Usai Kios Pasar Kuripan Dibongkar, Pemkot Banjarmasin Incar Ruko dan TPS Veteran BMW M1 milik mendiang Paul Walker “Fast and Furious” Dilelang Rumdin Kepala Kemenag HSU Ambruk ke Air, Begini Nasib Penghuninya 2 Segmen Rampung, Jembatan Bailey Pabahanan Tala Sudah Bisa Dilewati Kenakan Sarung, Mayat Gegerkan Warga Ratu Zaleha Banjarmasin

Mulai Layu, Penjual Tanaman Hias di Banjarbaru Menjerit

- Apahabar.com Kamis, 5 September 2019 - 13:24 WIB

Mulai Layu, Penjual Tanaman Hias di Banjarbaru Menjerit

Tanaman hias milik Misdah banyak yang mati akibat dampak kekeringan air di Landasan Ulin, Banjarbaru. Foto diambil pada Kamis, 5 September 2019. Foto-apahabar.com/Nurul Mufida

apahabar.com, BANJARBARU – Dampak kemarau mulai terasa. Sesuai prediksi BMKG, padahal puncak kemarau baru akan terjadi Oktober mendatang.

Dampak kemarau mulai dirasakan sejumlah penjual tanaman hias di Landasan Ulin, Banjarbaru.

Sejumlah tanaman yang tidak tahan terhadap cuaca panas pun mulai melayu.

Seorang penjual tanaman hias, Misdah mengatakan kekeringan air sudah dirasakannya selama 2 bulan. Namun terparah ada pada Agustus ini.

“Sekarang memang sulit cari air, rata rata sumur di sini sekali sedot untuk 1 hari lalu menunggu besok lagi untuk sedot air,” ujarnya.

“Biasanya saya siram tanaman 2 kali sehari pagi dan sore tapi sekarang satu kali sehari saja, dibagi bagi lah airnya,” sambungnya.

apahabar.com

Tanaman hias milik Misdah banyak yang mati akibat dampak kekeringan air di Landasan Ulin, Banjarbaru. Foto diambil pada Kamis, 5 September 2019. Foto-apahabar.com/Nurul Mufida

Ia juga mengatakan di musim kemarau ini sesekali menyalur air dari sumur tetangga untuk menyiram tanaman tanaman miliknya.

“Sekarang banyak yang mulai ngedalami sumurnya biar air tambah banyak. Saya juga dalamin sumur untuk keperluan air di rumah, tapi untuk di sini (tempatnya berjualan) hanya memanfaatkan air sumur seadanya,” lanjutnya.

Sementara itu, untuk tanamannya yang layu dan mati, karena memang kurang disiram.

“Tanaman yang mati itu karena kurang disiram, itu tugas keponakan saya, sedangkan karena air ini dibagi bagi kan jadi saya siram yang tugas saya saja” ungkapnya.

Meski ada tanaman yang mati namun ia mengatakan belum terjadi kerugian untuk usahanya tersebut.

“Belum sih kalau rugi, ini diusahakan untuk ngedalamin sumur lagi biar bisa disiram semua, pintar pintar kita lah cari air,” ujarnya mengakhiri.

Senada dengan Misdah, salah seorang warga, Ulfah juga mengatakan dirinya mulai kesulitan air.

“Ini musim kemarau ya, jadi wajarlah mulai terjadi kesulitan air, ini saya mau ngedalamin sumur 1 sampai 2 meter biar air ada terus,” pungkasnya. Untuk diketahui BMKG memperkirakan cuaca tahun ini lebih ekstrem daripada tahun lalu. BMKG memprediksi puncak kemarau akan berlangsung pada Oktober mendatang.

Baca Juga: Kemarau tak Ganggu Produksi Cabai

Baca Juga: Kemarau Tahun Ini Lebih Kering Dibanding 2019

Baca Juga: Kemarau di Tanbu; Sumur Kering, Warga Mandi di Danau

Baca Juga: Memasuki Kemarau, Petani Limau Keprok Terancam Gagal Panen

Reporter: Nurul Mufidah
Editor: Fariz Fadhillah

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

Kalsel

Jawab Kritikan, Polisi Siap Lanjutkan Kasus Penipuan Bupati Balangan
Pilkada

Kalsel

Jelang Pilkada, Pjs Bupati Kumpulkan Semua Camat di Kelumpang Hilir Kotabaru
apahabar.com

Kalsel

Gaet Ulama dan Mahasiswa, Gaung Save Meratus Makin Kencang
apahabar.com

Kalsel

Dinsos Kalsel Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Pekapuran
Birin

Kalsel

Tim Paman Birin Blunder Ancam Polisikan Warga Soal Banjir
apahabar.com

Kalsel

Setelah Umrah dan Ziarah Wali Songo, Ratusan Pasukan Kuning Terima Gaji ke-13
apahabar.com

Kalsel

Bawa Sabu, Polisi Tangkap Wanita Penjaga Warung Malam di Batara HST
apahabar.com

Kalsel

Tenggelam di Kolam, Pekerja Sawit Belum Ditemukan
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com