Religi

Awal Tuan Guru Zainal Ilmi Menundukkan Kepala
Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan pada 24 April, Lebaran 24 Mei 2020

Habar

Simak Fatwa Muhammadiyah Soal Salat Tenaga Medis Covid-19
apahabar.com

Habar

Syiar Islam dari Masjid Lautze
apahabar.com

Habar

Tetap Gelar Ibadah Haji, Arab Saudi: Dengan Jemaah Terbatas
apahabar.com

Habar

PCNU Kabupaten Banjar Bentuk “Gerakan Sedekah Tolak Bala”, Ketua: Demi Kemanfaatan Bersama
apahabar.com

Hikmah

Cerita Angel Lelga yang Diterima Keluarga Setelah 10 Tahun Mualaf
apahabar.com

Habar

Hari Ini, Menag Update Info Haji 2020
apahabar.com

Habar

Masjid Al Karomah Masih Gelar Salat Jumat, Ketua MUI Banjar Beri Tanggapan
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com