BREAKING NEWS: Wakil Rektor ULM Penuhi Panggilan Polda Kalsel 3 Proyek Jembatan di Banjarmasin Tak Ber-IMB, Inspektorat Turun Tangan Menyingkap Tabir Sejarah Banjar (1): Misteri Makam Demang Lehman Luna Maya Pakai Dress Rp 44 Juta dan Handbag Rp 383 Juta, Netizen Kira Mantan Ariel Noah Tenteng Kaleng Cat! Kejutan! OPIN Susul Insan Kotabaru Dukung 2BHD

Pabrik Minyak Saudi Diserang, Dunia Hadapi Krisis Pasokan

- Apahabar.com Minggu, 15 September 2019 - 20:31 WIB

Pabrik Minyak Saudi Diserang, Dunia Hadapi Krisis Pasokan

ladang minyak di Arab Saudi diserang. Foto – surabayapagi.com

apahabar.com, HOUSTON – Serangan drone atau pesawat tanpa awak yang dilakukan oleh kelompok Houthi terhadap pabrik pemrosesan utama minyak Arab Saudi, juga berdampak pada pasokan global.

Akibat serangan pada Sabtu (14/09) dunia menghadapi krisis pasokan minyak atas hilangnya lebih 5 persen pasokan global dari Arab Saudi yang merupakan pengekspor minyak terbesar dunia.

Seperti dikutip apahabar.com dari Republika, kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang menutup dua pabrik di fasilitas Abqaiq, jantung industri minyak Saudi.

Akibatnya, ini akan memangkas produksi minyak Saudi sekitar 5,7 juta barel per hari (bpd). Jumlah ini lebih dari setengah dari output kerajaan, menurut pernyataan dari Saudi Aramco, perusahaan minyak milik kerajaan.

Harga minyak mentah dapat melonjak beberapa dolar AS per barel ketika pasar dibuka pada Ahad malam karena penghentian produksi berkepanjangan.

Hal tersebut dapat mendorong Amerika Serikat dan negara-negara lain untuk melepaskan minyak mentah dari cadangan minyak strategis (SPR) mereka untuk meningkatkan stok komersial secara global. Departemen Energi AS mengatakan pada Sabtu bahwa pihaknya siap untuk melepaskan minyak dari cadangan strategisnya jika diperlukan.

“Harga minyak akan melonjak atas serangan ini, dan jika gangguan terhadap produksi Saudi diperpanjang, rilis SPR tampaknya mungkin dan masuk akal,” kata Jason Bordoff, direktur pendiri Pusat Kebijakan Energi Global di Universitas Columbia di New York.

Masih terlalu dini untuk mengetahui tingkat kerusakan pada pabrik pengolahan dan rantai pasokan Saudi yang membawa minyak mentah dari ladang minyak ke fasilitas ekspor. CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, mengatakan perusahaan akan memiliki lebih banyak informasi dalam waktu 48 jam, karena perusahaan itu sedang berupaya untuk mengembalikan produksi minyak yang hilang.

Aramco mengekspor lebih dari 7 juta barel per hari (bph) minyak mentah tahun lalu, dengan hampir tiga perempat dari ekspor minyak mentahnya dikirim ke pelanggan di Asia tahun lalu. Negara ini memiliki cadangan sekitar 188 juta barel, atau kira-kira 37 hari kapasitas pemrosesan Abqaiq, menurut catatan dari Rapidan Energy Group.

Kapasitas cadangan yang dimiliki oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak untuk memasok konsumen jika terjadi kekurangan produksi yang signifikan telah menurun selama beberapa dekade karena ladang-ladang minyak yang menua telah kehilangan kapasitas produksi.

Sebanyak 2,3 juta barel per hari kapasitas cadangan efektif Arab Saudi pada bulan Agustus menyumbang lebih dari dua pertiga dari persediaan OPEC yang sebesar 3,2 juta barel per hari. Sebagian besar sisanya berasal dari Kuwait dan Uni Emirat Arab, menurut Badan Energi Internasional.

Rusia mungkin memiliki kapasitas cadangan menyusul pakta internasional antara OPEC dan sekutunya untuk membatasi produksi dalam mendukung harga minyak mentah, kata para analis. Cadangan Minyak Bumi Strategis AS saat ini memiliki sekitar 644 juta barel, menurut Departemen Energi AS, kira-kira setara dengan 52 hari produksi AS.

Pemadaman berkepanjangan dapat memacu produksi dan ekspor yang lebih tinggi dari AS. Tetapi butuh berbulan-bulan bagi perusahaan AS untuk merespons sinyal harga karena keterbatasan logistik

AS sekarang memproduksi lebih dari 12 juta barel per hari dan mengekspor lebih dari 3 juta barel per hari. Akan tetapi tidak jelas apakah fasilitas ekspor AS dapat menangani pengiriman tambahan.

“Setiap hari fasilitas ditutup, dunia kehilangan 5 juta barel lagi produksi minyak. Kapasitas cadangan dunia bukan 5 juta barel per hari,” kata Andy Lipow, presiden Lipow Oil Associates.

Baca Juga: KLHK Segel 2 Lokasi Kebakaran Lahan Perusahaan di Kalteng

Baca Juga: Mengenang Mendiang Rozien, Santri asal Banjarbaru yang Tewas Ditusuk di Cirebon

Baca Juga: Kebanyak Perziarah Selfie di Makam BJ Habibie, Sekuriti Kemensos Mulai Siaga

Sumber: Republika
Editor: Aprianoor

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Nadiem Ungkap 3 Alasan Penunjukannya sebagai Mendikbud
apahabar.com

Nasional

Tragedi Ledakan Berantai di Beirut: Puluhan Tewas, Ribuan Luka-Luka, Satu WNI
apahabar.com

Nasional

Lanjutkan Olah TKP Kebakaran Gedung Kejagung, Polisi Periksa 19 Saksi
apahabar.com

Nasional

2019, Layanan ‘Dokter Terbang’ Kaltara Sentuh 2.107 Warga
apahabar.com

Nasional

Ditahan 20 Hari, Bareskrim Dalami Motif Tersangka Penyiram Novel
apahabar.com

Nasional

Kabut Asap, Masyarakat Juga Diminta Waspada Rabies
apahabar.com

Nasional

Jalan Terjal Pencarian Korban Longsor di Kotabaru
apahabar.com

Nasional

‘Diserang’, Jokowi Tak Ambil Pusing
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com